Selasa, 12 Dec 2017
radarkudus
icon featured
Grobogan

Pintu Waduk Kedung Ombo Ditutup

Bakal Dibuka Kembali Oktober

Sabtu, 26 Aug 2017 10:25 | editor : Ali Mustofa

MASA PERBAIKAN: Pintu WKO ditutup selama satu bulan karena dalam masa perbaikan saluran irigasi.

MASA PERBAIKAN: Pintu WKO ditutup selama satu bulan karena dalam masa perbaikan saluran irigasi. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

 GEYER – Pintu intake Waduk Kedung Ombo (WKO) di Desa Rabat, Kecamatan Geyer, ditutup. Tujuannya, untuk pemeliharaan prasarana sumber daya air. Penutupan pintu WKO ini, dimulai sejak 1 sampai 31 Agustus mendatang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan Subiyono mengatakan, penutupan pintu intake WKO adalah pemeliharaan rutin setiap tahun. Hanya, untuk tahun ini penutupan sudah dimulai sejak 1 Juli lalu. Sebab, ada pembangunan saluran irigasi yang dialiri WKO.

”Pintu intake WKO akan dibuka kembali pada 1 Oktober mendatang, bertepatan dengan musim tanam (MT) I dengan aliran 70 meter kubik per detik,” kata Subiyono.

Dikatakan, hal ini sesuai dengan hasil kesepakatan rapat koordinasi alokasi air balai pekerjaan umum sumber daya air dan penataan ruang Serang Lusi Juana pada 10 Agustus lalu. Hal ini juga untuk persiapan pelaksanaan MT I. Meliputi di daerah irigasi Sidorejo, Klambu Kiri, dan Sedadi yang dimulai 1 Oktober mendatang. Sedangkan daerah irigasi Klambu Kanan, Klambu Wilalung, dan Sedadi arah saluran induk mulai dibuka 15 September mendatang.

”Selama masa pengeringan (penutupan intake, Red), petani diimbau agar menanam palawija dan membuat anggelan (bendungan kecil, Red) untuk menampung air hujan. Air tampungan ini bisa dibuat ngocor tanaman palawija,” terangnya.

Subiyono menambahkan, petani juga diminta agar bisa menyesuaikan MT I. Di mana penanaman bisa dimulai lebih awal, yakni Oktober mendatang. Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar pekerjaan irigasi di saluran WKO, bisa diselesaikan sebelum pintu WKO dibuka.

WKO sendiri, merupakan salah satu bendungan terbesar yang dibangun pemerintah dan diresmikan Presiden Soeharto pada 1991. Selama ini, waduk ini mampu mengairi sawah irigasi teknis di Grobogan melalui Bendung Sedadi 7.080,5 hektare, Bendung Sidorejo 6.038 hektare, Bendung Klambu 878,7 hektare, dan Bendung Lanang 1.900 hektare. Adanya waduk ini, menjadikan Kabupaten Grobogan sebagai produsen padi terbesar di Jawa Tengah.

(ks/mun/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia