Jumat, 22 Sep 2017
radarjogja
Features

Krida Beksa Wirama, Sekolah Tari Jawa Pertama di Indonesia

Dirintis Pangeran Tejokusumo

Selasa, 22 Aug 2017 15:20 | editor : Jihad Rokhadi

Lahir dan berkembangnya sekolah tari di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok Gusti Pangeran Haryo (GPH) Tejokusumo. Sayangnya, kiprah Putra Sultan Hamengku Buwono (HB) VII ini belum banyak diketahui publik. Siapa sebenarnya dia?

Kusno S. Utomo, Jogja

Tejokusumo merupakan pelopor sekolah tari Jawa pertama di Nusantara. Namanya Krida Beksa Wirama atau KBW. “Lewat KBW, Pangeran Tejokusumo meletakan pondasi peradaban sekaligus nasionalisme budaya,” ujar RM Pramutomo di tengah sarasehan bertajuk Peringatan ke-99 KBW, Merajut Keindonesiaan dengan Kekuatan Seni dan Budaya di Pendapa Ndalem Tejokusuman Jalan Wakhid Hasyim Jogja, Minggu (20/8).

Sarasehan dipandu penyair, novelis, sekaligus jurnalis Purwadmadi Admadipurwa. Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Manu J. Widyaseputra juga tampil sebagai pembicara.

Pramutomo menyebutkan, KBW lahir pada 17 Agustus 1918. Tanggal kelahirnya persis dengan momentum proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Kala KBW berdiri, gaung nasionalisme tengah marak. Sejumlah elite Jawa mencetuskan era kebangkitan nasional, Boedi Oetomo 20 Mei 1908.

Dari catatannya, KBW diinisiasi Tejokusumo bersama saudara tirinya, Pangeran Suryadiningrat dan Pangeran Puruboyo. Nama terakhir setelah diangkat menjadi putra mahkota kemudian naik takhta menjadi HB VIII.

Tejokusumo dan Puruboyo lahir dari ibu yang berbeda yang statusnya sama-sama permaisuri HB VII. Ibu Tejokusumo bernama GKR Kencono. Sedangkan Puroboyo merupakan anak GKR Hemas.

Meski lahir dari beda ibu, hubungan Tejokusumo dan Puruboyo tetap hangat. Terutama saat mereka merintis pendirian KBW di luar tembok keraton.

Puruboyo naik takhta menjadi HB VIII pada 1920. Saat itu situasi keraton dalam persinggungan dengan gerakan nasionalisme anak muda. Peserta didik KBW kemudian aktif dalam gerakan Jong Java.

“KBW menjadi jembatan bagi gerakan nasionalisme yang mulai tumbuh pesat di awal 1920-an,” ucap pengajar Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.

Pramutomo menuturkan, kegiatan KBW berada di kediaman Tejokusumo. Nama Tejokusumo kelak dilestarikan sebagai salah satu pendapa di Kampus Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI).

Kini ASTI melebur menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Nama Tejokusumo diabadikan menjadi nama pendapa di Fakultas Budaya dan Sastra (FBS) UNY di kampus Karangmalang.

Semula, pendirian KBW hanya mengandalkan kedekatan pribadi antara Tejokusumo, putra mahkota dan Suryadiningrat. Namun, ketiganya tak pernah berhenti mengupayakan pengelolaan sekolah tari bervisi modern. Ada 11 tokoh lain yang bergabung.

Suryadiningrat menjadi presiden direktur KBW, Tejokusumo menjabat direktur bagian tari, KRT Wiroguno sebagai direktur bagian gamelan, dan KRT Jayadipura selaku direktur bagian kapujanggan atau sastra. Wiroguno menjabat bupati Patih Kadipaten Anom. Dia juga komponis utama di keraton yang menciptakan gendhing-gendhing upacara seperti gendhing Prabu Mataram, Raja Manggala dan Wilhelmus.Sedangkan Jayadipura merupakan desainer tata busana keraton.

“17 Agustus 2018, KBW genap berusia 100 tahun. Jejak KBW dapat dilihat dengan tumbuhnya beberapa sekolah tari. KBW menumbuhkan inspirasi kalangan terpelajar mencintai kembali tradisi lewat institusi kependidikan tari,” ajak Pramutomo.
Murid-murid KBW ada yang kemudian menjadi koreografer andal. Sebut saja Bagong Kussudiardja dan Wisnu Wardana. Keduanya pada 1956 dikirim belajar koreografer tari modern kenamaan Martha Graham di Amerika Serikat.

Salah satu peserta sarasehan, Bambing menuturkan figur Tejokusumo patut diteladani. Keturunan KRT Wiroguno ini menyebut, Tejokusumo yang mendorong setiap pangeran Keraton Jogja harus bisa menari. “Tarian di KBW juga diadopsi dan dikembangkan di Mangkunegaran, Surakarta,” ucap Bambing.

Sarasehan memeringati 99 tahun KBW itu juga menyita perhatian Haka Astana Mantika Widya. Mantan Kapolda DIJ ini masih keturunan HB VII. Haka merupakan salah satu cucu buyut Pangeran Juminah.

Dalam sejarah, Pangeran Juminah adalah kakak kandung Puruboyo. Meski telah ditetapkan sebagai putra mahkota, Juminah urung dinobatkan sebagai HB VIII. Haka datang mruput sejam sebelum diskusi berlangsung. Di lembar daftar hadir peserta, dia ada di nomor urut satu. “Saya senang dan mengapresiasi acara ini,” ucapnya

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia