Sabtu, 23 Sep 2017
radarjogja
Magelang

Ngakunya Ritual Mbelah Rogo, Ternyata Setubuhi Anak

Selasa, 11 Jul 2017 13:40 | editor : Jihad Rokhadi

PREDATOR ANAK: Dua tersangka pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur ditangkap oleh Satreskrim Polres Magelang.

PREDATOR ANAK: Dua tersangka pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur ditangkap oleh Satreskrim Polres Magelang. (JERIMIA/RADAR JOGJA)

MAGELANG – PREDATOR anak tampaknya masih berkeliaran dimana-mana. Orang tua yang memiliki anak harus waspada dan lebih hati-hati dalam menjaga buah hatinya. Di Ngablak, Kabupaten Magelang dua anak menjadi korban pencabulan dan persetubuhan oleh orang yang mengaku sebagai dukun.

Tak tanggung-tanggung, dua kasus mencuat dengan tersangka dan korban yang berbeda. Kedua tersangka pencabulan kini sudah ditangkap oleh Satuan Reskrim Polres Magelang. Keduanya berhasil ditangkap pada waktu yang berbeda. Tersangka adalah Haryoto, 49, dan Taim, 48. Keduanya adalah warga Ngablak, Kabupaten Magelang.

Kasubbag Humas Polres Magelang AKP Santoso menjelaskan, kedua kasus tersebut motifnya hampir mirip. ”Keluarga korban tidak terima dan langsung melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Magelang,” jelasnya kemarin (10/7).

Kasus pertama dilakukan oleh tersangka Taim kepada korban Melati, 14. Modusnya melakukan pijat di bagian vital korban dengan alasan menghilangkan jin yang berada di sekitar bagian vital tersebut.

Pencabulan tersebut dilakukan oleh Taim pada 28 Juni sekitar pukul 07.00 di rumahnya. Sedangkan orang tua korban tidak tahu kejadiannya karena mereka menunggu di ruang tamu.

”Tujuan orang tua korban mengajak si anak ke tempat Taim agar didoakan supaya menjadi pintar. Awalnya si anak sudah menolak saat akan dipijat oleh tersangka, tapi ditakut-takuti hingga akhirnya korban menurut,” ungkap Santoso.

Kasus kedua dengan tersangka Haryoto melakukan persetubuhan terhadap Bunga, 17, dengan modus ritual mbelah rogo. Alasannya, ritual tersebut bertujuan mengeluarkan air suci dari tubuh manusia.

”Korban sempat mengatakan tidak bisa, tetapi tersangka memperdaya dengan mengatakan mencoba untuk membantu korban mengeluarkan air suci tersebut,” ungkap Santoso.

Perbuatan tersebut dilakukan tersangka Haryoto pada 27 Juni lalu di sebuah gubug. Korban juga sempat menolak saat diajak berhubungan badan, tetapi tersangka mengatakan, kalau ritual ini tidak dilaksanakan korban akan menjadi gila. ”Karena takut, korban akhirnya tidak dapat menolak permintaan tersangka,” jelasnya.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 81 (persetubuhan) dan Pasal 82 (pencabulan) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan Kedua UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU Jo UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancaman hukuman pidana maksimal 15 tahun dan atau denda paling banyak Rp 5 miliar.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia