Kamis, 23 Nov 2017
radarjogja
icon featured
Jogja

Media Cetak Masih Tumbuh di Tengah Gempuran Online

Sabtu, 09 Sep 2017 16:08 | editor : Jihad Rokhadi

MELEK MEDIA: Manajer Jawa Pos Grup Abdul Rokhim saat menjadi pembicara diskusi “Peran Korporasi Media dalam Pengembangan Masyarakat” di Kampus UAJY, kemarin (8/9).(Rizal SN/Radar Jogja)

MELEK MEDIA: Manajer Jawa Pos Grup Abdul Rokhim saat menjadi pembicara diskusi “Peran Korporasi Media dalam Pengembangan Masyarakat” di Kampus UAJY, kemarin (8/9).(Rizal SN/Radar Jogja)

 Perubahan teknologi dan informasi yang sangat cepat memberikan dampak tidak hanya pada industri media. Namun juga pola konsumsi masyarakat pada informasi. Jika 10 tahun lalu media koran bertarung dengan sesama media cetak atau dengan radio dan televisi, tapi tidak dengan hari-hari ini.

Sejak lima tahun belakangan, media tradisional harus berhadapan dengan kecepatan media online yang bisa dengan real-time menyampaikan berita dari belahan dunia lain.

“Di Amerika dan Eropa industri media cetak menurun. Asia Pasifik masih cukup tinggi oplahnya, namun trennya juga menurun. Meskipun demikian masih tetap eksis. Di sinilah sisi menariknya,” ujar Manajer Jawa Pos Newsroom Abdul Rokhim saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertemakan “Peran Media dan Masyarakat Sipil dalam Pembangunan Masyarakat Berpengetahuan” di Kampus Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), kemarin (8/9).

Ia memaparkan, dari 10 besar koran di dunia dengan oplah terbanyak, 9 di antaranya berasal dari Asia. Tertinggi Yomiuri Shimbun dan Asashi Shimbun dari Jepang dengan tiras masing-masing 9,1 juta dan 6,6 juta eksemplar. Surat kabar dari India juga masih mempunyai pembaca berkisar 2,8 juta hingga 3,8 juta.

“Rahasianya ada pada kedekatan. Baik konten dan packaging. Mereka menggunakan bahasa dan huruf lokal. Isu yang diangkat pun local,” bebernya.

Sehingga ia menandaskan, meskipun digempur dengan penetrasi media online dan media sosial, media tradisional terutama Koran, menurutnya, masih penting dan dibutuhkan. Mengacu pada sebuah survei, masyarakat Indonesia masih mempercayai koran sebanyak 75 persen.

“Tertinggi dalam dua tahun terakhir. Jarang-jarang Indonesia berada di survei positif. Dibandingkan dengan media sosial di angka 67 persen. Hal itu karena lama-lama masyarakat mulai cerdas bahwa medsos mulai ngawur,” paparnya.

Media cetak yang dibuat dengan proses panjang, yaitu seleksi narasumber, cek dan ricek fakta, akhirnya menjadi acuan, tolok ukur, otentikator dan menjadi kurator informasi mana yang layak disampaikan. Juga menjadi moderator dari banyaknya kepentingan namun tidak memihak. Serta banyak memberikan sudut pandang pada sebuah peristiwa atau isu.

Karena itu ia mengingatkan agar selalu mengonsumsi informasi yang valid dan betul-betul terverifikasi. Karena informasi sudah menjadi kebutuhan seperti juga makanan. Jika mengonsumsi makanan sampah atau beracun, tentu tidak akan sehat dan output-nya juga sampah.

“Pikiran kita juga seperti itu. Jika dicekoki dan mengonsumsi berita sampah, hasilnya akan buruk. Karena itu sayangi pikiran, keluarga dan anak kita dengan pandai-pandai memilih informasi. Media mainstream dan tradisional lambat laun akan kembali dicari, karena terbukti valid dalam memproduksi berita,” tandasnya.
Di tempat yang sama, peneliti dari Knowledge Sectore Initiative Jakarta Hans Antlov Ph.D menyebut, media berperan dalam mengangkat isu penting di masyarakat. Beriringan dengan analisis kebijakan dan akademisi yang memberikan rekomendasikan riset untuk pengambilan sebuah kebijakan.  Sehingga akan terbentuk ekosistem dalam knowledge community.

“Interaksi akan semakin banyak dan bisa semakin kompleks, sehingga semua pihak bisa terlibat. Tidak bisa sekarang masalah diselesaikan dalam monodisiplin ilmu. Tapi kompleksitas masalah juga perlu diatasi keroyokan dari semua disiplin keilmuan,” paparnya.

Dengan makin banyaknya interaksi dan kontestasi, cek dan ricek data riset juga perlu dilakukan. Tidak bisa serta merta diterima, namun harus kritis. “Tapi menurut saya Indonesia masih lebih baik dari negara lain, Amerika, Inggris, Belanda. Di sana ideologi, SARA, sudah merajalela. Di sini kualitas riset, kebijakan, integritas dan data masih dapat dipercaya,” ungkapnya.

Sedangan dosen Fisip UAJY Surya Adi Pramana mengatakan, jejaring sosial bagai pisau bermata dua. Selalu memiliki dampak. Namun tidak bisa menyalahkan teknologi karena itu memang perkembangan zaman. Karena itu yang bisa dilakukan adalah menguatkan media literasi. Refleksi, melihat ke dalam, mana yang knowledge dan hoax sehingga bisa diambil yang penting. 

(rj/riz/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia