Rabu, 20 Sep 2017
radarkudus
Features
Juara I Terobosan Ide Gila Pertamina 2017

Limbah Sagu Dibikin Bioetanol untuk Pengganti BBM

Rabu, 13 Sep 2017 09:10 | editor : Ali Mustofa

Genius: M. Luqman Hakim (paling kiri) bersama para penerima penghargaan lainnya.

Genius: M. Luqman Hakim (paling kiri) bersama para penerima penghargaan lainnya. (Dok. Pribadi)

Resah dengan pencemaran limbah sagu yang tidak dapat diuraikan, M.Luqman Hakim berinisiatif membikin bioetanol. Bioetanol ini bisa untuk bahan bakar minyak (BBM) motor. Dirinya meneliti sejak 2013. Kini bioetanol dari limbah sudah dapat ia produksi. Karena ide ini, dia memenangkan kompetisi energi terbarukan dari Pertamina 2017.

 NOOR SYAFAATUL UDHMA, Mlonggo

 PEMUDA satu ini memang gila. Betapa tidak? resah dengan pencemaran limbah sagu di Desa Plajan, Kecamatan Mlonggo, Jepara membuatnya membikin ide gila. Ide ini muncul lantaran limbah atau ampas sagu yang digunakan oleh industri sagu tidak dapat terurai. Ampasnya pun berada di pinggir sungai dan mencemari lingkungan. Untuk itu dia pun membikin ide gila dengan mengubahnya menjadi bioetanol atau BBM untuk motor.

Penampilannya bersahaja. Tutur katanya santun dan sopan. Terbukti saat mendapatkan pertanyaan, pemuda satu ini menjawab santai. Tidak terprovokasi atau tersinggung. Begitulah sepintas sosok M. Luqman Hakim.

Hakim-sapaan akrabnya menceritakan ide gilanya ini muncul pada 2013. Saat itu, dia ingin meneliti ampas sagu. Mengetahui dapat dimaanfaatkan menjadi BBM. Dia mulai bereksperimen dengan ampas sagu.

Dengan bantuan temannya, dia mulai membikin bioetanol. Bioetanol ini adalah energi terbantukan yang terbuat dari bahan yang memiliki kandungan glukosa. Hasilnya dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Sama halnya seperti pertamax, pertalite, atau premium.

Awalnya dia memulai dengan men- didelignifikasi (mengurai lignin) ampas sagu dengan gliserol. Tujuannya mengurai lignin (serabut sagu). Griserol sendiri adalah limbah yang diproduksi dari biodisel. Karena sama-sama limbah, Hakim pun mencoba mengawinkan keduanya. Dari hasil perkawinan terbentuklah etanol.

 ”Sebetulnya bioetanol ini tidak hanya dari sagu. Bisa juga dari tebu, jagung, atau padi. Pokoknya bahan-bahan yang memiliki glukosa. Namun melihat limbah sagu mencemari lingkungan, membuat saya memilih ide ini,” ungkapnya.

Dia mengaku, biasanya pembuatan bioetanol menggunakan bahan murni. Misalnya gunakan jagung atau tebu. Namun kali ini dia memilih ampasnya. Alasannya tentu karena pencemaran lingkungan. Yang pakai ampas namanya biotanol generasi kedua. ”Untuk kualitas juga nomor dua,” jelasnya.

Usai bereksperimen, dia mengikuti kompetisi Ide Gila dari Pertamina. Kompetisi ini diikuti semua profesi. Mulai dari anak SMA, mahasiswa, dosen, hingga profesor. Pesertanya juga ribuan. ”Kalau tidak salah ada 6.342 peserta dari berbagai profesi,” papar lelaki semester 4 jurusan S2 Biologi Universitas Diponegoro ini.

Tak disangka, ide gila yang muncul karena keresahan ini akhirnya memenangkan kompetisi mengalahkan dosen dan profesor. Hakim pun dinobatkan menjadi juara I kategori terobosan ide gila 2017 pertamina. ”Nggak nyangka juga sebetulnya. Alhamdulillah,” tuturnya.

Sejumlah ahli pun menjadi dewan juri. Mulai dari Executive Director Indonesia Climate Change Trust  Fund (ICCT F) Erwin Widodo, dan Yoris Sebastian sebagai Creative Expert serta beberapa juri berkompeten lainnya.

Seandainya diajak Pemkab Jepara untuk mengelola limbah sagu, dia mengaku siap menjalankan tugas. Bahkan dia juga sudah memiliki tim pengolah ampas sagu ini. ”Kalau pemkab menghendaki kami pasti bisa,” jelas lelaki yang berdomisili di RT 4/RW 2, Desa Welahan ini.

Saat ini lelaki kelahiran Jepara, 11 Januari 1994 ini sibuk menyelesaikan tesis dan berbisnis. Diceritakan, sejak menjadi mahasiswa S1, dia sudah menekuni bisnis konveksi di Semarang. Selain itu juga membuka binis tour and travel yang menawarkan trip ke seluruh Indonesia.

Kendati memenangkan lomba tentang energi terbarukan, dia mengaku lebih minat menjadi pebisnis bukan peneliti. Sebab dia senang berniaga karena banyak manfaatnya bagi orang lain. ”Jadi saya bisa buka lapangan usaha bagi orang lain. Menurut saya itu jauh lebih berguna ketimbang hanya menambah ilmu sendiri,” katanya.

Ke depan dia berharap pemkab Jepara dapat memperhatikan limbah sagu yang mencemari lingkungan. Sebab jika terjadi terus menerus, warga sekitar sungai yang akan terkena dampaknya.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia