Rabu, 20 Sep 2017
radarjogja
Features

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa, Bergesernya Takhta Putra Mahkota (2

Sultan Agung Lakukan Reshuffle Permaisuri

Sabtu, 09 Sep 2017 13:57 | editor : Jihad Rokhadi

Tampilnya Raden Mas (RM) Rangsang atau Jatmika menjadi babak awal  sejarah perebutan takhta di Kerajaan Mataram. Rangsang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Saat berkuasa,  Sultan Agung melalui pujangga-pujangga kerajaan membuat cerita peralihan takhta dari RM Wuryah atau Pangeran Martapura kepada dirinya seolah-olah berjalan mulus tanpa gejolak.

Padahal, kondisi  politik yang terjadi sebaliknya. Para pendukung Martapura menentang peralihan takhta yang dipaksakan tersebut. Geger suksesi itu telah menjadi perhatian rakyat Mataram yang saat itu masih berpusat di KuthagedeDari sisi legitimasi, Martapura jelas lebih kuat. Dia berstatus putra mahkota. Yang  lahir dari permaisuri Susuhunan Hanyokrowati. Dia ditetapkan sebagai pewaris takhta saat ayahnya masih hidup.  Meski berusia lebih tua, Rangsang bukanlah putra mahkota. Dirinya hanya pangeran biasa.Untuk melegalkan kudeta itu, maka dalam babad dibuat kisah Martapura mengalami sakit ingatan.

Babad juga menceritakan, sebelum wafat, Hanyokrowati mendapatkan wangsit dari leluhurnya. Mataram mengalami kejayaan jika takhta diberikan kepada anak raja keturunan Kasultanan Pajang. Ibu Sultan Agung bernama Ratu Adi.  Asal-usulnya masih keturunan Pangeran Benawa dari Pajang. Lain halnya dengan Martapura. Ibunya bernama Ratu Lung Ayu  yang asalnya dari Ponorogo. Keturunan Pajang dipandang jauh lebih prestise dibandingkan Ponorogo.Wangsit yang diterima sang ayah itu  menjadi legitimasi bagi Rangsang memimpin Mataram.

Dia merasa lebih punya hak dibandingkan Martapura. Bangunan legitimasi itu semakin kuat dengan cerita Martapura mengalami gangguan kesehatan.Semua langkah itu sengaja dilakukan karena Rangsang sadar dengan posisi politiknya.  Martapura punya pendukung. Karena itu, pendukung Martapura harus diredam. Konsolidasi politik Sultan Agung berhasil. Martapura dan pendukungnya tersingkir dari panggung politik Mataram. Nasib putra mahkota yang malang itu selanjutnya tidak begitu jelas.

Keberhasilan politik Sultan Agung itu membawanya menjadi salah satu raja terbesar Dinasti Mataram. Dia memindahkan ibu kota Mataram dari Kotagede ke Kerta sebelum kemudian pindah ke Pleret. Bergesernya takhta putra mahkota kembali pasca Sultan Agung berkuasa.Selama berkuasa lebih dari 30 tahun, Sultan Agung mempunyai dua orang permaisuri. Permaisuri pertama bernama Ratu Kulon, putri Panembahan Cirebon. Dari perkawinan ini lahir RM Syahwawrat. Sedangkan permaisuri kedua berasal dari keturunan Ki Juru Mertani. Namanya Ratu Batang.

Sebagai permaisuri kedua, Ratu Batang mendapatkan sebutan Ratu Wetan.  Dari perkawinan dengan Ratu Batang ini lahirlah putra bernama RM Sayidin.  Dalam perkembangannya, kedudukan Ratu Kulon tergeser oleh Ratu Wetan. Cinta kasih Sultan Agung lebih tercurah pada permaisuri mudanya ini.  Kedudukan permaisuri utama rupanya ikut berpindah.  Ratu Kulon di-reshuffle oleh Ratu Wetan. Konsekuensi reshuffle itu berdampak pada beralihnya status putra mahkota. Dari Syahwawrat digantikan oleh Sayidin.

Sultan Agung memandang trah Ki Juru Mertani lebih tinggi dibandingkan trah Cirebon yang masih keturunan Sunan Gunungjati.  Maklum, Ki Juru Mertani merupakan tokoh berpengaruh di Mataram. Dia menjadi penasihat utama kerajaan sejak era Panembahan Senopati. Bahkan sempat menjadi pepatih dalem atau semacam perdana menteri selama beberapa periode. Jabatan yang diemban Ki Juru Mertani atau Mandaraka itu tidak mengenal pembatasan masa jabatan seperti pejabat-pejabat Mataram lainnya.

Sultan Agung menghargai posisi Ki Juru Mertani sesuai prinsip Jawa trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andanawarih ( seorang raja diangkat dari keturunan bangsawan, pertapa, alim ulama dan berasal dari keturunan pilihan utama, Red). Untuk memperkuat legitimasi sebagai pewaris takhta, Sayidin menyebutkan suksesi itu atas kehendak ayahnya.

Kisah naik takhtanya Sayidin terungkap dalam Babad Nitik. Sayidin memilih gelar seperti kakeknya, Hanyokrowati. Gelarnya Susuhunan Hamangkurat Agung atau Amangkurat I. Haluan politik putra mahkota ini berbeda dengan sang ayah. Kebijakan Amangkurat I kerap menimbulkan kekecewaan elite-elite kerajaan. Mataram mengalami instabilitas politik setelah Sultan Agung wafat. Salah satu pemicunya terjadi sejak digesernya putra mahkota. (bersambung)

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia