Minggu, 24 Sep 2017
radarjogja
Jogja

Pedagang Sarkem Arkhirnya Digusur..

Kamis, 06 Jul 2017 18:20 | editor : Jihad Rokhadi

ALAT BERAT: Backhoe dikerahkan untuk membongkar kios pedagang di Jalan Pasar Kembang Jogja.

ALAT BERAT: Backhoe dikerahkan untuk membongkar kios pedagang di Jalan Pasar Kembang Jogja. (SETYAKI)

JOGJA –Perlawanan para pedagang di selatan Stasiun Tugu agar tetap bisa bertahan akhirnya kandas. Kemarin (5/7) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Jogja mengerahkan petugas untuk menggusur sedikitnya 70 kios di utara Jalan Pasar Kembang. Seluruh bangunan dirobohkan menggunakan alat berat.

Executive Vice President (EVP) PT KAI Daop 6 Jogja Hendy Helmi menegaskan, pihaknya tak lagi membuka pintu dialog dengan para pedagang. Alasannya, sosialisasi dan permintaan untuk pindah bagi pedagang sudah dilakukan sejak lama.

Bahkan, PT KAI telah melayangkan surat peringatan bagi pedagang yang membandel. Namun, pedagang tak pernah menggubrisnya. Di sisi lain, rencana penataan kawasan tersebut telah dibuat sejak 2000. “Saya pikir sekarang sudah tidak waktunya dialog,” ujarnya di Stasiun Tugu Jogja.

Tak mampu melawan, para pedagang pun berusaha menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam kios. Untuk mempercepat proses pembongkaran, petugas PT KAI membantu mereka. Kendati demikian, para pedagang menyayangkan sikap petugas. Mereka juga mempertanyakan sikap Pemkot Jogja atas penggusuran tersebut.

Salah seorang pedagang, Sumarlin, beralasan, selama ini rutin membayar retribusi kepada pemkot. Bahkan, dia memiliki kartu bukti pedagang (KBP) yang dikeluarkan Dinas Pengelolaan Pasar (sekarang Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Red).

“Hingga sebelum digusur kami masih ditariki retribusi, kok saat digusur Pemkot Jogja tidak kelihatan,” kecam salah seorang pedagang Sumarlin.

Anggota DPRD DIJ Chang Wendriyanto yang juga menyaksikan proses penggusuran turut mempertanyakan langkah pemkot dalam melindungi para pedagang. Menurut dia, para pedagang sebenarnya tidak menolak rencana revitalisasi kawasan selatan Stasiun Tugu Jogja. Hanya, mereka tidak pernah diajak berdialog soal desain penataan.

Chang juga mempertanyakan solusi bagi para pedagang yang kiosnya digusur. “Penggusuran tanpa relokasi akan menambah pengangguran dan kemiskinan baru,” tegasnya.

Kepala Departemen Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja Yogi Zul Fadhli pun tak kuasa mencegah petugas PT KAI membongkar kios. Meskipun dia mengklaim bahwa penggusuran itu tak memiliki landasan hukum yang kuat. Alasannya, hanya berdasarkan surat kekancingan yang diberikan Keraton Jogja pada PT KAI 2015 lalu.

“Penggusuran mata pencaharian pedagang tanpa solusi dan dialog itu sudah tidak manusiawi,” sindirnya.

Menyikapi persoalan tersebut, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti memanggil Hendy Helmi ke balai kota untuk dimintai keterangannya. Pemanggilan diagendakan hari ini.

HS, sapaannya, telah menyempatkan diri melihat langsung kondisi kios yang digusur. Tapi dirinya belum mau banyak berkomentar sebelum bertemu Hendy.

HS hanya menyebut, pertemuannya dengan Hendy untuk meminta penjelasan soal tindak lanjut rencana penataan sisi selatan Stasiun Tugu Jogja. Termasuk penataan pedagang.

Sementara Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menegaskan bahwa penataan kawasan Tugu merupakan kewenangan PT KAI, selaku pihak yang memiliki alas hak tanah persil yang ditempati pedagang. Menurutnya, Pemkot Jogja saja tidak memiliki hak menempati lahan tersebut.

Bahkan, pemkot terkena imbas atas penataan di kawasan tersebut. Kantor Kecamatan Gedongtengen juga harus dipindah. “Tentu akan kami pikirkan solusi bagi pedagang yang terdampak maupun kantor kecamatan. Supaya pelayanan masyarakat tidak terganggu,” katanya.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia