Sabtu, 21 Oct 2017
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Kasus Striptease di Inul Vizta

Berhijab, 4 Penari Telanjang Hadir Beri Kesaksian

Kamis, 12 Oct 2017 10:45 | editor : Adi Nugroho

kasus inul vizta - radar kediri

MENJADI PERHATIAN: Para penari striptease menutupi wajahnya saat hadir menjadi saksi persidangan di PN Kediri Kota. (YAYI FATEKA - RadarKediri/JawaPos.com)

KEDIRI KOTA – Empat perempuan hadir dalam persidangan kasus asusila striptease di tempat karaoke Inul Vizta (Inviz) Kediri, kemarin. Mereka adalah Popy (32), ‎Wida (31), ‎Rosa (23), dan ‎Echa (26). Keempatnya penari telanjang yang tertangkap basah dalam penggerebekan petugas Polda Jatim, pertengahan Juli 2017 lalu.

Sidang digelar secara tertutup di ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Kediri Kota, sekitar pukul 12.30.  Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Edy Subhan, sebenarnya ada tujuh saksi yang dipanggil untuk memberikan keterangan.

Selain empat penari striptease itu, jaksa juga memanggil kasir, waitress atau pelayan, dan satpam karaoke Inviz. Hanya saja, kemarin, mereka tidak terlihat berada di gedung pengadilan. “Ya yang hadir hanya empat (penari) itu,” terangnya seusai proses persidangan.

Dalam persidangan, Edy mengatakan, keempat saksi tersebut ditanyai terkait hal-hal yang terjadi pada Jumat (14/7) dini hari di Inviz. “Intinya kami menanyai saksi seputar fakta pada waktu itu seperti apa,” paparnya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebut, kehadiran keempat penari striptease tersebut cukup menarik perhatian pengunjung PN. Namun di antara mereka berusaha menutupi penampilannya. Terutama ketika para wartawan memperhatikannya.

 Tampak tiga penari telanjang tersebut mengenakan hijab. Belum cukup menutup parasnya, ada yang masih mengenakan masker dan kacamata hitam. Hanya seorang yang tak berjilbab. Perempuan berambut panjang tersebut cuma menutup mulut dan hidungnya dengan masker.

Dalam persidangan tertutup yang dipimpin ketua majelis hakim Imam Khanafi Ridwan itu, para saksi dimintai keterangan terkait peristiwa 14 Juli di Inviz malam itu. Bagaimana awal mulanya, kemudian juga keterangan terkait setiap detil kronologi kejadian hingga penggerebekan polisi.

Ilham Nur Syahid, 41, yang hadir di persidangan duduk di kursi terdakwa. Kali ini merupakan sidang kedua bagi mantan manager operasional Inviz asal Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota Kediri tersebut.

Dalam sidang itu terkuak Ilham mendapat pesanan dari dua pelanggannya. Mereka meminta agar disediakan empat perempuan yang bersedia menemani bernyanyi karaoke. Lebih dari itu, ada permintaan layanan striptease hingga hubungan badan.

Merespons ‘order’ itu, diduga Ilham kemudian menghubungi keempat perempuan penari itu. Dua pelanggan yang memersan lebih dulu datang. Sesaat berikutnya, Popy, ‎Wida, ‎Rosa, dan ‎Echa tiba di karaoke Inul Vizta di Jl Hayam Wuruk, Kota Kediri. Mereka langsung masuk ke room 2 tempat karaoke tersebut.

Sekitar pukul 00.30 WIB ‘pertunjukan’ pun dimulai. Tak dinyana saat aksi tarian bugil, tiba-tiba petugas dari Polda Jatim menyeruak masuk room 2. Sepuluh orang langsung diamankan, termasuk Ilham.

JPU mendakwa Ilham melanggar pasal 296 KUHP. Dia dianggap dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain dan menjadikannya sebagai mata pencahariannya. Ilham juga dijerat pasal 506 KUHP karena dianggap telah menarik keuntungan dari perbuatan cabul dan menjadikannya mata pencaharian.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menutup sidang hari itu. Selanjutnya agenda persidangan masih pemeriksaan saksi lain akan digelar pekan depan. Saksi yang akan didatangkan dari pihak manajemen Inviz, yakni kasir, satpam, dan waitress.

(rk/yi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia