Rabu, 20 Sep 2017
radarjogja
Budaya

Giank Bayu Tetuko, Penerus Seni Pedalangan Ki Sugati “Gito-Gati"

Belajar Menahan Kantuk demi Eksistensi Wayang

Sabtu, 09 Sep 2017 15:47 | editor : Jihad Rokhadi

Di eranya, duet kakak beradik Sugito dan Sugati (Gito-Gati) mampu menjadi penghibur segala usia melalui keahlian mereka bermain ketoprak atau mendalang. Giank Bayu Tetuko adalah keturunan keempat Ki Sugati. Siswa SMPN 4 Tempel ini membulatkan tekad menjadi dalang wayang kulit.

DWI AGUS, Sleman

Suasana SMPN 3 Sleman Kamis (7/9) mendadak riuh. Siswa yang biasanya belajar di ruang kelas, hari itu berhamburan di halaman sekolah. Sebuah panggung berukuran sedang terpasang di tengah halaman. Di atas panggung terlihat seorang dalang cilik sedang memainkan wayangnya. Itulah salah satu pementasan wayang oleh Ki Giank Bayu Tetuko.

Meski masih sangat muda, Giank mampu menyuarakan semua tokoh pewayangan yang umumnya berusia dewasa. “Kali ini saya membawakan lakon Bima Meguru. Lakon favorit saya, cocok kalau dipentaskan dengan penonton yang usia masih sebaya seperti saya,” ujar siswa kelas IX SMPN 4 Tempel itu.

Giank memang bukan anak biasa. Dia terlahir dari keluarga seniman. Darah seni dari kakek buyutnya, Ki Sugati, mengalir dalam tubuh putra pasangan Mara Wasis Pembayun Putro dan Iis Nuryani ini.

Terbukti, Giank tak perlu mengikuti pendidikan di lembaga formal ataupun kursus untuk belajar pewayangan. Dia belajar langsung dari Ki Bayu Sugati. Sosok ini adalah anak Ki Sugati “Gito-Gati”.
Beragam ilmu dia serap dari sang kakek. Mulai ilmu dasar pewayangan hingga pengembangannya.

Mendalami ilmu pedalangan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi Giank, dia merasa ada panggilan jiwa untuk melestarikan warisan keluarga.

Giank menggeluti wayang kulit sejak duduk di bangku kelas V SD. Ketertarikannya belajar wayang kulit karena melihat pementasannya tak sekadar untuk tontonan. Tapi sarat tuntunan dan tatanan. Dalam setiap lakon dan tokoh terdapat pesan tersirat.

Wayang kulit menjadi pembelajaran penting. Terlebih mengenai karakter jiwa, khususnya bagi usia anak-anak. Melalui tokoh-tokoh wayang kulit, dia bisa belajar mana yang patut dicontoh dan mana yang ditinggalkan. “Tokoh-tokoh wayang itu kan ada yang jahat dan baik,” ujar anak kelahiran Sleman 24 Januari 2003 ini.

Pentas wayang biasanya semalam suntuk. Hal itu diakuinya cukup berat. Apalagi bagi dalang muda seperti dirinya. Perlu stamina yang prima dan penguasaan jalan cerita pewayangan. Kenati demikian, Giank mengaku pernah dua kali pentas semalam suntuk. Yakni di Jogjakarta dan Temanggung, Jawa Tengah. Dia pentas sampai pukul 04.00. Bahkan saat di Temanggung dia melek satu jam lebih lama.

“Sebenarnya masih belum kuat menahan kantuk, apalagi setelah gara-gara,” kata Giank yang hanya mengandalkan air mineral untuk menjaga staminanya saat mendalang.

Memiliki jam terbang cukup tinggi bukan berarti Giank tak lagi belajar. Baginya, sulukan, antasuara, dan keprak menggunakan kaki adalah unsur-unsur pedalangan yang wajib dipelajari terus demi kelancaran pementasan. Di sisi lain, meski banyak tanggapan, Giank tak sepenuhnya menjatuhkan pilihan untuk mendalang sebagai minat profesi. Dia punya cita-cita menjadi polisi saat dewasa kelak. Namun tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai seorang dalang.

(rj/dwi/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia