Sabtu, 25 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
Islam di Lasem dari Zaman Majapahit (2)

Sunan Kalijaga Pernah Berguru di Bonang

Sabtu, 30 Sep 2017 12:05 | editor : Ali Mustofa

TOKOH BERPENGARUH: Makam Mbah Sambu, ulama yang didatangkan Adipati Tedjakusuma I untuk menjaga masjid dan berdakwah.

TOKOH BERPENGARUH: Makam Mbah Sambu, ulama yang didatangkan Adipati Tedjakusuma I untuk menjaga masjid dan berdakwah. (KHOLID HAZMI/RADAR KUDUS)

DAKWAH Islam yang diawali oleh Adipati Wirabajra kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Wiranegara. Tapi, Wiranegara hanya lima tahun berdakwah sekaligus memimpin Kadipaten Bonang Binangun. Penyebaran Islam dilanjutkan oleh Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang. Dengan Makdum Ibrahim itulah, Raden Syahid atau Sunan Kalijaga menimba ilmu.

PELOPOR ISLAM: Ketua Fokmas Lasem Ernantoro ketika berada di makam Adipati Wirabajra. Dia merupakan Bupati Kadipaten Bonang-Binangun yang menjadi cikal bakal Islam di Lasem.

PELOPOR ISLAM: Ketua Fokmas Lasem Ernantoro ketika berada di makam Adipati Wirabajra. Dia merupakan Bupati Kadipaten Bonang-Binangun yang menjadi cikal bakal Islam di Lasem. (KHOLID HAZMI/RADAR KUDUS)

Menginjak usia remaja, putra Adipati Wirabajra bernama Wiranegara mondok ke pesantren milik Sunan Ampel di Tuban. Tujuannya agar Wiranegara bisa mendalami Islam dan meneruskan perjuangan Wirabajra.

Semasa mondok itulah, Wiranegara kenal dengan anak Sunan Ampel bernama Putri Maloka. Keduanya akhirnya menikah. Lama menimba ilmu dengan Sunan Ampel, Wirabajra meminta anaknya untuk pulang ke Bonang.

Siapa sangka, Wirabajra meminta Wiranegara menggantikan posisinya sebagai bupati Kadipaten Bonang Binangun. Wiranegara menjadi Adipati pada tahun 1454. Dia tak lama menjabat. Hanya lima tahun. Adipati Wiranegara meninggal dunia setelah menderita sakit.

Jabatan bupati di Kadipaten Bonang Binangun sementara diisi oleh istrinya, Putri Maloka. Namun, Putri Maloka juga tak lama menjadi adipati sementara. Dia memutuskan untuk pergi ke arah selatan atau Lasem.

Sedangkan wilayah Bonang Binangun diserahkan kepada Makdum Ibrahim. Yang juga anak dari Sunan Ampel, atau adik dari Putri Maloka. Di Lasem, Putri Maloka bertemu dengan Santi Puspo.

Keduanya masih saudara sepupu. Ayah Santi Puspo, yakni Santi Badra merupakan adik dari Wirabajra. Keduanya kemudian merintis Lasem menjadi kadipaten. Saat itu, pusat pemerintahan Lasem berada di timur alun-alun.

Tapi, sekarang sama sekali tak ada bekas bangunan kadipaten itu. Lokasi yang dahulu menjadi kadipaten pertama Lasem telah berubah drastis. Dijadikan dealer sepeda motor. Lokasinya persis di pinggir jalan pantura Lasem.

Setelah kadipaten terbentuk, Putri Maloka dan Santi Puspo memutuskan pindah ke Caruban. Sekarang masuk wilayah Desa Gedongmulyo, Lasem. Keduanya ternyata saling mencintai.

Bukti cinta keduanya ditunjukkan dengan keberadaan tujuh sumur di sekitar Pantai Caruban. Sejarawan Fokmas Lasem Ernantoro menyebutkan, keberadaan tujuh sumur identik dengan pertanda cinta. Namun, tak disebutkan apakah Putri Maloka dan Santi Puspo menikah atau tidak.

Tujuh sumur itu hingga kini masih ada. Ketujuh sumur itu membentuk garis lurus dari makam Santi Puspo ke makam Putri Maloka. Kedua makam itu berjarak sekitar 500 meter. Bentuk sumurnya persegi. Dinding masing-masing sumur punya panjang satu meter. Airnya pun masih ada.

”Pernah ada orang Hindu dari Bali ke sini mengambil air. Ternyata rasanya tidak asin, meskipun dekat dengan laut,” ungkapnya.

Sebagai anak pertama dari Santi Badra, Santi Puspo melaksanakan tanggung jawabnya untuk merawat adik-adiknya. Karena, sang ayah yang saat itu masih memeluk Hindu berkelana hingga ke Lombok.

Salah satu adik Santi Puspo yang memeluk Islam adalah Santi Kusumo. Dia merupakan anak kesepuluh dari Santi Badra. Bersama kakaknya, Santi Kusumo diajarkan berbagai hal.

Mulai dari memancing ikan di laut, hingga ilmu perbintangan. Dari Santi Puspo itulah, Santi Kusumo menguasai ilmu perbintangan. Pada usia 19 tahun, dia mondok ke pesantren milik Sunan Ampel di Tuban.

Bertemu dengan Sunan Ampel, Santi Kusumo justru diminta mengganti namanya menjadi Raden Syahid. Karena dia masih keturunan bangsawan dari Prabu Hayam Wuruk. Tak lama menimba ilmu di sana, dia diminta Sunan Ampel pergi ke Bonang.

Bertemu dengan anaknya, Makdum Ibrahim yang saat itu sudah berdakwah di Desa Bonang, Lasem. Oleh Makdum Ibrahim, Raden Syahid diminta pergi ke pinggir sungai kecil. Tak jauh dari tempat pasujudan Makdum Ibrahim.

Di sungai kecil itulah, Raden Syahid bertafakur. Makdum Ibrahim pun akhirnya memberi julukan jogo kali kepada Raden Syahid. Lokasi tafakur Raden Syahid sebelum menjadi Sunan Kalijaga itu hingga kini masih ada.

Untuk menuju lokasi tafakur itu butuh sedikit perjuangan. Lokasinya memang satu kompleks dengan pasujudan Sunan Bonang. Dari pintu masuk, harus naik 77 anak tangga. Kemudian di kanan ada satu rumah warga. Sama sekali tak ada petunjuknya. Masuknya lewat samping rumah itu.

Namun kondisi tempat tafakur Raden Syahid itu tak terawat. Tempatnya berada di bawah pohon besar. Buahnya seperti ciplukan, tapi pohonnya besar. Bukan juga pohon kolang kaling seperti yang banyak diceritakan dalam legenda.

Tempatnya teduh. Sekelilingnya banyak pohon bambu besar. Sungai yang dulu dijaga oleh Raden Syahid pun masih ada. Tapi kering, tidak ada airnya. Jika ada airnya, alirannya dari pasujudan hingga menuju Sungai Regol yang dahulu jadi pelabuhan.

Ernantoro mengungkapkan, dahulu di lokasi itu ada sendangnya. Sekarang sendang itu sudah tak ada lagi wujudnya. Diganti dengan dinding-dinding tembok. Ada sumurnya satu. Tapi sudah tak ada lagi airnya. Di dalam sumur, hanya tampak dedaunan kering. Padahal, beberapa tahun lalu sumur itu dimanfaatkan oleh warga di sekitar pasujudan.

Lama bertafakur di pinggir sungai, Raden Syahid diajak oleh Makdum Ibrahim menuju Demak sekitar tahun 1475. Keduanya bertemu tujuh ulama lain. Yakni, Raden Fatah, Sunan Ampel, Sunan Giri, Syeh Jumadil Kubro, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Drajat.

Kerajaan Demak sudah lama dirintis sebelum pertemuan itu. Dalam pertemuan itulah, Raden Fatah ditunjuk menjadi raja di Kerajaan Demak. Dia pun membagi wilayah kekuasaan kepada para ulama yang hadir. Disesuaikan dengan wilayah dakwahnya saat itu.

Dalam pertemuan itu juga, Makdum Ibrahim dan Raden Syahid mendapatkan gelar sunan dari Raden Fatah. Karena lokasi dakwahnya di Desa Bonang, Makdum Ibrahim mendapat julukan Sunan Bonang.

Sedangkan Raden Syahid mendapat gelar Sunan Kalijaga. Nama Kalijaga sesuai dengan julukan yang diberikan Makdum Ibrahim ketika bertafakur. Namun, Sunan Kalijaga saat itu tak menetap di satu lokasi untuk berdakwah.

”Peran Sunan Kalijaga lebih seperti bagian perhubungan, yang harus pindah dari tempat satu ke tempat lain,” jelas Ernantoro.

(ks/lid/ali/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia