Rabu, 20 Sep 2017
radarkudus
Pati

Bingung Bayar Kuliah Anak

Nasib Nasabah KSU AJM Tanpa Kejelasan

Sabtu, 15 Jul 2017 11:15 | editor : Ali Mustofa

MENGHILANG: Kantor KSU AMJ saat masih buka belum lama ini. Kini para karyawan KSU AMJ di Jalan KH Mansyur Juwana tak lagi berangkat ke kantor.

MENGHILANG: Kantor KSU AMJ saat masih buka belum lama ini. Kini para karyawan KSU AMJ di Jalan KH Mansyur Juwana tak lagi berangkat ke kantor. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

PATI – Nasib korban Koperasi Simpan Usaha Artha Jaya Mandiri (KSU AJM) tidak jelas. Mereka resah dengan nasib uang yang telah disimpan di koperasi itu tersebut. Meski saat ini proses penyidikan koperasi milik Karji dan Endang itu masih berlangsung.

Kantor KSU AJM juga tutup usai penggeledahan. Kondisi itu membuat nasabah kebingungan mengadu ke siapa tentang uang yang disimpan. Padahal, jumlah yang disetorkan ke KSU sangat banyak, tetapi tidak jelas bisa dikembalikan atau tidak.

Salah satu anggota KSU AJM, warga Kecamatan Juwana yang tak ingin disebut namanya, kebingungan dengan nasib uang yang disimpan di koperasi sekitar dua tahun. Ibu rumah tangga ini awalnya kepincut dengan deviden dua persen per bulan. Dengan rayuan para marketing koperasi, dia menabungkan sejak pertengahan 2015 lalu.

Perempuan berhijab itu menyimpan Rp 40 juta. Uang itu hasil dari kerja keras suaminya yang menjadi buruh pabrik kelontong di Juwana. Dengan penyimpanan di koperasi, dia mendapatkan keuntungan Rp 800 ribu. Harapan uang itu untuk membiayai anaknya kuliah.

“Kepincut karena melihat deviden. Lumayan untuk menambah biaya kuliah anak per bulannya. Kalau macet begini belum tahu lagi mau bagaimana,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Jawa Tengah Warsono saat dihubungi mengatakan, belum mengetahui jelas tentang KSU AJM. Dia mengaku, beberapa koperasi di Pati bermasalah dan direkomendasikan ditutup lantaran tidak sesuai aturan.

“Masyarakat saat ini semakin banyak tergiur deviden koperasi. Sedianya mereka cerdas kalau ingin menginvestasikan uang di koperasi. Tidak ada kata nasabah bagi masyarakat yang menabung di koperasi. Mereka namanya anggota, jika ingin menjadi nasabah harus menabungkan uangnya di bank,” teganya.

Menurutnya, koperasi itu milik anggota. Uang mereka yang menghidupi koperasi. Pengurus dan pengawasnya hanya bertugas mengurus dan mengawasi saja. Koperasi itu tidak bisa menjamin keamanan uang anggota. Sebab, pemilik koperasi sejatinya adalah anggota. Anggota yang menjamin keamanan uangnya sendiri.

“Masalahnya, masyarakat hanya tahu koperasi itu bunganya tinggi, utangnya gampang, dan prosesnya cepat. Kalaupun menginvestasikan uang di koperasi, harus jeli memilih. Misalnya kalau mau memilih koperasi bertanya dulu ke dinas terkait supaya diarahkan mana koperasi yang sehat,” ungkapnya.

(ks/put/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia