Jumat, 22 Sep 2017
radarjogja
Sleman

Petani Salak ”Mati” di Kebun Sendiri

Rabu, 12 Jul 2017 17:29 | editor : Jihad Rokhadi

MERASA TERPURUK: Petani salak pondoh dari Desa Wonokerto, Turi mendatangi kantor Setda Pemkab Sleman, kemarin (11/7). Mereka membawa keranda sebagai simbol keterpurukan petani salak saat ini.

MERASA TERPURUK: Petani salak pondoh dari Desa Wonokerto, Turi mendatangi kantor Setda Pemkab Sleman, kemarin (11/7). Mereka membawa keranda sebagai simbol keterpurukan petani salak saat ini. (DWI AGUS A/ RADAR JOGJA)

SLEMAN – Ratusan petani salak pondoh Desa Wonokerto, Turi menggeruduk kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Sleman, kemarin (11/7). Para petani ini nguda rasa terkait anjloknya harga jual salak pondoh beberapa waktu ini. Bahkan titik terendah sempat di harga Rp 1.500 per kilogram.

Kades Wonokerto Tomon Haryowirosobo mengungkapkan, kondisi panen tahun ini dilema. Dari sisi hasil cukup melimpah karena masuk masa panen raya. Sementara dari segi penjualan menurun karena jumlah permintaan justru berkurang.

”Berharap Pemkab Sleman turun tangan dengan membuat kebijakan jangka pendek. Agar harga salak pondoh stabil lagi. Ini termasuk harga terendah dibanding tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya kemarin (11/7).

Tomon juga menjabarkan beberapa dugaan anjloknya harga salak. Pertama, karena adanya strategi penjualan bibit salak pondoh ke luar daerah. Strategi ini diawali pada era 1990-an lalu.

Dampak dari penjualan bibit baru terasa beberapa waktu ini. Masa produktif salak sendiri pada usia 20 hingga 40 tahun. Bibit yang sudah terjual ke luar daerah, menurutnya, telah memasuki masa produktif.

”Itu berdasarkan kajian kecil kami tentang penjualan bibit. Kaitannya adalah persaingan pasar dengan daerah penghasil salak pondok lainnya. Adapula permainan tengkulak, tapi kami masih mendalami,” ujarnya.

Rombongan ini diterima langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Sumadi. Dia berjanji akan merancang kebijakan khusus. Fokusnya adalah memproteksi petani salak, tidak hanya di Wonokerto tapi semua petani salak wilayah di Sleman.
Para petani sebetulnya ingin bertemu dengan Bupati Sri Purnomo. Sayangnya, SP, sapaannya, tak bisa menemui karena ada kegiatan yang jadwalnya bersamaan.

Sebelumnya Radar Jogja sempat mewawancarai Bupati Sleman Sri Purnomo. Dia berjanji akan melakukan kajian untuk merumuskan kebijakan yang tepat terkait hasil pertanian lokal Sleman.

Menurutnya, kondisi yang dialami petani salak ini karena kebetulan masuk kemarau basah yang sangat mendukung produktivitas salak. Bertepatan pula dengan hari raya dan ada kebijakan kendaraan transportasi tidak bisa keluar H-7. Alhasil, salak tertahan di Sleman.

”Akan meningkatkan pendampingan dan pelatihan kepada petani salak. Salah satunya adalah mengenai diversifikasi produk. Bisa mengolah salak dalam berbagai produk kuliner,” jelasnya.

Kabid Holtikultura Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Edi Sri Harmanto mengungkapkan, pihaknya sudah memberikan pendampingan. Terutama pascapanen tentang salak yang layak jual. Adapula pendampingan pengolahan diversifikasi produk.

Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan mengolah salak jadi sirup, manisan hingga kripik salak. ”Bahkan kami juga tengah melakukan pendekatan dengan pasar New Zealand dan Kamboja,” ujarnya.

Salah seorang petani salak Sunarjo meminta Pemkab Sleman serius dalam melakukan pendampingan khusus diversifikasi. Selama ini, sejatinya program tersebut sudah berjalan. Hanya, diakuinya, ada kelemahan pada aspek perizinan dan pemasaran.

Menurut sunarjo, Pemkab Sleman belum sepenuhnya mendampingi. Dia merasa peran pemerintah baru sebatas menginformasikan. Terutama terkait pengurusan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang belum total.

”Misal untuk memenuhi standar PIRT seperti apa kami belum tahu agar bisa memenuhi standar kualifikasi dan kualitasnya. Produk diversifikasi seperti sirup dan kripik salak sudah ada, tapi kami tidak bisa memasarkan. Ditambah lagi, salak dari luar Sleman justru lebih murah, sehingga kami butuh proteksi,” jelasnya.

(rj/dwi/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia