Sabtu, 24 Feb 2018
radarjogja
icon featured
Features

Siperkasa Solusi Kesulitan Para Petani saat Musim Penghujan

Pengeringan Padi Lebih Terukur

Sabtu, 04 Nov 2017 13:49 | editor : Jihad Rokhadi

KREATIF: Pegawai UPT Balai Benih Pertanian (BBP) Barongan menutup terpal.

KREATIF: Pegawai UPT Balai Benih Pertanian (BBP) Barongan menutup terpal. (ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA)

Musim penghujan kerap mengganggu aktivitas para petani. Terutama pascapanen. Proses pengeringan produk pertanian terganggu. Namun, hal tersebut ternyata tidak berlaku di UPT Balai Benih Pertanian (BBP) Barongan. Apa yang mereka lakukan ?

ZAKKI MUBAROK, Bantul

Tempat penjemuran yang terhampar di sebelah selatan kantor UPT BBP Barongan kemarin (3/11) tampak masih menganggur. Tak ada satu pun sudut ruang yang termanfaatkan. Hanya beberapa patok plus bentangan besi yang terlihat di tempat penjemuran produk pertanian seukuran dengan luas dua lapangan futsal ini.“Karena belum musim panen,” ucap Kepala UPT BBP Barongan Budi Santoso mengungkap alasan tempat penjemuran di UPT yang dipimpinnya belum ada aktivitas.

KREATIF:Budi Santoso penemu teknologi penjemuran Siperkasa.

KREATIF:Budi Santoso penemu teknologi penjemuran Siperkasa. (ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA)

Pemandangan bakal 180 derajat berbeda ketika mulai memasuki Desember. Saat para petani mulai memanen padinya. Hampir tak ada ruang kosong di tempat penjemuran ini. Petani datang silih berganti menjemur hasil panen. UPT juga terkadang menjemur bakal bibit atau benih sebagai persiapan musim tanam berikutnya.

Bukan tanpa alasan tempat penjemuran UPT BBP Barongan menjadi pilihan favorit para petani. UPT di bawah naungan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul ini menerapkan teknologi khusus penjemuran. Namanya Siperkasa (Sistem Penjemuran Karya Santoso). Dengan teknologi ini penjemuran padi, misalnya, hanya butuh waktu dua hingga tiga hari. Walaupun saat musim penghujan. “Ini memang karya saya,” ucap bapak dua anak ini mengaku sengaja menyematkan nama belakangnya sebagai penanda.

Sekilas, teknologi yang mulai diperkenalkan pada tahun lalu ini terlihat sangat sederhana. Hanya ada tiga komponen utama yang dibutuhkan. Yaitu, pipa besi, terpal dan bambu. Biaya yang dibutuhkan juga bervariatif. Tergantung luas tempat penjemuran yang bakal dibangun. Kendati begitu, tetap tak merogoh kocek terlalu dalam.

Budi mencontohkan, pembuatan tempat penjemuran seluas 4 meter X 7 meter. Yang dibutuhkan adalah terpal ukuran 5 meter X 7 meter. Pipa besi sepanjang 120 sentimeter dua buah. Juga, bambu sepanjang 7 meter. Cara pembuatannya, dua pipa besi ini ditanam di titik saling berlawanan. Dengan kedalaman di tanah sekitar 20 sentimeter. Kemudian, bambu yang telah dipersiapkan dipasang. Caranya dengan mengikatnya di ujung atas masing-masing pipa besi. Setelah kerangka Siperkasa berdiri tinggal memasang terpal. Membentuk bangunan seperti tenda.“Agar air tidak masuk di ujung bawah terpal dibuatkan saluran air. Atau dipasang talang gantung,” paparnya.

Bila kondisi tanah rata, pria kelahiran 15 Mei 1968 ini menyarankan, tanah yang berada di dua pintu masuk ditinggikan. Itu bertujuan agar air hujan tidak ada yang masuk. Sangat sederhana, bukan?

Lalu, apa rahasia keunggulan Siperkasa? Kuncinya terletak pada teknik penutupan sekaligus fungsi terpal. Budi melihat mayoritas petani menjemur hasil panen seharian penuh. Mulai pukul 07.00 hingga pukul 17.00. Padahal, cara ini tidak efektif. Yang paling efektif justru dijemur hingga pukul 15.00. Walaupun waktu penjemuran dimulai sekitar pukul 08.00. Usut punya usut, penutupan terpal pada pukul 15.00 inilah yang memicu pengeringan berjalan cepat.“Mulai pukul 15.00 sampai pukul 23.00 kondisi dalam tenda panas,” bebernya.

Dengan teknologi ini proses pengeringan lebih terukur. Kadar air dalam bulir gabah dapat diketahui. Pria yang tinggal di Kampung Tegal Malang, Dusun Grujukan, Desa Bantul ini mengungkapkan, gebah yang baru dipanen mengandung kadar air 24. Untuk kebutuhan konsumsi cukup dikeringkan hingga mengandung kadar air 16. “Untuk pembenihan cukup 11,” ungkapnya.

Selain pola penutupan terpal, Budi membocorkan rahasia lain. Dia mengingatkan, padi yang baru dipanen dijemur dengan model merata ala para petani dapat merusak kualitas berasnya. Biasanya, buliran beras gampang pecah saat digiling.“Tumpukan gabahnya lebih tebal saat dijemur malah lebih baik,” saran Budi yang sejak kecil hobi menanam ini.

Dengan datangnya musim penghujan ini, pria yang mengelola komunitas pangan mandiri ini menyarankan para petani menerapkan teknologi Siperkasa. Toh, model penjemuran ini dapat diterapkan di sekitar area persawahan.“Ide ini muncul saat pakai mantel saat hujan. Nggak lama kok badan keringetan,” kenangnya menceritakan asal-usul penciptaan Siperkasa.

(rj/zam/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia