Senin, 25 Sep 2017
radarjogja
Features

Tris Prayoga Muslim, Ciptakan Sepatu Khusus untuk Tuna Netra 

Bergetar saat Dekati Rintangan dan Lubang

Rabu, 09 Aug 2017 11:54 | editor : Jihad Rokhadi

FAVORIT KREANOVA: Tris Prayoga Muslim menunjukkan karyanya sepatu khusus untuk tuna netra.(Adi Daya Perdana/Radar Jogja)

FAVORIT KREANOVA: Tris Prayoga Muslim menunjukkan karyanya sepatu khusus untuk tuna netra.(Adi Daya Perdana/Radar Jogja)

Tris Prayoga Muslim menjadi bahan pembicaraan hangat di lingkungan tempat tinggalnya. Ini setelah karyanya menjadi Pemenang Favorit dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Kreanova) Provinsi Jawa Tengah 2017. Karyanya cukup spesial, sepatu khusus untuk tuna netra.

ADI DAYA PERDANA, Magelang 

Sekilas tidak ada yang berbeda dengan sepatu pada umumnya. Hanya di bagian depan ada tambahan ornamen seperti pipa kecil yang dipasang mengarah ke depan.

Di samping sepatu juga ada lampu kecil warna merah. Lampu menyala jika mesin sepatu dihidupkan.  Juga ada sensor khusus ketika akan mengalami benturan. Jadi, pengguna akan merasakan  getaran di sepatu jika menabrak benturan misalnya.
Sensor sepatu sengaja dirancang tidak hanya sensitif terhadap benturan. Tetapi juga akan bergetar jika ada lubang di sekitar sepatu. Dengan inovasi ini, seorang tuna netra bisa berjalan tanpa bantuan orang lain.

Temuan pembuatan inovasi sepatu bermula dari salah satu rekannya yang tuna netra. Dari situ muncul niatan untuk membantu dengan membuatkan sepatu modifikasi. Sepatu dinilai tidak begitu terlihat karena posisinya di bawah. Pengguna pun merasa tidak malu karena tidak tampak mencolok. “Sepatu ini sifatnya baru prototype,” ujar Tris.

Pembuatan sepatu tuna netra ini tidak mememerlukan sepatu model khusus. Hanya sepatu biasa, kemudian dimodifikasi sedemikian rupa. Di bawah telapak sepatu ada perangkat khusus sejenis prosesor komputer.

Prosesor ini yang menjadi mesin penggerak untuk menghidupkan sensor-sensor yang ada. Prosesor ditanam di bawah telapak kaki dan ditindih kembali dengan sejenis karet. Dengan demikian, pengguna tetap bisa merasa nyaman selama menggunakan sepatu tuna netra itu.

“Sepatu apa saja bisa dibuat, tapi nanti dimodifikasi. Untuk getaran, yang dirasakan pemakai akan berbeda jika bertemu lubang dan rintangan,” jelasnya.

Proses pembuatan sepatu ini di Perumahan Depkes Blok A3, Kelurahan Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang. Memakan waktu sekitar enam bulan. Sensor nanti akan bergetar biasa jika ada penghalang di depan dengan jarak 30-40 cm. Namun akan bergetar lebih panjang jika akan menemui lubang.

Biaya yang dibutuhkan memproduksi sepatu berkisar Rp 2 juta-Rp 3 juta. Harga sebesar itu karena harga komponennya yang memang mahal. Untuk mendapatkan komponen itu ia harus membeli ke Jogja. “Meski prosesornya di bawah sepatu, tidak akan mengganggu karena dilapisi karet,” katanya.

Untuk menjalankan sensor sepatu tuna netra, diperlukan power. Tris pun sudah melengkapi colokan untuk men-charge power di samping sepatu.

Sepatu ini juga dilindungi seperti bahan plastic, sehingga jika hujan, pengguna sepatu tidak usah khawatir. Sepatu dalam kondisi tahan air. Meski tergolong mahal, ia berharap sepatu ini tetap bisa dimanfaatkan para kaum tuna netra.

“Ini merupakan misi sosial, harapannya sepatu hasil teknologi kami tetap bisa dimanfaatkan orang-orang tidak mampu. Tapi karena mahal, maka memang perlu bantuan dari pemerintah,” ujar pria lulusan teknik ITB ini.

Evi Dwi Hastutik, istri Tris Prayoga Muslim, menjelaskan sepatu khusus tuna netra ini merupakan salah satu produk dari para penggiat Kampung IT. Kampung IT dirintis sejak 2014 dan sampai saat ini memiliki beberapa produk. Di antaranya Kentongan Digital, sepatu khusus tuna netra, dan alat ukur kesuburan tanah.  “Awalnya belajar bareng-bareng nge-blog,” katanya.

Pada lomba kreanova tingkat Jateng, terdapat empat inovasi yang diajukan. Mulai dari kentongan digital, sepatu tuna netra, hingga alat ukur kesuburan tanah. Namun hanya sepatu saja yang lolos sampai provinsi.

“Kami akan terus kembangkan temuan ini. Mudah-mudahan bisa bersinergi dengan pemerintah, agar produknya bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina mengapresiasi temuan sepatu khusus tuna netra ini. Hal ini bisa membangkitkan jiwa enterpreneur bagi warga yang lain. Pengembangan SDM merupakan salah satu solusi mengatasi minimnya luas wilayah Kota Magelang.

“Temuan ini yang membawa Kota Magelang menjadi wali kota pelopor,” jelasnya.  Menurut Windarti, jika memproduksi sepatu khusus tuna netra ini dengan skala lebih besar, maka bisa mengurangi cost. Untuk pemasaran produk, nantinya bisa melibatkan para blogger yang tergabung dalam kampung IT.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia