Jumat, 19 Jan 2018
radarkudus
Kudus

Edarkan Pil Kuning ke Pelajar SMK

Sabtu, 11 Feb 2017 11:55

Edarkan Pil Kuning ke Pelajar SMK

NARKOBA: Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai menunjukkan barang bukti pil kuning saat gelar perkara di Mapolres Kudus kemarin. (ABDUL ROCHIM/RADAR KUDUS)

 

KOTA – Kasus dugaan pengedar obat hexymer alias obat kuning Anggi Muhammad Prasetyo akan diteruskan ke Kejaksaan Negeri Kudus. Warga RT 2 RW 2, Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara, ini ditangkap karena diduga mengedarkan pil kuning ke pelajar.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai yang didampingi Kasatnarkoba AKP Sukadi menerangkan tersangka diamankan Selasa (10/1) lalu di rumahnya sekitar pukul 19.00. Petugas mendapati barang bukti yang sama, yakni ratusan obat kuning.

Dari hasil penyidikan, lanjut Andy, kasus ini bermula saat oknum pelajar SMK berinisial LF diketahui menyimpan obat kuning di sekolah oleh guru. Kejadian itu dilaporkan dan dikembangkan Satnarkoba Polres Kudus. “Dari pengakuan pelajar tersebut, mendapatkan barang pil itu dari Anggi. Setelah kami telusuri, memang benar terbukti,” katanya.

Saat ini tersangka mendekap dalam jeruji penjara Mapolres Kudus. Setelah kelengkapan berkas selesai akan dilanjutkan ke Kejaksaan Negeri Kudus. Tersangka diancam hukuman penjara maksimal delapan tahun. Tersangka akan dijerat dengan pasal 204 ayat 1 KUHP atau pasal 198 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Barang bukti yang berhasil disita berupa 650 pil hexymer. Polisi juga meyita sebuah handphone bermerek Nokia warna hitam lengkap beserta nomor yang digunakan transaksi.

 Kasatnarkoba AKP Sukadi menambahkan, obat tersebut bersifat memabukkan dan adiktif. Pengonsumsi itu dapat mengakibatkan meninggal dunia bila terlalu banyak meminum obat kuning tersebut.

Penelusuran Jawa Pos Radar Kudus, pil heximer itu merupakan obat keras. Obat tersebut dapat disalahgunakan untuk mabuk. Bila pengguna menenggak satu butir obat kuning, tidak akan berdampak. Paling tidak untuk memberikan reaksi, pengguna mengonsumsi sedikitnya 10 butir.

Harganya juga terjangkau. Tidak heran, bila penggunanya anak muda. Satu kemasan berisi 10 butir dipatok harga Rp 30 ribu. “Dengan pengungkapan kasus diharapkan memberikan efek jera. Disamping itu, kami melakukan penyuluhan dan deklarasi antinarkoba,” katanya.  (him/ris)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia