Rabu, 20 Sep 2017
radarjogja
Jogja

LKY Kawal Korban First Travel Asal DIJ

Kamis, 24 Aug 2017 12:13 | editor : Jihad Rokhadi

GAGAL BERANGKAT: Muhammad Faridul Ansor menunjukkan kopor dari biro umrah First Travel (FT). Warga Suryowijayayan, Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Jogja, itu menjadi salah satu korban dugaan penipuan umrah murah. Kanan, Farid menunjukkan dokumen perjanjian

GAGAL BERANGKAT: Muhammad Faridul Ansor menunjukkan kopor dari biro umrah First Travel (FT). Warga Suryowijayayan, Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Jogja, itu menjadi salah satu korban dugaan penipuan umrah murah. Kanan, Farid menunjukkan dokumen perjanjian

JOGJA- Korban dugaan penipuan umrah murah First Travel (FT) tak hanya dialami warga Jakarta dan sekitarnya. Sebagian jamaah asal DIJ pun tak luput dari bujuk rayu umrah bertarif promo Rp 14,3 juta itu. Kemarin (23/8) sedikitnya 19 warga Kota Jogja mengadukan hal tersebut ke Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY).

Salah seorang di antaranya Muhammad Faridatul Ansor dan Purwani Puji Lestari. Meski menyadari telah menjadi korban penipuan FT, keduanya tetap beraharap bisa diberangkatkan ke Tanah Suci melalui biro travel lain. Atau mendapat pengembalian uang yang telah dibayarkan.

Warga RT 19 /RW 05, Suryowijayayan, Gedongkiwo, Mantrijeron itu masih ingat betul awal berkenalan dengan FT. Bahkan, keduanya pun rela menyetorkan uang hingga Rp 42 juta pada Januari 2016. Namun, hingga kemarin mereka tak mendapatkan kepastian waktu pemberangkatan ke Arab Saudi maupun pengembalian uang (refund). “Sebenarnya kami sudah mulai curiga saat gagal berangkat dulu, tapi khusnuzon (berprasangka baik) saja. Apalagi sudah terlanjur membayar,” kata Farid.

Pensiunan guru pegawai negeri sipil itu tergiur umrah murah dari kerabatnya yang bekerja di FT Cabang Jogja. Saat itu dirinya mendapatkan cerita jika selama periode 2012-2015 jamaah umrah yang berangkat melalui FT tidak mengalami kendala. Alasan lain karena biaya yang ditawarkan FT lebih murah dibanding biro travel lainnya. “Jadi saya percaya saja,” jelasnya.

Untuk pembayaran pertama pria 61 tahun itu menyetor Rp 19 juta per orang. Farid berencana umrah bersama istrinya. Belakangan, dia diminta membayar biaya tambahan Rp 2,5 juta per orang. Karena dikatakan ada subsidi Rp1 juta, maka per orang hanya diminta setor lagi Rp 1,5 juta. Meski sudah membayar lunas, keduanya tetap gagal berangkat pada 2016.

Keduanya lantas diijanjikan berangkat pada April 2017. Lalu diundur Mei lalu. Itu pun mereka diminta berangkat ke Jakarta dengan membayar ongkos tambahan Rp 3 juta. Sesampai di Jakarta alih-alih jadwal keberangkatan ke Tanah Suci yang didapat, mereka malah hanya diinapkan di hotel selama dua minggu. Pihat FT beralasan dokumen umrah belum klir. “Kami lantas diminta kembali ke Jogja dan dijanjikan berangkat saat Ramadan,” kenangnya.

Janji pun tak kunjung ditepati. Farid lantas meminta refund ke pihak FT. Saat uang pengembalian belum ada kejelasan, Farid justru mendapat kabar tentang penangkapan bos First Travel.

Saat ini Farid hanya bisa pasrah dan berharap uang yang dikumpulkannya sejak pensiun bisa kembali. “Kalau pun tidak, kami tetap berharap bisa berangkat umrah,” katanya.

Kepala kanwil Kementerian Agama DIJ M. Luthfi Hamid mengingatkan, kasus FT menjadi tamparan keras bagi pelaksana biro travel umrah dan haji. Karena itu dia mengingatkan penyelenggara umrah maupun calon jamaah waspada. “Jangan sampai hal itu menjadi citra negatif. Ibadah yang dikomersilkan,” pintanya di sela penyerahan izin operasional biro haji dan umrah di Kanwil Kemenag DIJ kemarin.

Sementara itu, Sekretaris LKY Dwi Priyono berharap korban FT lainnya berani melapor demi mendapatkan kejelasan.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia