Jumat, 24 Nov 2017
radarjogja
icon featured
Features

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa,Bergesernya Takhta Putra Mahkota (1)

Jumenengan Pangeran Martapura Dibatalkan MK

Jumat, 08 Sep 2017 14:28 | editor : Jihad Rokhadi

Suksesi Mataram dari Masa ke Masa,Bergesernya Takhta Putra Mahkota (1)

Suhu politik Keraton Mataram memanas. Kegaduhan terjadi menyusul pengumuman atas keputusan mahkamah keraton (MK). Penunjukan Pangeran Martapura sebagai calon raja menggantikan ayahnya Panembahan Hanyokrowati dibatalkan.MK  beranggotakan  beberapa sesepuh Kerajaan Mataram. Sebagai ketua  adalah Pangeran Purbaya. Dia merupakan salah satu putra Panembahan Senopati, raja pertama Mataram.

Ibunya bernama Rara Lembayung, putri Ki Ageng Giring III dari Desa Sodo, Palihan, Gunungkidul. Semasa muda Purbaya dikenal dengan sebutan Jaka Umbaran.MK juga mengumumkan pengganti Martapura. Namanya Raden Mas Rangsang atau Jatmika. Dia terhitung masih kakak beda ibu dari Martapura. Usia kedua anak Hanyokrowati itu  pada 1613 terpaut 12 tahun. Martapura berumur 8 tahun, dan Rangsang 20 tahun.

“Eh, sarupaning wong Mataram, sira padha neksenana, yen Raden Mas Rangsang jumeneng nata nggenteni ingkang Rama, ajejuluk Kanjeng Sultan Agung, Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman. Menawa ana wong kang masgul atine sarta ora ngestoake, padha tekakna budimu ing saiki, aku mungsuhe prang. (Eh, semua rakyat Mataram, saksikan, Raden Mas Rangsang Bertakhta menggantinya ayahnya bergelar Sultan Agung Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman. Jika ada yang ridak setuju, ayo maju saja. Saya yang akan menghadapi, Red),” ucap Purbaya saat mengumumkan keputusan tersebut.

Martapura sebenarnya merupakan putra mahkota Kerajaan Mataram. Nama lainnya adalah Raden Mas Wuryah. Dia dilahirkan dari permaisuri, Ratu Lung Ayu dari Ponorogo.

Sedangkan Rangsang semula bukan berkedudukan sebagai putra mahkota. Dia anak dari Hanyokrowati dengan Ratu Adi, keturunan Pangeran Benawa dari Kerajaan Pajang. Ibu dari Rangsang ini masih trah Joko Tingkir atau Sultan Hadijaya, pengusa Pajang.Batalnya Martapura naik takhta merupakan bagian dari  kisah bergesernya takhta putra mahkota. Sebelum Purbaya mengumumkan pembatalan itu, niat menggeser Martapura sebenarnya telah terjadi semasa Hanyokrowati masih hidup.

Ceritanya, raja kedua Mataram mengklaim mendapatkan wangsit dari para leluhurnya. Isinya, Mataram menjadi kerajaan besar dan memersatukan Tanah Jawa jika dipimpin Rangsang. Atas dasar wangsit itu kemudian Rangsang dikukuhkan menggeser kedudukan adiknya. Babad Tanah Jawa menuliskan, sebelum digeser dari takhtanya, Martapura sempat dinobatkan beberapa saat di atas singgasana.

Namun tidak lama kemudian, putra mahkota itu diturunkan dari takhtanya. Alasannya, Martapura mengalami gangguan ingatan. Dia kemudian dinyatakan berhalangan tetap untuk melanjutkan kepemimpinan Mataram.Kejadian yang dialami Martapura ini mengulang sejarah ayahnya.

Sesungguhnya Panembahan Senopati telah menunjuk Raden Mas Pringgalaya, putra permaisuri Retna Dumilah yang berasal dari Madiun.Penetapan Pringgalaya dibatalkan menjelang raja pertama Mataram itu wafat. Senopati mengaku mendapatkan bisikan gaib. Jolang, nama kecil Hanyokrowati, akan menurunkan raja besar yang berhasil memersatukan Tanah Jawa. Dengan mengklaim mendapatkan wangsit, Senopati punya dasar mistik mengingkari janjinya terhadap Retna Dumilah.Dalam kisah rakyat diceritakan, saat akan menundukan Madiun,

Senopati harus berhadapan dengan Srikandi Madiun, Retna Dumilah. Untuk mengalahkannya, Senopati tidak memakai kekuatan fisik. Dia menggunakan jurus asmara. Putri Madiun itu dipinang dan dijadikan permaisuri. Anak dari pernikahan dengan Retna Dumilah dijanjikan menjadi raja Mataram berikutnya.Janji itu kemudian batal direalisasikan. Pengganti Senopati adalah Jolang. Ibu Jolang masih trah Ki Penjawi dari Pati. Saat mengumumkan pergeseran putra mahkota itu,

Pangeran Mangkubumi, adik Senopati atau paman Jolang, tampil ke depan.  Mangkubumi mengumumkan ke publik Mataram persis yang disampaikan Purbaya saat pengukuhan Sultan Agung. Siapa pun yang menentang penobatan itu terancam dipocot (dipecat) dan terusir dari Bumi Mataram. (bersambung)

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia