Rabu, 13 Dec 2017
radarkediri
icon featured
Features
Dimas Andhika, Media Officer Persedikab Kediri

Bikin Desain Logo Jersey tanpa Tinggalkan Sejarah Klub

Kamis, 07 Dec 2017 19:05 | editor : Adi Nugroho

dimas andhika - radar kediri

KREATIF: Dimas dengan desain jersey klasik Persedikab buatannya yang dipakai di laga Anniversary Day Legend Match saat di kafe Omawalet, Pare. (ADI NUGROHO - RadarKediri/JawaPos.com)

Gagal tiga kali dalam tiga kali seleksi pemain Persedikab bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Apalagi bagi suporter sejati seperti Dimas. Tapi tak ada kata sakit hati. Kini, dia justru mengabdi dengan cara lain.  

ADI NUGROHO

“Saya nggak dibayar di sini,” ujar Dimas Andhika Pramayuga lalu tersenyum. Menurutnya, menjadi bagian Persedikab Kediri memang cita-citanya. Makanya, kendati tak mendapatkan pemasukan, pria asli Jalan Lawu, Kecamatan Pare ini bangga menjadi bagian dari klub yang sangat dicintainya. Walau bukan menjadi pemain.

Ya, pria kelahiran 2 Agustus 1989 ini adalah bagian dari manajemen Persedikab Kediri musim ini. Tepatnya sebagai media officer. Tugas utamanya berkomunikasi dengan media dan membentuk citra atau brand untuk klub. Tak heran, namanya pun kerap menghiasi koran atau media online.

Meski saat menjalani Liga 3 Indonesia musim ini, banyak tugas tambahan yang harus ia kerjakan. “Tapi saya senang. Bangga rasanya bisa berkontribusi untuk Persedikab. Meski hasilnya, ya belum bisa dibilang memuaskan,” paparnya saat ditemui di kafe di dekat Stadion Canda Bhirawa, Pare.

Bersama Dentama Ardiratna, marketing officer Persedikab, alumnus Universitas Negeri Malang ini termasuk orang baru di manajemen Persedikab. Awalnya, Dimas hanya mengenal Persedikab sebagai suporter.

Sebagai anak asli Pare, setiap hari ia memang bergelut dengan Persedikab. Melihat Persedikab berlatih dan bermain adalah hobinya tiap sore, sepulang sekolah. Apalagi, sepak bola memang olahraga yang digandrunginya. Dari anak gawang hingga seleksi menjadi pemain pernah dilakoni.

Setidaknya, tiga kali Dimas pernah mencoba seleksi pemain Persedikab junior. Mulai 2003 sampai 2005 ia selalu mendaftar dan ikut seleksi. Sayang, dalam seleksi yang dipandu Sugianto, pelatih Persedikab waktu itu, ia selalu gagal. ”Pengennya memang menjadi pemain, sempat nyoba beberapa kali seleksi. Tapi nggak lolos,” kenangnya lantas tertawa.

Cita-cita itu sempat kabur saat ia kuliah di Malang. Mengambil jurusan desain komunikasi visual, Dimas disibukkan oleh aktivitasnya di kampus. Apalagi ia juga aktif dalam badan eksekutif mahasiswa (BEM). Setelah lulus, Dimas pun lebih aktif dalam dunia sinematografi dan jurnalistik. Sepak bola hanya menjadi hobi.

Namun penggilan datang di akhir tahun 2016. Kala itu, Persedikab sedang bersiap menuju Liga 3. “Saya merasa terpanggil untuk ikut terlibat,” paparnya.

Sebenarnya, saat itu passion Dimas, bukan masuk manajemen. Melainkan ikut sayembara jersey yang digelar Persedikab Kediri. Tim berjuluk Bledug Kelud ini sedang menggelar lomba membuat jersey tim. Dimas pun tertantang. Mengingat, kuliah yang selama ini diikutinya memang berkaitan dengan desain mendesain.

Dimas melakukan riset kecil-kecilan. Mulai soal desain hingga warga jersey yang bisa mere-branding klub yang bermarkas di Stadion Canda Bhirawa Pare ini. “Soal warna saya benar-benar serius memikirkannya. Karena Persedikab belum punya warna yang benar-benar khas. Pernah pakai biru, strip (garis-garis, Red), merah, hingga oranye,” ujarnya.

Singkat cerita, dari hasil risetnya, warna merahlah yang ia pilih. Desainnya pun tak main-main. Mulai dari baju, celana, hingga kaus kaki, ia buat desain dan filosofinya. Bahkan sampai garis kecil putih dan hitam yang menghias bagian lengan dan kerah.

Hasilnya, desain keren Dimas pun terpilih sebagai pemenang. Manajemen melihat ide yang dituangkan Dimas dalam jersey tersebut cocok dengan semangat tim yang diisi pemain muda.

Usai itu, hubungannya dengan manajemen tim makin rekat. Dimas pun digandeng untuk membuat logo baru tim. Selama ini, logo yang terpasang di dada kiri jersey adalah logo lama Persedikab yang tak pernah berganti dari masa ke masa. Desainnya dianggap tinggalan zaman. Logo lama ini mirip dengan logo Kabupaten Kediri dengan desain bintang di bagian atas yang diganti dengan bola. Itu saja.

Mendapat kepercayaan ini, lagi-lagi Dimas melakukan riset. Ia ingin membuat desain logo yang kekinian, tapi tak meninggalkan desain lama yang punya sejarah panjang. “Akhirnya ya seperti sekarang. Saya tetap mempertahankan Ganesha Bhairawa di bagian tengah,” ungkapnya.

Berkaitan dengan desain mendesain ini, Dimas punya cerita unik. Tak seperti desain jersey yang ‘langsung dok’, soal logo ini jajaran manajemen beberapa kali tidak setuju dengan bentuknya. Diajukan Dimas, dikembalikan lagi. Diajukan, dikembalikan lagi. Dimas pun terus melakukan penyempurnaan.

Padahal, waktu untuk membawanya ke rapat Asprov PSSI di Surabaya, tinggal hitungan hari. Alhasil, baru jam 2 pagi disetujui, siang harinya desain ini sudah dipresentasikan ke asprov untuk diajukan sebagai jersey dan logo resmi tim. “Waktu itu deg-degan,” akunya.

Tapi itu belum seberapa. Desakan waktu ternyata juga terjadi jelang launching tim 6 Mei 2017 di area Simpang Lima Gumul (SLG). Ketika itu, jersey tim, yang tentu saja harus dipasangi logo tim, sponsor tim, dan sponsor liga harus jadi. Namun ternyata dari percetakan bajunya molor. Siang sebelum launching jersey belum juga siap. Bahkan Dimas sebagai pihak yang diberi tanggung jawab terpaksa menyusul ke Lamongan untuk menjemput jersey itu. “Mepet sekali, waktu itu ngebut sampai nggak lihat speedometer,” paparnya.

Untungnya, lima menit sebelum waktu launching, jersey datang. Para pemain pun langsung ganti baju di dekat panggung. Para tamu undangan yang hadir, termasuk Kapolres Kediri AKBP Sumaryono dan Wakil Bupati (Wabup) Kediri Masykuri bisa menyaksikan desain dan logo baru Persedikab. Acara launching pun lancar.

Menurut Dimas, kebanggaan melihat new jersey Persedikab serta logonya dipakai oleh para pemain yang berlaga di lapangan memang mengalahkan segalanya. Bahkan ketika tak ada yang mengenali bahwa jersey itu adalah buatannya, ia tetap bangga. “Waktu CFD (car free day, Red) ada yang pakai buat lari-lari, naik sepeda, saya lihatnya wah...bangga banget,” tandasnya.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia