Rabu, 20 Sep 2017
radarjogja
Sleman

Aduuhh.. Pungli Rp 30 Ribu di Kaliadem

Senin, 17 Jul 2017 13:55 | editor : Jihad Rokhadi

Wajah pariwisata Sleman tercoreng dengan adanya aksi pungutan liar (pungli) di gerbang masuk Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan. Wisatawan yang mengunjungi lokasi tersebut dipaksa membayar uang masuk sebesar Rp 30 ribu. Alasannya, biaya itu untuk jasa pemandu wisata dan ojek.

Salah seorang korban pungli Rendy Hendra mengaku kecewa dengan aksi tersebut. Warga Sleman tersebut tidak menyangka ada pungutan selain di gerbang resmi Kaliadem. Dia mengungkapkan, petugas retribusi tidak mengizinkan dirinya naik ke wilayah wisata bungker Kaliadem.

”Tidak boleh melanjutkan naik, ya karena tidak mau membayar sebesar Rp 30 ribu tadi. Akhirnya saya balik kanan dan pulang, tidak jadi berlibur di sana,” ujarnya dihubungi melalui layanan pesan Facebook, kemarin (16/7).

Rendy mengungkapkan, sempat terjadi perdebatan dengan pria yang mencegat laju kendaraan bermotornya. Dalam perdebatan tersebut terungkap alasan pungutan untuk tarif pemandu wisata dan jasa ojek. Bahkan dia juga diarahkan untuk memarkir kendaraan di Dusun Ngrangkah.

”Pakai jasa ojek karena alasannya kondisi jalan yang rusak dan tidak laik dilewati,” ungkapnya.
Dalam pengamatan Radar Jogja, kendaraan pribadi sejatinya masih bisa melalui jalan tersebut. Hanya harus berhati-hati karena kondisi jalan berpasir.

Rendy sendiri mengaku mengungkapkan kekecewaannya di media sosial bukan untuk memperburuk citra wisata Sleman. Namun, hanya ingin mempertanyakan pungutan yang dilakukan di luar gerbang resmi Kaliadem. Terlebih tariff yang dikenakan jauh dari ketentuan retribusi Pemkab Sleman.

”Kami berempat, dengan teman saya tadi. Kecewa sudah pasti karena sudah bayar tiket resmi. Semoga pihak terkait mengambil langkah tegas jika memang terbukti pungli,” harapnya.

Terpisah, salah satu pengurus wisata bungker Kaliadem menuturkan hanya ada dua retribusi resmi. Pertama adalah retribusi masuk yang dikelola Dinas Pariwisata Sleman dan retribusi parkir yang dikelola Dinas Perhubungan Sleman. Retribusi masuk sebesar Rp 3.000 , sedangkan parkir Rp 2.000.

”Restribusi ilegal sudah lama, pernah berhenti tapi tetap dilanjut lagi. Pernah ada yang komplain ke kami karena sempat dimintai Rp 35 ribu. Kami tidak bisa menjawab karena beda pengelola,” ujar pria yang enggan disebut namanya ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Sudarningsih berjanji segera melakukan penyelidikan. Dia hanya membenarkan adanya dua retribusi resmi yang dikeluarkan oleh Pemkab Sleman. Sementara untuk pungutan sebesar Rp 30 ribu jelas tidak resmi.

Dia menegaska, jajarannya tidak pernah mengeluarkan nominal retribusi Rp 30 ribu. Menurutnya, angka ini jauh dari aturan retribusi yang diterapkan oleh Pemkab Sleman. Mengenai adanya pungli, dia meminta warga aktif melapor melalui aplikasi Lapor Sleman.

”Kami belum pernah mengeluarkan (nominal) tiket sebesar itu. Akan segera kami cek ke lapangan, jadi pelajaran untuk pengelola wisata lain jangan nuthuk harga. Warga silakan manfaatkan Lapor Sleman jika ada temuan pungli lainnya,” tegasnya. 

(rj/dwi/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia