Selasa, 21 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
Peraih Medali Emas Olimpiade Guru Nasional 

Sempat Terlambat Lomba karena Tertinggal Pesawat

Rabu, 04 Oct 2017 23:25 | editor : Ali Mustofa

Mukhsinin

Mukhsinin (DOK PRIBADI)

Karir Mukhsinin sebagai guru fisika cukup bagus. Dia warga asli Kabupaten Banyumas. Kini menjadi guru SMPN 1 Pati. Prestasinya cukup gemilang. Salah satunya berhasil meraih medali emas Olimpiade Guru Nasional Mapel IPA SMP Nasional 2017 di Jakarta.

SRI PUTJIWATI, Pati

LELAKI satu ini seorang guru mapel fisika di SMPN 1 Pati. Banyak siswa yang menyukainya. Gaya mengajarnya gampang dicerna. Siswa juga tidak merasa jenuh ketika menerima pelajaran darinya. Dia juga dikenal cerdas.

Bahkan saking cerdasnya, dia berhasil meraih medali emas Olimpiade Guru Nasional untuk Mapel IPA tingkat SMP tahun 2017. Dia mengalahkan puluhan guru lainnya dari seluruh Indonesia. Ada 34 peserta dari mapel IPA yang berasal dari berbagai provinsi.

“Awalnya saya mengikuti seleksi di tingkat kabupaten. Alhamdulillah mendapatkan juara I. Kemudian melaju ke tingkat provinsi dan kembali mendapatkan juara I. Dengan perolehan itu, meskipun sudah berusaha keras, sebenarnya saya tidak percaya kok bisa mendapatkan juara,” kata suami dari Aries Farida Nursanti ini kemarin.

Dari tingkat provinsi, lalu mengikuti OGN di tingkat nasional yang diikuti sebanyak 34 guru di bidang IPA di Jakarta pada 25-29 September lalu. Selain IPA, juga ada matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan guru SD. Pada tingkat nasional, dia mengikuti tes tulis, tes praktikum, tes presentasi, dan tes membuat artikel.

Ketika mengikuti tes, warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo Pati ini sempat kesulitan mengerjakan soal mapel biologi karena basic pendidikannya fisika. Jadi, dia butuh belajar dan mengerjakan soal dengan lebih keras. ”Ada pengalaman tidak terlupakan saat lomba, yakni kami dari kontingen Jawa Tengah terlambat boarding sehingga harus membeli tiket penerbangan berikutnya. Alhasil, kami terlambat mengikuti upacara. Sampai Jakarta upacara pembukaan sudah mulai,” kenangnya.

Kendati demikian, alumni Pascasarjana Pendidikan Fisika Unnes Semarang ini dapat mengerjakan dengan maksimal. Mukhsinin tak berambisi mendapatkan juara. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia justru memperoleh medali emas. Mengalahkan puluhan guru lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia.

“Bangga dan senang juga. Tidak menyangka saja kalau mendapatkan medali emas. Apalagi lawan saya guru muda dan energik. Wong masuk 10 besar saja sudah alhamdulillah. Eh ini malah mendapatkan medali emas. Perolehan ini dapat memotivasi saya untuk terus berjuang di dunia pendidikan. Sebelumnya pernah mendapatkan juara I Olimpiade Sains Guru tingkat kabupaten dan juara III Forum Ilmiah Guru tingkat kabupaten,” ujarnya.

Berbagai prestasinya itu tidak lepas dari perjuangan menempuh pendidikan. Pria kelahiran Banyumas, 30 april 1974 ini dari keluarga pas-pasan. Namun beruntung, Mukhsinin mempunyai orang tua peduli terhadap pendidikan anaknya. Orang tuanya merupakan guru SD dengan gaji pas-pasan pada zaman dulu.

“Dengan gaji guru SD dulu, orang tua menguliahkan ketiga anaknya. Betapa berat perjuangan mereka. Sehingga saya dan saudara saya termotivasi kuliah yang baik dan tidak boleh mengecewakan mereka. Mereka berjuang dan rajin berpuasa Senin-Kamis. Saya juga harus mengajar part time di sela-sela kuliah untuk menambah uang saku,” ungkapnya.

Dia mengajar sampai lulus S1 pada 1998 lalu. Setelah lulus kuliah, alumni SMAN 1 Ajibarang Banyumas ini langsung bertolak ke Pati dan langsung diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun itu juga. Kini selain mengajar, Mukhsinin juga menulis buku suplemen MGMP SMP Pati. 

(ks/lil/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia