Rabu, 20 Sep 2017
radarjogja
Budaya

Museum Kolong Tangga Jadi Loket Tiket

Sabtu, 08 Jul 2017 13:05 | editor : Jihad Rokhadi

Taman Budaya Yogyakarta (TBY) direnovasi sejak 3 Juli lalu. Hal itu berdampak pada keberadaan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, yang menjadi bagian di dalam gedung pusat pertunjukan budaya Jogjakarta itu. Museum terpaksa ditutup selama renovasi. Kemarin (7/7) dua relawan tampak sibuk mengemasi koleksi mainan museum.

Mereka belum tahu sampai kapan museum yang terletak di bawah kolong tangga menuju Concert Hall itu dibuka kembali.
“Sejak awal pun kami sadar tidak bisa permanen di sana. Kami hanya meminjam tempat untuk sementara,” ungkap Public Relation Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga Redy Kuswanto.

Menurutnya, Yayasan Dunia Damai yang menaungi museum tersebut telah berusaha mencari ruang pengganti kolong tangga TBY. Terutama sejak kontrak lima tahun pertama di TBY berakhir. Redy berharap peran serta pemerintah untuk memberikan ruang agar keberadaan museum yang dikelola puluhan relawan itu tetap eksis.

Redy mengakui, cepat atau lambat museum harus keluar dari TBY. Namun, surat pemberitahuaan yang diterimanya beberapa waktu lalu terasa begitu mendadak. Itulah yang membuatnya panik. Karena harus mengamankan ribuan koleksi museum. “Senin (3/7) renovasi sudah dimulai, surat (pemberitahuan) kami terima sehari berikutnya,” ungkap Redy.

Surat tersebut memang hanya berisi pemberitahuan. Tidak menyebut kalimat yang mengharuskan museum harus pindah. Namun, adanya kalimat bahwa setelah renovasi kolong tangga akan difungsikan menjadi loket tiket mengisyaratkan pengelola museum harus segera mencari tempat lain.

Dikatakan, sejak 2008 atau sembilan tahun berjalan museum tersebut menjadi ruang edukasi masyarakat. Terutama anak-anak. Di museum tersebut tersedia aneka alat permainan tradisional. Tempat itu bukan hanya menjadi ruang belajar mengenal mainan, tapi juga proses sejarah dan kreativitasnya. Serta pendidikan moral yang terkandung dalam beragam program dan koleksi museum.

Sejak awal berdiri hanya ada sekitar empat ribuan koleksi mainan yang merupakan hibah pendiri museum, Rudi Corena. Kini museum memiliki lebih dari 18 ribu koleksi. Program kegiatan museum pun terus berkembang. Tak hanya dari tingkat kunjung museum. Aktivitas lain seperti workshop juga terus berjalan. Bahkan, pengelola museum merencanakan eduksi ekologi yang diagendakan pada September 2017.

“Sekarang yang terpenting kami amankan dulu semua koleksi. Nama Kolong Tangga akan kami bawa terus meski nanti menempati lokasi yang berbeda. Nama itu akan kami pakai sampai kapan pun,”ujarnya.

Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru mengatakan, selain memang telah dijadwalkan untuk direnovasi, keberadaan museum di dalam TBY perlu dicermati ulang. Diah berdalih tak berhak menutup museum. Namun, dia harus mengoptimalkan sarana yang ada. Termasuk mengembalikan fungsi ruangan yang sebelumnya untuk museum seperti semula.

“Karena tempatnya nyelempit. Kan kasian dengan museumnya. Seakan-akan hanya seadanya. Semoga segera didapat ruang yang lebih representatif, yang otomatis akan menghargai benda koleksinya,” ucapnya.

Dikatakan, proses renovasi TBY direncanakan hingga empat bulan ke depan. Selain lantai, plafon dan toilet akan diperbaiki. Renovasi supaya kegiatan berkesenian lebih optimal. Baik fungsi maupun layanannya. Karena itu, keberadaan museum di bawah tangga Concert Hall tidak memungkinkan lagi. Diah mengaku, sebelum masuk tahap renovasi pihaknya telah meminta masukan dari para seninam Jogjakarta.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia