Kamis, 23 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
Janda yang Merawat Tiga Anak Gangguan Jiwa

Hidupi Ekonomi Keluarga dari Jualan Nasi Keliling

Rabu, 11 Oct 2017 12:35 | editor : Ali Mustofa

MEMPRIHATINKAN: Mbok Jampi merawat ketiga anaknya yang mengalami gangguan jiwa seorang diri.

MEMPRIHATINKAN: Mbok Jampi merawat ketiga anaknya yang mengalami gangguan jiwa seorang diri. (Polsek Welahan For Radar Kudus)

Kasih sayang seorang ibu pada anak-anaknya memang tak terhingga. Hal ini ditunjukkan Mbok Jampi, janda berusia 65 tahun ini merawat tiga anaknya yang mengalami gangguan jiwa. Setahun terakhir dia merawat ketiga anaknya seorang diri dengan upahnya hasil berjualan nasi keliling.

 FEMI NOVIYANTI, Welahan

MESKI usianya sudah tak lagi muda, namun Mbok Jampi tetap bekerja keras. Selain untuk menyambung hidup, alasan terbesarnya untuk tetap berjuang yakni ketiga anaknya.

Ketiga anaknya itu yakni Sutrisno, 40; Suheri, 35, serta Margono. Ketiganya mengalami gangguan jiwa sehingga sulit berkomunikasi dan harus dirawat secara khusus.

Mengenai awal mula gangguan jiwa pada ketiga anaknya, perempuan yang tinggal di RT 3/RW 1, Desa Kendeng Sidialit, Kecamatan Welahan ini, menceritakan, ketiga anaknya itu sebenarnya terlahir normal sebagaimana dua anak lainnya. ”Ada lima anak. Anak pertama dan kedua perempuan dan saat ini ikut suami masing-masing,” katanya.

Gangguan jiwa dialami anak-anaknya saat sudah lulus SD dan bekerja. Yang pertama kali mengalami gangguan itu yakni anak ketiganya Sutrisno, 40. Kejadiannya sudah cukup lama yakni sekitar 1983.

Kala itu Sutrisno sebenarnya sudah bekerja membuat roti di Jakarta. Namun Sutrisno tiba-tiba kembali ke rumah. ”Dia cerita, takut melihat teman kerjanya mengalami kecelakaan karena terkena mesin penggilingan,” ungkapnya.

Setelah pulang ke rumah, Sutrisno terlihat sering linglung. Dia juga mulai sulit diajak berkomunikasi. ”Berlangsung demikian sampai saat ini,” tuturnya.

Tak hanya Sutrisno, anak keempatnya Suheri kemudian menunjukkan gejala yang sama. Dia ikut terlihat linglung. Suheri juga sering mengamuk.

Kondisi Sutrisno dan Suheri itu memberikan tekanan bagi adiknya yakni Margono. Margono yang semula baik-baik saja, ikut memikirkan kedua kakakanya. Dia juga ikut terguncang dan menjadi linglung. ”Yang terakhir, dia ikut memikirkan kakak-kakaknya. Dia merasa malu dan sering diam,” jelasnya.

Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan Mbok Jampi dan suaminya Supangat, 70, saat masih hidup. Dia mengupayakan pengobatan. Mulai dari pengobatan tradisional hingga ke rumah sakit dengan bantuan pihak desa. Namun upaya itu belum membuahkan hasil.

Sampai akhirnya suami Mbok Jampi meninggal setahun lalu. Kondisi itu membuat bebannya semakin berat karena harus banting tulang mengurus ketiga anaknya seorang diri.

Terlebih selama ini, Mbok Jampi mengaku masih jarang mendapatkan bantuan. Dia mengaku hanya pernah mendapat bantuan sembako dari karangtaruna dan Polsek Welahan.

Belakangan kondisi Mbok Jampi turut menyita perhatian banyak pihak. Termasuk dari pihak Polsek Welahan. Kapolsek Welahan AKP Rismanto menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi keluarga Mbok Jampi dengan mengunjungi dan memberikan bantuan sembako. Pihak desa juga didorong untuk mencari solusi untuk meringankan beban Mbok Jampi.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia