Minggu, 24 Sep 2017
radarjogja
Features

Kisah Fatimah, Bayi Penderita Gizi Buruk di Gunungkidul

Keluarga Miskin, Ibu Berisiko Tinggi, dan Jar

Jumat, 07 Jul 2017 11:47 | editor : Jihad Rokhadi

MEMPRIHATINKAN– Indri Mutoharoh, 38, warga Padukuhan Creno RT 04/04, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari menyusui Fatimah di RSUD Wonosari.

MEMPRIHATINKAN– Indri Mutoharoh, 38, warga Padukuhan Creno RT 04/04, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari menyusui Fatimah di RSUD Wonosari. (GUNAWAN)

Penderitaan Fatimah dialami sejak lahir. Hingga usianya 1,5 bulan, kondisi fisiknya terus dipantau karena menderita gizi buruk. Bahkan, dikhawatirkan kondisinya kembali memburuk jika dibawa pulang dari RSUD Wonosari. Bagaimana kisahnya ?

GUNAWAN, Gunungkidul

DARI balik pintu Bangsal Melati RSUD Wonosari terdengar rengekan keras seorang bayi. Tangisannya semakin kencang saat perawat membawa masuk ke sebuah ruangan. Sejumlah penjaga ruangan bangsal berdiri terpaku dan mengarahkan pandangan ke arah bayi mungil itu.

Bayi itu bernama Fatimah. Anak pasangan Eko Suharno, 38, dan Indri Mutoharoh, 38, warga Creno Rt 04/04, Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari ini lahir 19 Mei 2017 lalu. Fatimah harus dilarikan ke RSUD Wonosari sejak tiga hari lalu dan diagnosis menderita gizi buruk. “Dia lahir di perjalanan menuju persalinan di wilayah Kabupaten Klaten,” kata Indri, kemarin (6/7).

Ibu delapan anak ini berasal dari keluarga kurang mampu. Suami bekerja serabutan semantara dirinya adalah ibu rumah tangga. Bersama dengan keluarga sepakat membawa buah hati ke RSUD Gunungkidul, karena kondisi kesehatan anak menurun. “Kami berharap, anak segera sehat dan bisa pulang,” ucap tamatan sekolah dasar (SD) itu.

Hanya saja, keinginan Indri untuk segera membawa pulang belahan jiwa ke kampung halaman belum dapat terpenuhi dalam waktu dekat. Sampai sengan sekarang Fatimah masih menjalani pemulihan kesehatan sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan.

Pejabat Pengelola Infromasi Daerah (TPID) RSUD Wonosari, Aris Suryanto mengatakan, pasien bernama Fatimah diketahui menderita gizi buruk. Dari hasil penelusuran data, berat badan saat lahir seberat 2, 2 kilogram dengan panjang 46 sentimeter.

“Ketika masuk ke RSUD Wonosari, berat badannya tinggal 1, 7 kilogram. Sekarang petugas medis sedang melakukan upaya pemulihan kesehatan,” kata Aris Suryanto.

Menurut Aris, tim dokter yang menangani menyebutkan masa pemulihan kesehatan Fatimah tidak bisa berlangsung instan. Sebab, bayi tersebut dinyatakan sehat ketika berat badan kembali normal, penyakit penyerta sembuh dan perkembangan motorik sesuai dengan kelompok umur berjalan dengan baik.”Jadi, orangtuanya harus sabar,” terangnya.

Menurut dia, kasus gizi buruk yang menimpa pasien Fatimah tidak lepas dari riwayat orang tua. Ibu si anak juga diketahui berisiko tinggi terhadap kesehatan, karena jarak kehamilan ke delapan anaknya pendek. “Terlebih, orang tua anak berasal dari keluarga kurang mampu,” ujarnya.

Aris memastikan, biaya pemulihan kesehatan bagi Fatimah dibebaskan. Namun demikian, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan pantauan kesehatan setelah kembali ke rumah.“Tentu diperlukan pemantauan khsusus. Sebab kalau kesehatan terabaikan  kondisi kesehatan bisa kembali memburuk,” ungkapnya.

Nah, munculnya kasus gizi buruk ini seolah menjadi tamparan keras bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Karena itu, petinggi dinkes memerintahkan agar puskesmas mengintensifkan pemantauan dan merespons cepat untuk menghindari kasus serupa agar tidak terjadi lagi.

Plt Kepala Dinkes Gunungkidul Sujoko mengaku kaget dengan kasus ini dan sudah memerintahkan untuk melakukan monitoring. Di tengah menunggu proses pemulihan kesehatan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk melakukan monitoring. “Kami meminta agar Puskesmas II Gedangsari nanti melakukan pendampingan terhadap perkembangan kesehatan anak maupun anggota keluarga,” tegasnya.

Pendampingan tidak hanya dilakukan bagi penderita, namun juga termasuk kedua orang tua dan anggota keluarga. Langkah demikian harus dilakukan supaya ke depan tidak muncul lagi kasus serupa. “Sebelumnya kasus gizi buruk pernah ada dan sudah mendapatkan penanganan,” ujarnya.

Dengan adanya kasus gizi buruk belakangan ini dinkses belum mempertimbangkan untuk menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di wilayah Gedangsari.

Di bagian lain, jumlah anak di Gunungkidul yang mengalami gangguan kesehatan ternyata cukup tinggi. Meski grafiknya cenderung tidak naik, jumlah anak tidak sehat setiap tahun angkanya masih di atas 6.000 kasus.

Data yang dihimpun Radar Jogja, data pasien anak di RSUD Wonosari per 1 Januari 2015 sampai dengan 31 Desember 2015 sebanyak 6.126 anak. Dalam rentang satu tahun ribuan anak mengalami gangguan kesehatan. Hasil diagnosa dokter, pasien anak menderita jenis penyakit seperti,  tubercolosis (TB) atau infeksi saluran pernafasan, pneumonia atau paru-paru basah, DHF atau demam berdarah dangue (DBD), febris (demam), demam typoid, ispa (infeksi saluran pernafasan akut), asma, thalassemia, anemia, gizi buruk dan yang lain. Namun jenis penyakit paling dominan adalah Ispa dan pneumonia.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia