Kamis, 21 Sep 2017
radarkudus
Features
Sekretaris Project Manager PLTU Jepara

Belajar Hangeul untuk Komunikasi dengan Orang Korea

Jumat, 08 Sep 2017 10:30 | editor : Ali Mustofa

Hilda Maisyarah

Hilda Maisyarah (Dok. Pribadi)

Bekerja dengan orang Korea sempat membuatnya kesulitan berkomunikasi. Sebab sebagian dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Agar mampu bekerja dengan maksimal, Hilda Maisyarah belajar bahasa Korea dan hangeul selama beberapa bulan.

 NOOR SYAFAATUL UDHMA, Jepara

 PEREMPUAN satu ini suka tantangan. Misalnya naik gunung dan melawan badai debu selama delapan jam di puncak gunung. Alasannya sederhana, hanya ingin mendaki gunung.

Hilda Maisyarah pun menceritakan keseruannya naik gunung. Saat masih kuliah, dia mengaku naik Gunung Andong, Magelang. Karena tidak terlalu tinggi dari gunung lain, dia pun menyanggupi ajakan temannya. Karena musim kemarau, dia pun terkena badai debu selama delapan jam. Tak hanya itu, tenda miliknya juga tersapu angin. Beruntung tendanya tidak terlalu jauh dari lokasi semula.

”Tapi saya nggak kapok naik gunung. Seru soalnya. Apalagi lihat sunrise di atas awan itu keren banget,” ungkapnya.

Hilda-sapaan akrabnya-mengaku memang memiliki hobi traveling. Tak heran, dirinya kerap traveling ke berbagai tempat, khususnya wisata alam.

Perempuan kelahiran Jepara, 6 Mei 1993 itu saat ini bekerja di PT Bhumi Jati Power PLTU Tanjung Jati B unit 5 & 6 sebagai sekretaris project manager. Kendati memiliki posisi strategis, dia mengaku sempat mengalami kesulitan berkomunikasi. Sebab seluruh tim kerjanya orang Korea.

Hilda mengaku bekerja dengan 25 laki-laki warga asli Korea. Setiap ada rapat, mereka selalu menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi. Sebab warga Korea kesulitan menggunakan bahasa Inggris, sedangkan Hilda tidak bisa bahasa Korea. Jadi selama bekerja, mereka menggunakan Google translate saat bercakap. Karena kesal, Hilda pun memutuskan untuk belajar bahasa Korea dan hanguel.

”Habisnya jengkel. Setiap rapat pakai bahasa isyarat. Kadang harus buka Google translate. Paham sih, cuma kan lama juga. Akhirnya saya belajar bahasa Korea deh,” papar perempuan yang berdomisili di RT 3 RW 1, Jalan Mlati 02, Bangsri, Jepara ini.

Untuk mempelajarinya, Hilda tidak kursus. Selain tidak punya waktu, di Jepara tidak ada kurses bahasa Korea. Dia pun belajar otodidak. Mulai dari membaca buku, melalui  internet, dan sesekali melalui drama korea (drakor). Hasilnya lumayan. Dalam beberapa bulan, dia mengaku sudah bisa berbahasa Korea.

”Pokoknya bisa langsung praktik. Soalnya ada orang Korea langsung. Modalnya cuma pede aja,” katanya.

Namun dalam beberapa bulan belajar tidak langsung lancar. Dia mengaku masih terbata-bata. Misalnya waktu bilang kalimat joh an haru deosyo yang artinya have a nice day yang ternyata salah. ”Cuma mereka senang banget saya bisa komunikasi dengan bahasa Korea. Meski kadang salah,” paparnya.  

Dia juga menuturkan ada perbedaan antara bekerja dengan orang Korea dan Jepang. Dia mengaku kalau bekerja dengan orang Korea harus kerja cepat dan multitasking. Sedangkan kalau bekerja dengan orang Jepang itu harus disiplin. ”Orang Korea itu kalau kerja harus cepat. Kalau orang Jepang, telat dikit bisa-bisa kena marah,” tuturnya.

Tak hanya jago bahasa Korea, Hilda juga jago bahasa Inggris. Bahkan dia pernah menjadi juara II debat Inggris Kabupaten Jepara 2010. ”Belajar bahasa itu memang penting. Bahasa apapun. Entah bahasa Jawa, bahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa lainnya,” imbuhnya.

(ks/aji/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia