Selasa, 21 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
Pengusaha Sukses di Bidang Kecantikan

Pernah Rasakan Jualan Krem dari Salon ke Salon

Rabu, 04 Oct 2017 22:46 | editor : Ali Mustofa

Endah Rahmawati

Endah Rahmawati (Dok. Pribadi)

 Sejak duduk di bangku sekolah, Endah Rahmawati sudah akrab dengan dunia kecantikan. Dia sempat memasarkan produk kecantikan dari satu salon ke salon lain. Dia juga pernah bekerja di salon usai pulang sekolah. Berkat ketekunannya, saat ini dia sukses mengembangkan dua usaha kecantikan di Jepara.

 FEMI NOVIYANTI, Pecangaan

PUSAT kecantikan milik Endah Rahmawati terlihat tertata rapi. Dia mendesain tempat itu dengan gaya minimalis. Di beberapa sisi, dia menambahkan lampu-lampu yang semakin mempercantik pusat kecantikan miliknya.

Tak hanya desain tempat yang menarik, dia juga memiliki banyak alat kecantikan canggih di tempat tersebut. Mulai alat kecantikan untuk perawatan wajah, rambut hingga berbagai treatment lainnya.

Selain mengembangkan pusat kecantikan, dia juga mengembangkan sanggar rias. Lokasinya berdampingan dengan pusat kecantikan miliknya. Sebagaimana salon, sanggar riasnya juga didesain sedemikian rupa untuk membuat pengunjung nyaman.

Terkait awal mula usahanya di bidang kecantikan, perempuan kelahiran Jepara, 22 Juni 1994 ini menceritakan, awalnya kondisinyalah yang menuntut dirinya kreatif. ”Dulu sewaktu lulus SMP kedua orang tua bercerai dan saya ikut ibu. Karena ibu harus membiayai sekolah saya dan adik saya, keadaan menuntut saya mandiri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Perempuan yang saat ini menempuh pendidikan di Unisnu Jepara tersebut melanjutkan, saat SMA dia mulai berjualan baju dan cream wajah. Dagangan baju dipinjam dari toko-toko di pasar dan cream diambil dari tantenya yang kebetulan dokter sekaligus pemilik klinik kecantikan. ”Baju dan cream wajah saya jual ke teman sekolah dan ke guru sekolah. Sepulang sekolah saya datang ke salon-salon untuk menitipkan dagangan cream,” terangnya.

Endah menyampaikan, dia juga memberanikan diri melamar kerja part time sepulang sekolah. ”Saya bantu-bantu di salon. Waktu itu diupah Rp 5 ribu. Semua itu saya lakukan agar bisa punya uang saku dan meringankan beban ibu bayar sekolah,” terangnya.

Lulus SMA, Endah menyatakan, dia diterima bekerja di salah satu Bank BPR. Saat itulah dia mulai membuka salon kecil-kecilan  di rumah. ”Pagi sampe sore kerja di bank, sore sampe malem buka salon,” urainya.

Beberapa waktu kemudian, dia merasa lebih cocok berwirausaha daripada jadi pegawai. Karena itu setelah masa kontrak satu tahun di bank, dia memutuskan resign dan fokus di usaha salon. Saat awal buka salonnya hanya di dalam rumah. Ruang keluarga difungsikan jadi salon kecil-kecilan dengan alat seadanya. ”Kemudian lama-lama semakin besar. Saat ini sudah berjalan empat tahun,” katanya.

Setahun terakhir, perempuan yang tinggal di Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, tersebut mulai merambah ke dunia tata rias. ”Alhamdulillah job rias pengantin sampai rias wisuda dan pesta selalu ramai. Antusiasnya melebihi dugaan saya,” ujarnya.

Di dunia rias, Endah menceritakan, awalnya dia suka dandan dan makeup teman-temannya. Lama-lama dia berniat kursus rias pengantin di perias lokal senior Jepara agar tahu pakem nya riasan adat sampai belajar make up ke make up artist (MUA) ibukota yang sedang tenar saat ini. ”Saya belajar pada Dean, Vizzily, dan Inivindy,” terangnya.

Endah mengaku bersyukur saat ini job make up sudah membeludak dan salon makin ramai. ”Bersyukur selalu kebanjiran job sampai bingung atur waktu antara job make up, kuliah, salon dan keluarga,” pungkasnya.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia