Selasa, 21 Nov 2017
radarjogja
icon featured
Features

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa Bergesernya Takhta Putra Mahkota (3)

Beralihnya Kekuasaan dari Trah Pemanahan ke G

Senin, 11 Sep 2017 14:58 | editor : Jihad Rokhadi

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa Bergesernya Takhta Putra Mahkota (3)

Susuhunan Hamangkurat Agung atau Amangkurat I merupakan raja keempat yang bertakhta di Mataram. Amangkurat I memindahkan pusat pemerintahan dari Kerta ke Pleret. Bangunan fisik kerajaan mengalami penyempurnaan.


Di masa ayahnya Sultan Agung Hanyokrokusumo, bangunan Keraton Mataram di Kerta masih memakai bahan kayu.Sedangkan di Pleret, tembok dan kedhaton atau tempat tinggal raja sudah terbuat dari batu bata. Amangkurat I juga berhasil membuat segarayasa atau danau buatan. Kini Segarayasa menjadi nama desa di Pleret, Bantul.

Meski sukses membangun fisik kerajaan, kepemimpinan Amangkurat I (1646-1677) tak pernah sepi dari konflik. Terutama saat menentukan calon pewaris takhta Mataram.

Amangkurat I melestarikan tradisi ayahnya mempunyai dua orang permaisuri. Ratu Kulon menjadi permaisuri pertama dan Ratu Wetan sebagai permaisuri kedua. Ratu Kulon, putri Panembahan Kajoran, Tembayat, Klaten. Dari perkawinan ini melahirkan Raden Mas (RM) Dradjad. Setelah dewasa namanya menjadi Gusti Pangeran Poeger.

Sedangkan Ratu Wetan, semula bernama Ratu Pembayun. Dia merupakan putri sulung Pangeran Pekik, penguasa Kadipaten Surabaya. Pernikahan Amangkurat I dengan Pembayun ini lahir seorang putra bernama RM Rahmad.

Tiket Poeger menjadi calon pewaris takhta terganjal. Karena sesuatu hal, ayahnya menggeser kedudukan ibunya dari Ratu Kulon menjadi Ratu Wetan. Otomatis posisi Poeger juga tergeser. Pergeseran kedudukan permaisuri itu tak lepas dari kecurigaan Amangkurat I terhadap kesetiaan trah Kajoran terhadap Mataram. Susuhunan meragukan loyalitas Kajoran.
Rahmad kemudian diwisuda menjadi Pangeran Tejaningrat. Dia juga menjadi putra mahkota bergelar Adipati Anom. Pergeseran itu menumbuhkan rivalitas antara Poeger dengan Adipati Anom.

Itu seiring dengan krisis politik yang melanda Mataram. Kondisi makin pelik saat raja bertikai dengan putra mahkota. Gara-garanya berebut Rara Hoyi, perempuan desa dari Surabaya. Calon selir raja itu rupanya memikat hati putra mahkota.

Renggangnya hubungan Amangkurat I dengan calon pewaris takhta itu makin terbuka saat muncul demo besar-besaran Trunajaya dari Madura didukung para imigran dari Makassar. Berkat dukungan politik Panembahan Kajoran, Trunajaya berhasil menduduki Mataram.

Lantaran kecewa dengan kebijakan ayahnya, putra mahkota terlibat dalam skenario kudeta tersebut. Mereka membangun kesepakatan politik. Adipati Anom menjadi raja Mataram dan Trunajaya sebagai patih.

28 Juni 1677 gerakan people power meruntuhkan Mataram. Namun Trunajaya mengingkari komitmen politiknya. Saat menguasai Mataram, dia justru memproklamasikan diri sebagai raja. Pusat pemerintahannya di Kediri.

Amangkurat I meninggalkan keraton. Tujuan meminta suaka politik ke Batavia. Belum lagi sampai ke tujuan, putra Sultan Agung itu jatuh sakit. Raja kemudian memanggil putra mahkota.

Adipati Anom diperintahkan menumpas pemberontakan Trunajaya. Namun sang anak menolak. Alasannya, dia ingin terus mendampingi ayahnya yang telah renta dan sakit-sakitan.

Pilihan kemudian beralih ke Poeger. Mantan calon pewaris takhta itu menyanggupi. Amangkurat I kemudian menyerahkan keris Kyai Mahesanular dan tombak Kyai Pleret. Dua pusaka Mataram itu menjadi simbol beralihnya takhta dari Tejaningrat kepada Poeger.

Poeger kemudian jumeneng sebagai Susuhunan Abdurrahman Ingalaga sebelum nantinya menjadi Susuhunan Paku Buwono I di Mataram Kartasura. Naik takhta Poeger sebagai raja itu menandai bergesernya penerus Mataram dari trah Ki Ageng Pemahanan ke Ki Ageng Giring. Ratu Wetan, ibunda Poeger berasal dari Kajoran dan masih keturunan Ki Ageng Giring. (bersambung)

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia