Selasa, 21 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
Pendiri Rumah Belajar Cemerlang

Sulap Ruang Tamu Jadi Perpustakaan Mini

Kamis, 12 Oct 2017 06:16 | editor : Ali Mustofa

BERSAMA POLISI:  Lisna (paling kanan) bersama anak didiknya foto bersama Bhabinkamtibmas Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, belum lama ini. Bhabinkamtibmas memberikan pengetahuan tentang keamanan dan ketertiban masyarakat.

BERSAMA POLISI: Lisna (paling kanan) bersama anak didiknya foto bersama Bhabinkamtibmas Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, belum lama ini. Bhabinkamtibmas memberikan pengetahuan tentang keamanan dan ketertiban masyarakat. (DOK. PRIBADI)

 Lisnaatul Faundiyah, tak hanya tekun dan pekerja keras. Diusianya yang baru 22 tahun sudah mampu mendirikan rumah belajar. Bahkan baru satu tahun berdiri, sudah ada tiga cabang di Jepara. 

MUHAMMAD KHOIRUL ANWAR, Kota

LISNAATUL FAUNDIYAH atau biasa disapa Lisna tampak di ruang tamu yang disulap menjadi perpustakaan membacakan cerita di depan anak-anak beberapa waktu lalu. Ia memegang buku cerita anak sambil berinteraksi dengan peserta didiknya.

Tidak hanya buku cerita, sesekali ia mengambil buku bahasa Inggris. Sambil menuliskan beberapa kosa kata di papan tulis, Lisna membaca pengucapan dalam bahasa Inggris. Beberapa anak yang didominasi siswa Sekolah Dasar itu menirukan pengucapan Lisna.  

Gadis kelahiran Jepara, 14 Juli 1995 ini dibantu lima relawan sebagai pengelola Rumah Belajar Cemerlang. Bermodal nekad, demi keberlangsungan pendidikan anak-anak yang jauh dari keramain kota. Dia dirikan Rumah Belajar Cemerlang untuk anak-anak yang ingin belajar banyak hal yang tidak diketahui di sekolah formal.

Lokasinya di RT 07/RW 03, Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo. Tempat belajarnya cukup sederhana. Memanfaatkan ruang tamu yang disulap menjadi ruang belajar sekaligus perpustakaan berukuran 3 × 4 m.

Rumah Belajar Cemerlang dia dirikan berawal dari anak-anak tetangga yang belajar bareng. Mereka belajar di ruang tamu, pertama kali datang hanya empat orang.  “Lama-lama mereka nyaman lalu mengajak teman-teman sekolah lain. Belum ada satu bulan jumlah anak yg belajar mencapai 30 anak. Kemudian aku punya ide untuk membuatkan wadah (sanggar belajar). Tercetuslah nama Rumah Belajar Cemerlang,” jelas putri pasangan Kosim dan Sumarti ini.

Awalnya hanya belajar pelajaran sekolah, namun sekarang mulai ditambah program belajar seperti menanam yg diberi nama Fun Gardening. Membuat kreativitas dari barang bekas yg diberi nama creation day, belajar basis komputer, dan menggambar.                       

“Dengan adanya sanggar belajar (RBC) ini diharapkan bisa memfasilitasi anak-anak desa dalam belajar. Terutama memperkuat pemahaman tentang mata pelajaran di sekolah. Selain itu belajar hal yang belum diajari sekolah seperti berkebun, basis komputer. Ini semua agar anak desa tidak kalah secara fasilitas dengan anak kota. Karena saya pikir semua anak berhak mendapatkan pengetahuan dan belajar dengan fasilitas sama,” paparnya.

Sampai saat ini sudah ada enam puluh anak yang belajar di RBC. Sekarang sudah membuka cabang di Desa Wonorejo, Desa Sinanggul, dan Desa Suwawal. Waktu pembelajaran biasanya pukul 19.00. Sedangkan program tambahan dilaksanakan setelah pulang sekolah.

Menurut perempuan yang juga menjadi guru di SD Semai Jepara ini, permasalahan yang semakin kompleks menuntut kesiapan dunia pendidikan untuk mengantisipasinya. Permasalahan tersebut tidak seutuhnya tanggung jawab sebuah lembaga pendidikan formal atau sekolahan.

“Selain permasalahan tersebut, otak dan penalaran seorang anak tidak cukup hanya dibina untuk memahami mata pelajaran di sekolah saja, perlu adanya bimbinga untuk mengasah skill dan kreatifitas yang lain. Hal ini berkaitan dengan ketertarikan dan bakat anak berbeda-beda. Apalagi di era sekarang persaingan skill dan kreativitas tidak bisa di hindari dan generasi muda harus mampu mengikuti hal tersebut, jika tidak mau tertinggal oleh perkembangan zaman,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Seperti RBC juga sudah dilengkapi dengan perpustakaan sebagai rumah baca yang bisa digunakan untuk umum. Dengan harapan meningkatkan minat baca pada anak-anak dan masyarkat. Mengingat pepatah jika buku adalah gudang ilmu, buku adalah jendela dunia. Maka diharapkan anak-anak mampu mendapat banyak ilmu dan mampu membuka jendela dunia dengan membaca buku. Jika di sekolahan atau di desa dan Kota Jepara sudah ada perpustakaan, tetapi tidak selalu dapat diakses oleh semua anak-anak desa karena waktu, kondisi dan jarak yang tidak memungkinkan.

Disinggung kendala dalam mengembangkan rumah belajar ini, Lisna –sapaan akrabnya- mengatakan masih kesulitan mendapatkan dukungan dari pemerintah desa setempat karena lembaganya belum berbadan hukum. “RBC tidak menggantungkan bantuan dari satu pihak. Inisiatif mengajukan proposal ke Perpustakaan Daerah atau ke percetakan. Ini adalah wujud pengenalan literasi buku di kalangan anak-anak,” pungkasnya. 

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia