Minggu, 17 Dec 2017
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

"Aturable"

Kamis, 07 Dec 2017 19:02 | editor : Adi Nugroho

"Aturable"
Berita Terkait

Mbok Dadap memang fleksibel. Orangnya ndak kaku. Apalagi ceklekan. Itu yang bikin orang-orang suka. Mau pesen sego tumpang model apa saja jadi ndak sungkan. Asalkan tidak kebangetan, pasti dilayani. Itu pun, Mbok Dadap masih loman. Suka kasih bonus-bonus.

Seperti waktu Kang Noyo pesen sego tumpang buat acara kerja bakti di RT-nya. “Rong puluh bungkus, Mbok. Kanggo wong-wong,” pesannya.

Cuma, Kang Noyo minta harga khusus. Di bawah harga standar. Kalau biasanya sebungkus limang ewu, Kang Noyo minta yang harganya petang ewuan. Padahal, sekarang, limang ewu di kota sudah termasuk murah. Apalagi untuk sego tumpang yang enaknya sak ndonya seperti bikinan Mbok Dadap. Itu pun, Mbok Dadap masih mau dan bisa melayani. Bahkan, kadang, untuk harga telung ewuan sekalipun.

Hal seperti itu yang bikin bakul-bakul sego tumpang lain ndak habis pikir. Walau tentu ‘spek’ sego tumpang yang harga limang ewuan, petang ewuan, atau telung ewuan tidak sama, bakul-bakul lain tetap ndak nyandak pikirannya. “Kalau aku jelas ndak nyucuk. Ora bathi, malah rugi kalau dengan harga segitu,” kata mereka terus terang.

Maklum, walau bisa melayani harga hingga hampir separo di bawah pasaran, ‘spek’ sego tumpang bikinan Mbok Dadap tetap bisa dibilang layak. Ndak bikin gela orang yang menyantapnya. Paling-paling yang dikurangi cuma jumlah tahu atau tempenya. Juga trasi delenya. Sambel dan kulupannya tetap melimpah. Banjir-banjir. Memang, itulah yang dicari orang-orang.

Itu pun, tak jarang, Mbok Dadap sering menurunkan harga tanpa mengurangi ‘spek’-nya. Tergantung prejengan orang yang pesan. Sebab, bukan hanya bisa melihat dengan dua bola matanya, Mbok Dadap juga bisa melihat dengan mata batinnya. “Iya, ndak apa-apa. Bisa diatur,” katanya waktu ada santri pesen tiga puluh bungkus sego tumpang untuk ro’an dengan harga tiga ribuan. Diam-diam, Mbok Dadap tetap memberikan ‘spek’ yang lima ribuan.

Hal-hal seperti itulah yang makin bikin pikiran banyak bakul sego tumpang lainnya ndak nyandak. Sebab, Mbok Dadap memang sudah bukan lagi sekadar dodolan. Yang itungannya untung-rugi dari kacamata uang. Dia sudah melampaui. “Bathi sanak, bathi kadang,” begitu yang sering diucapkannya kalau ditanya orang-orang.

Ndak apa-apa terkadang tidak dapat keuntungan dari sego tumpang yang dijualnya murah, bahkan tak jarang digratiskan. Tapi, dia merasa mendapat keuntungan berupa persahabatan dan paseduluran dari orang-orang yang dilayaninya. “Isaku ngamal ya mung ngene iki,” imbuhnya lagi. 

Cuma, jangan pernah coba-coba petung dengan Mbok Dadap seperti Matnecis. Untuk hal seperti ini, Mbok Dadap bukan orang yang gampangan. Bukan orang yang fleksibel. Melainkan, justru kaku. Matnecis yang orang kantoran itu petung untuk konsumsi acara di kantornya.

Ndak gemen-gemen. Dengan ‘spek’ yang sama, ia bisa dan mau membeli sebungkus sego tumpang di warung Mbok Dadap dengan harga lebih tinggi. Dari lima ribuan menjadi enam ribuan. Sebab, bunyi mata anggaran yang digariskan di buku panduan, harga sebungkus adalah sepuluh ribuan. Mengacu harga sego bungkusan di Jakarta.

Kalaupun nanti Matnecis menulis di laporan ada diskon seribu per bungkus karena jumlah pesanannya lebih dari seratus, masih wajar juga. Tetap masih ada selisih yang bisa ia bagi untuk dirinya dan Mbok Dadap. “Nem ewu sak bungkus, Mbok. Piye?,” katanya. Mbok Dadap ndak perlu nambah peyek, tempe, atau tahu. Asalkan, dia mau tanda tangan di kuitansi kalau harga sebungkus sego tumpangnya sepuluh ribu plus diskon seribu.

Mbok Dadap bisa dapat tambahan keuntungan seribu. Matnecis masih dapat selisih tiga ribu. “Ora nggo aku thok, Mbok, iki. Nggo kanca-kancaku barang. Kabeh,” ucapnya lagi.

“Aturable lah…,” rayu Matnecis, menirukan jargon si bos kumis lele dalam film My Stupid Boss itu.

Bukannya langsung ijo matanya melihat keuntungan yang sudah di hadapan, Mbok Dadap justru segera cincing jarit ke pawon. Ngambil irus yang dipakai ngudek sambel tumpang. “Aturable, aturable ndasmu…!,” teriaknya sambil mengacungkan irus yang masih dleweran sambel tumpang. Maklum, aturable, bisa diatur, baginya bukan seperti ini. Melainkan, seperti waktu ngedoli Kang Noyo dan santri itu. (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia