Sabtu, 23 Sep 2017
radarkediri
Politik

PKL dilarang Jualan Depan Kantor Dinas

Kamis, 14 Sep 2017 19:21 | editor : Adi Nugroho

TAK BOLEH: Halaman kantor DKUM Kabupaten Kediri yang digunakan PKL berjualan di Jl Soekarno Hatta, Dusun Tepus, Desa Sukorejo, Ngasem (11/9).

TAK BOLEH: Halaman kantor DKUM Kabupaten Kediri yang digunakan PKL berjualan di Jl Soekarno Hatta, Dusun Tepus, Desa Sukorejo, Ngasem (11/9). (M. FIKRI ZULFIKAR - RadarKediri/JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN– Satpol PP Kabupaten Kediri menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di halaman beberapa kantor satuan kerja (satker) pemkab. Salah satunya di depan kantor dinas koperasi dan usaha mikro (DKUM), Jl Soekarno Hatta, Dusun Tepus, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri pada Senin malam (11/9) terlihat halaman kantor dinas yang berada di depan kantor pemkab atau timur kantor Samsat Kediri ini dimanfaatkan untuk berjualan. Situasinya ramai sekali untuk nongkrong-nongkrong.

Di depan gerbangnya ada satu warung nasi goreng. Kemudian, di dalam gerbang atau tepat di halaman kantor terdapat dua warung. Yakni warung kopi (warkop) dan penjual nasi tiwul yang menggelar lapak lesehan. Padahal, lokasi di sana dilarang untuk berdagang.

“Iya memang berjualan di tempat itu tidak diperbolehkan. Selain tanpa izin karena tempat yang digunakan jualan termasuk kantor penting,” terang Kabid Perda Satpol PP Kabupaten Kediri Susanto.

Mengetahui hal itu, ia menyatakan, telah menertibkannya. Makanya, Selasa (12/9) aparat penegak perda tersebut langsung melakukan pendekatan. Termasuk melalui DKUM. Dengan upaya itu, akhirnya para PKL pun kooperatif untuk pindah.

Susanto mengatakan, satpol PP menggunakan pendekatan persuasif. “Kita sudah tindaklanjuti terkait hal itu. Setelah kita lakukan pendekatan, akhirnya pedagang yang berjualan di sana bersedia pindah,” tegas Santo.

Kemarin, warung sudah tutup. Wartawan koran ini sempat mendatangi ke sana pada Senin (11/9). Menurut Doyok, salah satu pemilik warkop, warungnya baru buka pascahari raya Idul Fitri 2017. “Biasanya ruame Mas di sini, ya ngopi ya mainan catur,” ujar pria asal Tepus, Ngasem ini.

Doyok mengatakan, biasanya warung tutup hingga pukul 24.00 malam. Namun berbeda ketika ramai seperti malam Minggu atau saat menjelang libur sekolah. Jika ramai sekali, tidak jarang dia baru mengemasi dagangannya hingga pagi hari. Begitu pula dua warung lain yang ada di depan kantor tersebut. Pedagangnya biasa tutup hingga tengah malam.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia