Jumat, 24 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Menumbuhkan Budaya Baca di SDN 2 Ledok, Salatiga

Minggu, 15 Oct 2017 18:07 | editor : Ali Mustofa

Sri Handayani, S.Pd, Kepala SDN 2 Ledok,  Salatiga, Jawa Tengah (50732)

Sri Handayani, S.Pd, Kepala SDN 2 Ledok, Salatiga, Jawa Tengah (50732) (DOK PRIBADI.)

SEPINYA perpustakaan sekolah dari pengunjung merupakan indikator minimnya minat baca siswa. Hal ini terjadi karena berbagai hal, seperti siswa yang tidak tertarik buku, guru tidak tanggap terhadap problem ini dan sebagainya.

Dengan membaca kita bisa mengetahui dunia. Di negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Finlandia. Masyarakat terbiasa memanfaatkan waktu senggangnya untuk membaca. Tidak mengherankan kalau kemajuan negara-negara tersebut begitu pesat karena Sumber Daya Manusia (SDM)-nya hebat. Kehebatan karena salah satunya mereka terbiasa membaca. Membaca bukan hanya hobi, tapi kebutuhan. Betapa hebatnya Bangsa Indonesia, kalau semua rakyatnya berbudaya membaca.

Bertolak dari keprihatinan melihat kenyataan minimnya minat baca anak-anak Indonesia. Khususnya siswa–siswi SDN 2 Ledok, Kota Salatiga ini, dengan harapan agar mereka bisa menjadi SDM yang siap memimpin bangsa.

Maka sekitar dua tahun ini, SDN 2 Ledok, Kota Salatiga, berupaya untuk bisa menumbuhkan budaya membaca dengan cara, antaranya promosi buku yang sudah dibaca guru kepada siswa supaya tertarik pada buku tersebut. Kemudian mengadakan bazar buku perpus di depan kelas, membuat pojok baca di setiap teras kelas, mengadakan gerakan wajib membaca buku cerita 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Kemudian, menerapkan gerakan mengisi format GLS untuk setiap buku yang telah dibaca siswa, bekerja sama dengan perpusda, mengadakan gerakan menyumbang buku cerita yang sudah selesai dibaca pada perpustakaan sekolah, mengadakan lomba bercerita dan menulis sinopsis di Oktober, mendirikan gazebo baca, mengoptimalkan fungsi perpustakaan sekolah dalam Proses Belajar Mengajar (PBM).

Menumbuhkan budaya baca bagi siswa, bukanlah hal mudah. Diperlukan kesabaran, kegigihan, dan komitmen semua pihak. Apabila semua siswa sudah memiliki budaya baca, maka sampai kapan pun membaca akan menjadi kebutuhan mereka. Dengan demikian generasi cerdas yang bakal kita panen di tahun emas Indonesia, sudah ada di depan mata.

(ks/top/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia