Jumat, 22 Sep 2017
radarkudus
Kudus

Tembus Rp 23 Ribu Per Tabung, Gelar Operasi Pasar

Rabu, 13 Sep 2017 11:19 | editor : Panji Atmoko

ANTREAN MENGULAR: Masyarakat terlihat antusias membeli gas melon di halaman Kantor Kecamatan Jekulo Kudus saat ada operasi pasar yang digelar Dinas Perdagangan kemarin.

ANTREAN MENGULAR: Masyarakat terlihat antusias membeli gas melon di halaman Kantor Kecamatan Jekulo Kudus saat ada operasi pasar yang digelar Dinas Perdagangan kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

 KUDUS – Kelangkaan gas melon di Kudus membuat resah masyarakat. Mereka mengeluh kesulitan mencari elpiji 3 kg ketika di rumahnya habis. Termasuk para pedagang yang selama ini berjualan. Ada yang terpaksa tutup beberapa hari karena kesulitan mencari gas melon tersebut.

”Saya sudah keliling mencari gas. Sampai ke pangkalan habis semua. Bingung juga. Harga berapapun kalau ada saya beli karena memang butuh. Kepepet banget,” kata Aminah, warga Desa/Kecamatan Mejobo.

Menurutnya, selain langka, harga gas melon melambung tinggi. Di daerahnya mencapai Rp 23 ribu. Meski begitu, hal itu tidak menjadi maslaah baginya selama barangnya masih ada. ”Lah ini, sudah mahal, langka lagi,” tegasnya.

Akibat langka dan harganya yang melambung, dari Dinas Perdagangan berusah amengantisipasinya. Bersama agen gas melon, mereka menggelar operasi pasar (OP). Hari pertama dilaksanakan dua tempat kemarin. Yakni di Kecamatan Mejobo dan Jekulo.

Kepala Dinas Perdagangan Sudiharti melalui Kabid Fasilitasi Perdagangan Promosi dan Perlindungan Konsumen Imam Prayetno mengatakan, OP digelar hingga Jumat (15/9) mendatang. Rencananya tersebar sembilan kecamatan.

”Masing-masing kecamatan dapat jatah OP sebanyak 1 LO atau 560 tabung. Upaya ini diharapkan bisa membantu masyarakat mendapatkan elpiji bersubsidi tersebut. Kami sudah melakukan penyisiran. Rata-rata memang mengeluh susah mendapatkan gas,” jelasnya.

Bulan ini pihaknya mendapatkan penambahan alokasi elpiji 3 kg fakultatif sebanyak 16 LO atau 8.960 tabung. ”Untuk penyebab kelangkaan gas bersubsidi ini, diperkirakan adanya permintaan dari konsumen meningkat,” ucapnya.

Dia mengatakan, masyarakat panik sehingga berlomba-lomba mendapatkan elpiji 3 kg. Untuk keperluan rumah tangga biasanya ada dua stok tabung gas, bahkan bisa sampai lima tabung. ”Apalagi untuk masak punya gawe, gas yang dibutuhkan cukup banyak. Sehingga, pembelian elpiji 3 kg langsung diborong sehingga barang cepat habis. Padahal, pengiriman gas ke pangkalan juga tidak ada keterlambatan. Hanya jumlah permintaan yang bertambah,” imbuhnya.

Saat OP kemarin juga kedatangan tim pengawasan dari Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tengah bidang Standarisasi dan Perlindungan Konsumen. Kasi Tertib Niaga Sri Wahyuningsih mengatakan, kebutuhan gas bersubsidi memang krusial dan rawan kecurangan di tingkat pangkalan.

”Kami hanya sebatas pengawasan, harga sudah sesuai atau tidak dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Rp 15.500 per tabung. Pengawasan dari agen ke pangkalan, kalau sudah sampai ke pengecer sudah urusan pemerintah daerah,” jelasnya.

(ks/san/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia