Kamis, 23 Nov 2017
radarjogja
icon featured
Features

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa Bergesernya Takhta Putra Mahkota (5)

Paman Menggusur Kursi Keponakan 

Rabu, 13 Sep 2017 12:53 | editor : Jihad Rokhadi

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa Bergesernya Takhta Putra Mahkota (5)

Menyerahnya Pangeran Poeger kepada Susuhunan Amangkurat II menandai berakhirnya Perang Suksesi Jawa I (1704-1708). Kondisi sosial politik Mataram  relatif stabil. Apalagi Trunajaya juga telah berhasil ditangkap. Poeger yang semula menjadi oposisi telah bergabung ke dalam koalisi pemerintahan Amangkurat II.Meski pernah menentangnya, Amangkurat II tidak lantas melenyapkan Poeger dari panggung politik kerajaan. Adik beda ibu tetap mendapatkan posisi penting di Kartasura.

Poeger menjadi salah satu orang kepercayaan Susuhunan. Hubungan hangat Amangkurat II dengan Poeger makin dipererat dengan pernikahan anak mereka. Putra mahkota, Raden Mas (RM) Sutikna, menikahi putri Poeger, Raden Ayu (RAy) Himbun. Setelah bertakhta selama 25 tahun (1677-1703) Amangkurat II wafat. Takhta dilanjutkan Sutikna, bergelar Susuhunan Amangkurat III atau Sunan Mas.

Di pihak lain, stabilitas politik Mataram perlahan mulai terkoyak. Sunan Mas dinilai tak memenuhi syarat sebagai raja. Dia mengalami kekurangan fisik di bagian tumit sehingga kerap disebut Pangeran Kencet.Kebijakan politiknya kontroversial karena menebar banyak lawan politik. Salah satunya dengan keluarga Poeger.

Sejak terjadi perbedaan pandangan itu, paman sekaligus mertuanya itu mundur dari lingkaran kekuasaan. Poeger memilih kembali ke khittah sebagai oposan. Situasi bertambah panas. Himbun tiba-tiba dicerai oleh Sunan Mas. Permaisuri dikebonake alias dikembalikan ke orang tuanya. Dia pulang ke Ndalem Poegeran dengan wajah sedih. Dia merasa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) suaminya. Mantan permaisuri ini pun lantas menuntut keadilan.

Panasnya hubungan istana dengan Poegeran itu makin parah. Sunan Mas melakukan pergantian antarwaktu (PAW) dengan menetapkan permaisuri baru. Kedudukan Himbun dialihkan ke seorang gadis asal Onje Banyumas yang tidak berdarah ningrat. Keputusan ini dianggap menyimpang dari tradisi Mataram. Anak Poeger, Pangeran Suryokuusumo, mengkritik kebijakan itu.

“Kangmas dipati dhewe iya wis dilalah nggone jejodhoan karo sedulurku ora tutug. Iku mratandhani yen bakal sirna wijine. Luwih becik aku jumenengan nata dhewe. (Kakak Sunan Mas itu kebetulan tidak lestari berjodoh dengan saudara saya. Itu pertanda bakal kehilangan penerus takhta. Lebih baik saya saja yang menjad raja, Red),” kata putra sulung Pangeran Poeger ini.

Ucapan itu terdengar ke telinga Sunan Mas. Raja merasa tersinggung dan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap keluarga Poeger. Tuduhannya berlapis.  Tindakan makar, ujaran kebencian, dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap raja. Ketika perintah itu belum terlaksana, Poeger telah meninggalkan Kartasura. Poeger pergi ke Ungaran, Semarang, bersama keluarga dan pengikutnya menemui para pembesar VOC.

Koalisi baru terbentuk. Bekas sekutu Amangkurat II, ayah Sunan Mas, itu mengalihkan dukungan politik ke Poeger.Sunan Mas mengalami krisis politik. Hubungannya dengan Untung Suropati dari Bangil, Pasuruan, juga ketahuan VOC.  Di internal kerajaan, para pejabat Mataram juga meninggalkannya. Pasukan Poeger dan VOC berhasil menjebol benteng pertahanan Sunan Mas.Sejarah kembali berulang. Raja Mataram kehilangan takhtanya.

Berbeda dengan kakeknya, Amangkurat I, yang lari ke Banyumas karena diserang musuh, Sunan Mas tergusur dari takhta lantaran tak kuasa menghadapi pamannya.Kekuasaan Sunan hanya seumur jagung (1703-1705). Setelah keraton dikuasai Poeger, dia melarikan diri ke Ponorogo. Untung Suropati mengirimkan bantuan guna melindungi Amangkurat III. Pasukan Koalisi Mataram, Madura, dan Surabaya balik menyerbu Pasuruan.

Untung Suropati tewas dalam pertempuran di Bangil pada 1706. Anak-anaknya kemudian bergabung dengan Amangkurat III di Malang.Sepanjang  1707 Amangkurat III mengalami penderitaan karena diburu pasukan Poeger. Dari Malang, raja malang itu pindah ke Blitar. Kemudian ke Kediri dan akhirnya memutuskan menyerah di Surabaya pada 1708. Amangkurat III akhirnya dibuang ke Sailan (Srilanka) hingga wafat pada 1734.Poeger kemudian naik takhta. Gelarnya tak lagi Amangkurat.

Poeger memilih sebutan baru Susuhunan Paku Buwono I. Untuk menguatkan legitimasi, Poeger mengklaim mendapatkan wahyu keprabon.Kejadianya saat kakak tirinya wafat. Saat itu, kemaluan Amangkurat II tetap tegak meski tak lagi bernyawa. Poeger melihat ada cahaya di ujung kemaluan kakaknya itu. Dia lantas mengecup ujung kemaluan itu. Konon itulah wangsit kekuasaan. Wangsit itu jatuh kepada dirinya dan bukan Sunan Mas, anak Amangkurat II.Selama berkuasa (1704-1719) Poeger membuat cerita itu lewat Babad Tanah Jawi dalam rangka memperkuat basis legitimasi kekuasaan.

Disebutkan, keturunan kakaknya hanya satu kali berkuasa di Mataram. Ini dampak kutukan Amangkurat I kepada Amangkurat II. Saat mendampingi dalam pelarian, Amangkurat II memberikan air kelapa kepada ayahnya yang diketahui ada racunnya. Atas kejadian itu Amangkurat I mengutuk nantinya tak ada lagi penerus Amangkurat II yang menjadi raja.  Kalaupun ada hanya sebentar. Dengan tersungkurnya Sunan Mas, tak ada lagi keturunan Amangkurat II yang bertakhta sebagai raja Mataram. Posisinya digeser keturunan Poeger yang disebut-sebut masih trah Ki Ageng Giring. (bersambung)

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia