Jumat, 24 Nov 2017
radarjogja
icon featured
Sleman

Tergiur Iklan Tanah di Situs Online Kehilangan Rp 425 juta

Rabu, 06 Sep 2017 16:32 | editor : Jihad Rokhadi

NOTARIS ABAL-ABAL: Jajaran satuan Reskrim Polres Sleman ungkap penipuan dengan modus mendirikan kantor notaris abal-abal, kemarin (5/9).(SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

NOTARIS ABAL-ABAL: Jajaran satuan Reskrim Polres Sleman ungkap penipuan dengan modus mendirikan kantor notaris abal-abal, kemarin (5/9).(SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Mata Ira Rosanty, 33, tampak berkaca-kaca ketika aparat Polres Sleman menggelar pengungkapan kasus penipuan terhadap dirinya di Mapolres Sleman, kemarin (5/8). Uang tabungan ratusan juta bertahun-tahun raib begitu saja, setelah tertipu membeli tanah fiktif.

Ya, kasus penipuan yang menimpa Ira, bisa dibilang cukup terencana dan rapi. Modusnya, para pelaku menawarkan tanah melalui situs jual beli online. Komplotan ini pun menyewa sebuah rumah yang dijadikan sebagai kantor notaris PPAT (pejabat pembuat akta tanah) sebagai kedok untuk meyakinkan korbannya.

Ira adalah korban dari komplotan penipuan pembelian tanah. Tidak tanggung-tanggung, kerugian yang dialami korban hampir setengah miliar atau tepatnya Rp 425 juta. Uang itu, diserahkan para komplotan untuk membayar tanah seluas 200 meter persegi. Setelah uang diserahkan, sertifikat hak milik tidak pernah diterima.

Tak berselang lama dari laporan korban, aparat kepolisian berhasil membekuk salah seorang dari komplotan, yakni Siti Fatimah alias THY,34, warga Tembalang, Semarang, Jawa Tengah.

Korban menuturkan, kejadian peristiwa penipuan bermula saat dirinya melihat iklan penjualan tanah di sitis Olx pada Mei 2017. Karena tergiur, wanita berjilbab ini kemudian melakukan pengecekan terhadap sebidang tanah yang berada di Jalan Mangga, Gejayan, Condongcatur, Sleman.

”Tetangga ada yang bilang memang tanah itu ditawarkan juga melalui online,” jelasnya.

Cukup yakin dengan keterangan tetangga, dia mencoba menghubungi nomor kontak yang ada di situs tersebut seminggu kemudian. Dari komunikasi tersebut terjadilah tawar menawar yang disepakati sebesar Rp 425 juta.

Setelah menentukan waktu, korban selanjutnya mendatangi kantor notaris Adi Kurnianto, yang terletak di Jalan Jati Mataram, 318 Sleman, guna mengurus akta jual beli. Di sana, dia ditemui oleh delapan orang.

Selain THY, ada pula seorang yang mengaku sebagai notaris, asisten notaries, dan sekuriti. Di tempat itu, dia dilihatkan sertifikat tanah tersebut yang sebenarnya aspal. ”Sekilas memamg seperti asli,” jelasnya.

Karena merasa yakin, perempuan yang tinggal di Ngaglik ini selanjutnya memenuhi kewajiban melakukan pembayaran. Pembayaran pun dilakukan di depan Bank BNI UGM.

”Ketika itu saya mau membayar secara transfer, tapi mereka menolak dan meminta cash, akhirnya saya turuti apa yang diinginkan,” jelasnya.

Sehari selanjutnya, Ira mencoba mendatangi kantor notaris yang didatangi sebelumnya untuk menanyakan pemecahan sertifikat. Namun, saat di lokasi dirinya tak menemukan aktivitas di dalam kantor tersebut.
”Setelah tanya tetangga, rumah itu di kontrakan sekitar seminggu lalu dan tidak ada aktivitas layaknya kantor,” jelasnya.

Ira mengaku hanya bisa pasrah mengalami peritiwa tersebut. Apalagi, uang tersebut merupakan hasil menabung bersama suami selama bertahun tahun. ”Nabungnya dari saat kuliah, bahkan untuk menambah kekurangan saya harus kredit bank selama 15 tahun,” jelasnya.

Kapolres Sleman AKBP Burkan Rudy Satria mengatakan, kasus yang dialami terbilang rapi dan sangat profesional. Kasus semacam ini, baru pertama kali ditangani pihak Polres Sleman.

”Ini bisa terbilang kasus baru karena mereka cukup niat menyewa kontrakan untuk mendirikan kantor notaris abal-abal,” kata perwira menengah dengan melati dua di pundak.

Dari hasil penyelidikan dan keterengan dari saksi-saksi, jajarannya berhasil membekuk salah seorang pelaku di sebuah rumah kos di Jombor, Mlati, Sleman. Sementara itu, para pelaku lain masih dalam penelusuran aparat.

Dari tangan pelaku, disita sebuah mobil berjenis Toyota Kijang Inova, kuitansi pembelian senilai Rp 424 juta, dan selembar tanda terima dari notaris Adi Kurnianto untuk pengurusan proses balik nama dan pajak.
Kini pelaku terjerat pasal 378 KUHP atau 372 KUHP dengan hukuman pidana empat tahun penjara.

Sementara itu salah seorang pelaku THY mengaku aksi tersebut berdasarkan inisiatifnya. Dia berkilah uang tersebut sudah habis untuk membayar utang yang dimiliki yang besarnya Rp 400 juta.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia