Rabu, 20 Sep 2017
radarkediri
Features

Kreativitas Siswa SMKN 2 Nganjuk Ciptakan Es Krim Salak

Jika Ada Pesanan, Boleh Tinggalkan Pelajaran

Minggu, 13 Aug 2017 13:37 | editor : Adi Nugroho

KREATIF: Siswa SMKN 2 Nganjuk dengan es krim salaknya.

KREATIF: Siswa SMKN 2 Nganjuk dengan es krim salaknya. (REKIAN - RadarKediri/JawaPos.com)

Di tangan siswa SMKN 2 Nganjuk, es krim tidak lagi didominasi rasa cokelat atau durian. Mereka berhasil menciptakan rasa buah yang selama ini dianggap kurang diminati. Salah satunya adalah buah salak.

REKIAN

Bungkusnya yang mini bertulis Es Cream Zalacca SMKN 2 Nganjuk memang terlihat elegan. Meski mungil, rasanya tidak kalah dengan es krim yang dijual di minimarket. Tidak ada rasa sepet yang merupakan karakter salak. Bahkan rasa salak bercampur manisnya es krim bersatu padu menambah kenikmatan. Rasa itulah yang membuat siswa-siswi SMK N 2 Nganjuk menjadikan produk mereka sebagai unggulan sekolah.

          Bagaimana tidak, setiap kali produksi selalu ludes habis diburu siswa-siswi. Sampai-sampai siswa yang memproduksi cukup kewalahan ketika harus membikin es krim salak karena penggemarnya yang cukup banyak. Apalagi harganya terbilang ekonomis cocok dengan kantong siswa, hanya Rp 2.500 untuk satu bungkusnya.

          Lantas siapa yang punya inisiatif membuat produk itu? Pada Rabu lalu (26/7), wartawan koran ini bertandang ke sekolah di Kelurahan Kramat itu. Tujuh siswi berseragam merah dan cokelat sedang asyik berkumpul di ruang pemasaran sekaligus tempat praktik memproduksi es krim. Di tengah mereka, seorang guru sangat aktif memberi penjelasan kepada murid-muridnya.

          Guru itu bernama Dwi Kanthi Seyodewi. Dia adalah salah satu guru yang mencetak muridnya bisa berkreativitas untuk memproduksi es krim. “Saya hanya sebagai pemantik, yang mengeksekusi tetap anak-anak,” ucapnya.

 Jika ada kegiatan atau acara sekolah, sekali produksi bisa menghabiskan 5 kilogram (kg) salak. Bila dikemas jumlah es krimnya menjadi 250 gelas.

          Saat disajikan, produk unggulannya itu bisa habis dalam waktu tiga jam saja. “Itu kalau ada kegiatan bisa habis cepat,” lanjut guru yang mengenakan baju putih dengan kerudung abu-abu tersebut. Melihat banyak yang suka, ibu dua anak ini pun sudah berupaya mengajak anak muridnya untuk bisa memasarkan produk itu di luar.

          Triya Faradila, sisiwi jurusan pemasaran menyambut antusias keinginan gurunya. “Kami sudah mencoba tapi masih ada kendala,” kata siswi asal Ngetos itu. Rupanya ketika dipasarkan di luar, mereka kesulitan tenaga pengantarnya. Sejauh ini, Triya dan kawan-kawannya sudah menggunakan media sosial untuk menjual produk unggulan SMKN 2 Nganjuk tersebut. Namun sayangnya masih butuh tenaga tambahan.

          Lalu bagaimana produk ini bisa tercipta? Dwi menjelaskan, awal mula niatnya memproduksi dan merekrut muridnya untuk mengembangkan bakat kemampuan diri. “Saya tidak ingin anak didik saya tamat sekolah hanya jadi penonton kalau bisa harus menjadi pelaku,” ungkap lulusan IKIP Surabaya (sekarang jadi Unesa) tahun 1996 ini.

          Dia menyebutkan, salah satu siswanya juga asal Ngetos sudah berhasil menciptakan es krim dari ubi. “Dulu ilmunya di dapat dari sekolah, sama seperti Triya dan teman-temannya saat ini,” ucapnya. Sebagai guru mata pelajaran pemasaran, Dwi juga mewajibkan muridnya untuk mampu menjual produk. Baginya, ilmu tersebut tidak hanya didapat dibangku sekolah tetapi juga di luar.

          Karenanya ketika ada orang luar yang memesan untuk dibuatkan es krim, tim produksi es krim ini akan memprioritaskannya. “Kalau pun ada pelajaran bisa ditinggalkan, ilmu praktiknya lebih diutamakan,” beber Dwi.

 Jumlah tim yang memproduksi es krim ini juga jumlahnya bukan hanya enam orang yang kala itu sedang berkumpul. Tetapi ada 12 orang. Semuanya berbagi tugas. Ada yang produksi dan yang memasarkan produk. Ibu dua anak ini benar-benar harus mampu mengelola agar siswa benar-benar menguasai pemasaran tidak hanya teori tetapi juga pratiknya.

          Dwi mengatakan, pembuatan es krim salak ini bukan tanpa hambatan. Ia bersama dengan muridnya pernah mengalami kegagalan. “Awalnya sepat, masih ada lengketnya karena langsung dicampur,” terangnya. Kegagalan itu tak membuatnya menyerah, dan baginya itu juga menjadi pelajaran bagi siswinya.

          Triya juga awalnya sempat pesimis karena rasanya tidak senikmat es krim durian. “Kami coba dengan cara lain agar salak tetap bisa dinikmati dengan enak,” katanya. Sebelum diolah, salak pernah direbus. Hasilnya juga tidak maksimal.

          Hampir satu bulan melakukan uji coba, akhirnya Triya dan teman-temannya mendapatkan trik kalau getah yang bisa menimbulkan rasa sepat pada salak bisa hilang jika direndam dengan air garam. “Hasilnya luar biasa,” tutur Dwi. Rasa salak tidak luntur. Dan ketika direndam bentuk salak juga tidak susut seperti kalau direbus. Lamanya perendaman minimal 6 jam.

          Proses itu pula yang kini menjadi catatan Triya dan kawan-kawannya. Kalau ingin produksi es krim salak tidak bisa langsung jadi. Harus menunggu. Karena itu jika ada yang ingin pesan pun harus disampaikan jauh-jauh hari. “Apalagi sekarang harga salak mahal,” ucap Dwi disambut tawa anak-anak. Untuk menghemat biaya, produksinya setiap hari sebanyak 1 kilogram. Dan ketersediaan es krim di sekolah sehari ada sekitar 50 gelas.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia