Kamis, 23 Nov 2017
radarkediri
icon featured
Ekonomi
Tanah Mulai Mengering

Tak Bisa Ditanami

Warga Alih Profesi

Kamis, 14 Sep 2017 11:30 | editor : Adi Nugroho

MENGERAS: Petani menunjukkan kondisi sawah pertanian di Desa Mlilir, Kecamatan Berbek yang tidak bisa lagi ditanami karena tanahnya mengeras. Hal serupa juga terjadi di dua desa lainnya di Kecamatan Ngetos.

MENGERAS: Petani menunjukkan kondisi sawah pertanian di Desa Mlilir, Kecamatan Berbek yang tidak bisa lagi ditanami karena tanahnya mengeras. Hal serupa juga terjadi di dua desa lainnya di Kecamatan Ngetos. (REKIAN - RadarKediri/JawaPos.com)

NGANJUK-Kekeringan tidak hanya dirasakan warga Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong dan warga Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang. Puluhan petan di tiga desa di Kecamatan Berbek dan Kecamatan Ngetos tidak bisa lagi mengolah tanahnya yang mengeras September ini.

          Seperti dikatakan oleh Toyib, 41, asal Dusun Gayu, Desa Mlilir, Kecamatan Berbek. Menurutnya, sejak akhir Agustus lalu sawahnya sudah tidak bisa lagi ditanami. “Terakhir saya menanam palawija, kalau sekarang sudah tidak bisa menanam. Airnya sudah habis tanahnya jadi keras,” katanya.

          Kekeringan yang menimpa lahan pertanian menurut Toyib tidak hanya terjadi di Mlilir. Melainkan juga terjadi di Desa Suru dan Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos.

          Bencana kekeringan di lahan pertanian, menurut Toyib tidak hanya terjadi tahun ini. Melainkan rutin terjadi setiap tahun. Karenanya, petani setempat sudah bersiap tidak melakukan penanaman selama kemarau. “Setiap musim kemarau pasti tidak menanam. Lahan pertanian nganggur,” keluhnya.

          Berbeda dengan petani di daerah lain yang bisa memakai sumur bor, Toyib menyebut hal tersebut tidak bisa diterapkan di Mlilir. Sebab, meski sudah dibor sangat dalam, air tidak keluar.

          Karenanya, setiap kali musim kemarau petani di tiga desa itu langsung alih pekerjaan. Yaitu, menjadi kuli bangunan. “Kami baru bisa bertani lagi setelah hujan turun dan tanah menjadi basah,” urainya.

          Pernyataan Toyib dibenarkan oleh Murlan, 48. Pria asal Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos itu memilih keluar dari desanya saat musim kemarau. “Sekarang saya sedang garap pembangunan irigasi,” katanya.

          Pekerjaan itu dilakukan untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. Meski memiliki stok beras yang cukup, dia tetap membutuhkan uang untuk membeli lauk pauk dan kebutuhan lainnya.

          Makanya, menyiasati tanah yang mengeras dan tandus saat kemarau, dia harus mencari alternatif pekerjaan lainnya. “Sudah terbiasa begini setiap tahun,” terang pria yang menanam palawija saat musim hujan ini.

          Terpisah, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Nganjuk Aris Trio Efendi mengatakan, dirinya khawatir musim kemarau yang lama tahun ini bisa memicu dampak sosial. Karenanya, tagana ikut melakukan pemetaan mana saja titik yang rawan terjadi kekeringan. “Masalah kekeringan menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Aris mengatakan, kekeringan yang berlangsung lama tidak hanya menimbulkan krisis air. Melainkan bisa berdampak kepada ekonomi warga. Sebab, banyak petani yang tidak bisa bercocok tanam.

Setidaknya ada puluhan hektare lahan pertanian yang terpaksa dibiarkan begitu saja karena tidak bisa ditanami. “Itu berarti petani kehilangan mata pencahariannya dan ini dampaknya bisa panjang,” terangnya.

          Lebih jauh Aris mengatakan, yang bekerja ke luar desa biasanya hanya anak muda saja. Sedangkan pria tua tetap tinggal di desa mereka. Kondisi yang terjadi tiap kemarau ini menurut Aris harus dipecahkan bersama. Sehingga, warga di tiga desa di Kecamatan Ngetos dan Berbek tidak merasakan dampak berkepanjangan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia