Kamis, 23 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Pati

Terancam Puso, Butuh Gelontoran Air Waduk

Selasa, 12 Sep 2017 10:10 | editor : Ali Mustofa

DIBENDUNG: Petani Desa Banjarsari, Gabus masih membendugn Sungai Silugonggo karena tak kunjung ada gelontoran air Sungai Silugonggo.

DIBENDUNG: Petani Desa Banjarsari, Gabus masih membendugn Sungai Silugonggo karena tak kunjung ada gelontoran air Sungai Silugonggo. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

MARGOREJO – Kekeringan sudah melanda kawasan pertanian. Para petani merasa resah kekurangan air untuk pengairan areal sawah. Sementara ini pengusulan penggelontoran Waduk Kedungombo sudah diusulkan. Namun pihak waduk belum berkenan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati Muhtar Efendi sudah menghubungi pihak pengelola Waduk Kedungombo supaya dipercepat jadwal penggelontorannya supaya kebutuhan air untuk pertanian terpenuhi. Akan tetapi, dari pihak waduk tidak menerima usulan tersebut. Sehingga pihaknya hanya bisa menunggu penggelontoran air di waduk sesuai jadwal.

“Bahkan, Pak Bupati sendiri sudah meminta untuk percepatan penggelontoran air. Namun tetap tidak bisa. Untuk itu, kami hanya bisa menunggu beberapa hari lagi jadwal penggelontoran air yang rencananya akan dilaksanakan pada 15 September ini,” jelasnya kemarin.

Salah satu daerah yang sawahnya tak mendatapkan pengairan di Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus. Menurut salah satu warga setempat Budi,  mengaku saat ini hasil pertanian para petani di desa itu tidak segar seperti biasanya. Meski kondisi tanaman padi belum mati, namun kurang bagus.

Apalagi, di beberapa desa masih membendung Sungai Silugonggo supaya mendapatkan air tawar untuk pengairan. Sehingga desa lainnya yang berdampak seperti di Desa Mintobasuki ini kesulitan mendapatkan air tawar. Biasanya, lanjut Budi, sebelum sungai dibendung kalau malah hari para petani bisa mengairi sawah.

“Namun kini masih dibendung, jadi baik siang atau malam hari airnya asin karena airnya terhalang bendungan sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Tanaman padi kini sudah merapuh, dikawatirkan kalau tidak segera diairi maka akan puso semua,” katanya.

Sementara itu Kamelan Petani asal Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo mengaku resah lantaran sebanyak 15 hektar sawah di daerahnya hingga kini belum diairi air. Apalagi, kini tanaman padinya sudah berusia 40 hari. Ia kawatir jika hingga pertengaha September ini tak kunjung ada hujan atau gelontoran air, maka akan gagal panen.

“Tanaman kami belum mendapatkan gelontoran air. Sumber irigasi yang digunakan untuk saluran irigasi dari Sungai Silugonggo juga tidak bisa. Kami hanya berdoa semoga secepatnya turun hujan. Sebab kalau menunggu Waduk Kedungombo akan lama,” keluhnya.

(ks/put/him/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia