Jumat, 19 Jan 2018
radarkudus
Jepara

Tetap Temukan Pencari Kerja Memalsukan Ijazah

Selasa, 09 May 2017 08:00

Tetap Temukan Pencari Kerja Memalsukan Ijazah

CARI LOKER: Para pemuda sibuk mengisi AK 1 di Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Jepara. (MIFTAHUL ARIFIN/RADAR KUDUS/JAWAPOS.COM)

KOTA - Angka pencari kerja di Jepara naik tajam. Belum setahun, angka pencari kerja tahun ini meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan tahun lalu.

Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas pada Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Jepara Amrina Rosyida mengatakan, selama tiga tahun terakhir jumlah pencari kerja sesuai permintaan AK 1 mengalami kenaikan. Terlebih tahun ini, kenaikan drastis.

Selama 2015 pencaker yang tercatat sebanyak 6. 821 orang. Tahun 2016 meningkat menjadi 6. 900 orang. Sementara tahun ini berjumlah 7.060 orang. Terhitung mulai Januari hingga kemarin. ”Setiap hari ada sekitar 50 hingga 60 orang yang datang meminta AK 1,” katanya.

Amrina mengatakan, syarat membuat kartu AK 1 di antaranya foto copy ijazah terakhir, E-KTP, dan mencantumkan foto pribadi. Selain itu pemohon diharuskan datang sendiri. Amrina menyatakan,  pihaknya perlu memeriksa dokumen personal pencari kerja yang dibawah ke dinas. Karena tak jarang para pencari kerja ditemukan memalsukan ijazah. Pemalsuan ijazah hampir dipastikan ada setiap hari.

”Mereka pakai ijazah orang lain yang sudah tidak terpakai lalu namanya diganti dengan namanya sendiri. Ada yang merubah nama ada juga yang hanya merubah tempat tanggal lahir,” katanya.

Amrina menyatakan, kondisi ini berlangsung lama. Pihak sudah sering memberi peringatan dan menolak permohonan tersebut. Yang bersangkutan diminta mengganti dokumen tersebut. Namun, fenomena penggunaan ijazah palsu ini masih terus terjadi.

”Mungkin karena teman atau tetangganya ada yang terlewat dan lolos di dunia kerja, sehingga mereka juga ikut menggunakan. Karena itu kami juga sudah meminta kepada perusahaan agar memverifikasi betul dokumen yang mereka setorkan,” katanya.

Amrina menilai, penggunaan ijazah palsu ini salah satunya dipicu pertumbuhan pabrik di Jepara. Sementara dari sisi umur, pekerja dibatasi yaitu minimal 18 tahun dan maksimal 35 tahun. Akhirnya, warga Jepara bekerja di sektor lain yang tak butuh ijazah berubah haluan jadi pekerja pabrik. Dia pun memalsukan dokumen.

”Di satu sisi kalau kami amati mind set orang Jepara memang belum siap menghadapi dunia industri. Berbeda dengan Semarang atau Ungaran. Mind mereka sudah bekerja di pabrik sejak kecil. Kalau di Jepara baru peralihan dan mereka belum siap,” katanya. (pin/zen)

 

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia