Senin, 25 Sep 2017
radarjogja
Gunung Kidul

Mawar Digerayangi Bagian Sensitifnya di Ruang Laboratorium

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Siswi SMK

Selasa, 05 Sep 2017 11:34 | editor : Jihad Rokhadi

Kasus guru cabul kembali terjadi di wilayah DIJ. Kali ini kekerasan seksual diduga dialami Mawar (bukan nama sebenarnya, Red), siswi sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Pelakunya Bahtiar,28. Warga Siraman, Wonosari, itu tak lain pengajar di SMK tersebut yang berstatus guru honorer. Karena ulah bejatnya, Bahtiar harus berhadapan dengan hukum. Kini dia meringkuk di sel tahanan Mapolres Gunungkidul untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Dari hasil penyidikan, pencabulan berlangsung di lingkungan sekolah. Tapatnya di ruang laboratorium,” ungkap Kabag Humas Polres Gunungkidul Iptu Ngadino kemarin (4/9).

Menurut Ngadino, kasus tersebut terjadi dua bulan lalu. Namun, keluarga korban baru melaporkan peristiwa yang dialami Mawar beberapa hari lalu. Itu setelah Mawar memberanikan diri bilang kepada orang tuanya, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pelaporan ke Polsek Karangmojo.

Dari pengakuan korban, kata Ngadino, pelaku bertindak asusila ketika ruang laboratorium dalam keadaan sepi. Saat itu korban sedang mengerjakan tugas. “Bagian sensitif korban diraba oleh pelaku,” bebernya.

Kasus tersebut kini dalam penanganan aparat Polsek Karangmojo. Menanggapi kasus tersebut, Kapolsek Karangmojo Kompol Irianto enggan banyak berkomentar. Alasan kehati-hatian menjadi pertimbanannya. “Ini masalah sensitif. Jangan sampai korban menjadi malu dan tak mau sekolah,” katanya. 

Kasus yang menimpa Mawar menambah panjang kasus kekerasan seksual di wilayah DIJ. Sebagaimana diketahui, kasus serupa menimpa A,15, siswi madrasah di wilayah Giriloyo, Bantul pada Januari lalu. Pelakunya tak lain guru bimbingan konseling di madrasah tersebut bernama Poniman,54. Sementara di Kulonprogo, tindak asusila terhadap anak dilakukan Suparjoto alias Kelik, warga Gerbosari, Samigaluh, Maret-Mei lalu. Korbannya tak lain anak kandung Kelik sendiri yang masih duduk di bangku sekolah kelas 1 SMP. Pelaku nekat menggauli anaknya karena ditinggal kerja istrinya di luar negeri.

Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak mengundang keprihatinan banyak pihak. Psikolog anak Gita Nuraini memandang, banyak hal yang melatarbelakangi pelaku melakukan tindak asusila. Pertama, pelaku tidak mendapatkan kepuasan seksual dari pasangan resminya. Sehingga dia mencari kesempatan untuk mencabuli perempuan lain yang dianggap lemah dan tak berani melakukan penolakan. Kedua, adanya pengalaman melakukan pencabulan dan merasa perilakunya aman, maka pelaku cenderung ingin mengulangi. 

Sebagaimana kasus-kasus tersebut, korban selalu terlambat melapor kepada pihak berwajib. Hal itulah yang membuat pelaku seolah merasa aman akan perbuatan bejatnya. “Yang jelas, korban butuh pendampingan dan perlindungan dari orang-orang terdekat. Jangan sampai korban merasa dianggap berbeda oleh lingkungannya karena itu akan memicu trauma,” jelasnya.

Peristiwa yang menimpa korban sudah pasti menjadi pukulan berat, baik fisik maupun psikologis. Karena itu, orang-orang di sekitar korban lebih baik tidak membicarakan kasus terjadi di hadapannya. Sebaliknya, lingkungan tempat tinggal korban harus bisa membuat situasi nyaman. Jika perlu, korban terus didorong untuk tetap semangat belajar dan sekolah. “Karena korban perlu waktu untuk melakukan healing atau proses penyembuhan diri sendiri,” ungkap Gita. 

Untuk mencegah tindak kekerasan seksual terhadap anak, lanjut Gita, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Guru melalui sekolah harus membekali siswa dengan pendidikan seksual sejak dini. Dorong anak bersikap asertif atau tegas pada diri sendiri terhadap orang yang yang menyentuh bagian pribadinya. Sementara orang tua harus menciptakan pola komunikasi terbuka. Agar saat anak mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari orang lain tak segan bercerita kepada orang tuanya. Orang tua juga perlu mengenal lingkungan sekolah anak dengan baik. Misalnya, mengenal guru-guru dan karyawan sekolah anak. “Ini penting untuk meminimalisasi kasus-kasus semacam itu (pelecehan seksual anak),” tutur Gita.

Sedangkan bagi pelaku, pemerintah atau aparat perlu melakukan penegasan norma spiritual. Mereka juga harus menjalani konsultasi dengan ahli atau psikolog untuk mengendalikan hasrat seksual yang sulit dibendung. Pendidikan seksual terhadap pelaku tindak asusila tetap diperlukan. Hal itu untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan dari sisi hukum maupun sosial.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia