Kamis, 21 Sep 2017
radarjogja
Features

Dar Der Dor, Mortir Jatuh di Depan Gerbang Kantor

Pengalaman Iptu Bhayu Wijatmoko Bertugas di S

Senin, 10 Jul 2017 12:51 | editor : Jihad Rokhadi

KUASAI TIGA BAHASA: Iptu Bhayu Wijatmoko saat berinteraksi dengan warga lokal di Sudan Selatan. Dia bertugas di sana sejak Juni 2015 lalu sebagai Individual Police Officer.

KUASAI TIGA BAHASA: Iptu Bhayu Wijatmoko saat berinteraksi dengan warga lokal di Sudan Selatan. Dia bertugas di sana sejak Juni 2015 lalu sebagai Individual Police Officer.

Tugas polisi adalah mengayomi, melindungi, dan melayani masyarakat. Itu di Indonesia. Bagaimana kalau polisi Indonesia bertugas di luar negeri? Inspektur Satu (Iptu) Bhayu Wijatmoko punya banyak cerita setelah bertugas setahun di Sudan Selatan beberapa waktu lalu.

RIZAL SETYO NUGROHO, Bantul

SEBELUM Lebaran, Iptu Bhayu berkesempatan mudik ke kediamannya yang asri di bilangan Randubelang, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Sejak Juni 2015 lalu dia bertugas di negeri konflik di Timur Tengah tersebut.

Rencananya dia berangkat lagi setelah mendapat perpanjangan kontrak dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama enam bulan. ”Tempat saya tugas di daerah Malakal. Perbatasan dengan Sudan Utara dan Etiopia,” ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (7/7).

Sebagai Individual Police Officer (IPO) tugas pokoknya menjalin kerja sama antara polisi dengan PBB. Yaitu pengembangan polisi lokal, melatihnya hingga bisa mendapat standardisasi polisi internasional. Sebab, negara tempatnya tugas itu baru merdeka dua tahun dari Sudan Utara.

Sebagai negara baru, polisi setempat baru sedikit yang bisa mengerjakan tugas-tugas kepolisian. Utamanya menjaga keamanan dan suasana kondusif di wilayahnya.

”Sebagian besar polisi atau tentara bekas kombatan yang dulu melakukan pemberontakan kepada pemerintah Sudan Utara,” bebernya.

Tak ayal, sebagai negara baru stabilitas keamanan masih jauh dari harapan. Perang dan desing peluru menjadi bagian kebisingan harian. Bahkan dentuman tembakan dan bom sudah jadi rutinitas.

”Kadang masih pagi buta, baru saja Subuh sudah dar-der-dor. Pernah suatu kali mortir jatuh di depan gerbang kantor, sudah biasa,” tuturnya terkekeh.

Di kantor, Bhayu menjabat sebagai Team Leader Community Policing, dia membawahi beberapa polisi dari dari Etiopia, Zambia, dan Rusia. Sementara atasannya berasal dari negara-negara Eropa dan Afrika. Kendati begitu, tidak membuatnya minder.

”Atasan saya ada yang brigjen dan kolonel. Kalau dilihat-lihat, pangkat saya paling rendah, tapi saya masih punya bawahan orang Eropa. Kapan lagi perintah-perintah orang bule,” lanjutnya.

Sebagai IPO, dia berkewajiban memberikan advisor polisi lokal. Yaitu mengembangkan skill lapangan, memberikan polisi lokal teknik bela diri, dan menembak. Membangun kapasitas dan memberikan pemahaman tugas polisi.

”Mengubah paradigma mereka mengenai polisi. Tidak represif seperti yang ada di negara itu,” ungkapnya.

Dia mengaku hal tersebut tidaklah mudah. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dia memulai dengan menjalin komunikasi dengan semua stakeholder di tempat tersebut. Baik sesama polisi, pemerintah lokal maupun warga sipil. Dia melakukannya dengan berkumpul dan merokok di sela-sela kesibukan kerja.

”Kalau tidak bisa mencari celahnya bisa stres berada di lingkungan seperti itu. Fasilitas sangat minim, sementara kriminalitas sangat tinggi. Tapi bagaimana lagi, namanya tugas jadi harus dikerjakan,” tuturnya.

Dengan sering menjalin komunikasi, beberapa permasalahan dicari jalan keluarnya. Dia punya senjata rahasia berupa rokok lokal Indonesia yang menurutnya sangat disukai sesama rekan polisi asal luar negeri maupun warga setempat. Jumlahnya pun sangat langka, kalaupun ada harganya mahal.

”Sekitar 50 dollar, sudah berapa itu kalau dirupiahkan? Saya memang sengaja bawa dari Indonesia. Diirit-irit, satu bungkus bisa buat tiga hari,” beber Brimob yang pernah bertugas di Aceh dan Timor Leste tersebut.

Dari diskusi itu, sampai pada kesimpulan bahwa salah satu pemicu tingginya angka kriminalitas di wilayahnya adalah konsumsi miras. Dari miras, bisa terjadi kericuhan dan bahkan pemerkosaan yang kerap sekali terjadi. Karena itu dengan beberapa polisi IPO lainnya, dia menggerebek sebuah pabrik miras yang berproduksi di rumahan.

Namun ternyata setelah digerebek, warga setempat ternyata menghalanginya keluar dari daerah tersebut. Mobil yang membawa miras tersebut dikepung oleh warga yang mengamuk. Sementara sebagai IPO seharusnya dia dilindungi oleh pasukan Force Police Unit (FPU) PBB dari Rwanda. Namun ternyata FPU tersebut keder melihat kerumunan massa yang menghadang.

”Bersama teman polisi dari Prancis, akhirnya saya ambil smoke bomb dan saya lemparkan ke kerumunan. Terus saya masuk mobil dan pergi. Daripada mobil dirusak, padahal itu inventaris,” kata bapak tiga anak tersebut.
Kejadian tersebut tidak membuatnya kapok. Pekan depan dia akan kembali bertugas sampai enam bulan mendatang.

Menurutnya, pengalaman berharga tersebut harus menjadi pemicu polisi lainnya untuk terus meningkatkan kapasitas. Dia mengaku, saat ini bisa menguasai tiga bahasa yakni Inggris, Prancis, dan Arab.

”Saya masih bercita-cita ingin tugas di negara yang mayoritas bahasa Prancis seperti Haiti. Agar kemampuan bahasa asing terus terasah,” terang polisi Angkatan Dasba 2000 tersebut. 

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia