Jumat, 22 Sep 2017
radarjogja
Features

Mbah Suparni yang Tetap Enerjik di Usia 117 Tahun

Semeleh lan Narima Ing Pandum

Kamis, 06 Jul 2017 15:12 | editor : Jihad Rokhadi

SEHAT WALAFIAT: Mbah Suparni menjadi teladan bagi warga Desa Tanjungharjo, Nanggulan, Kulonprogo. Meski usianya lebih seabad tetap mandiri memenuhi kehidupan sehari-hari

SEHAT WALAFIAT: Mbah Suparni menjadi teladan bagi warga Desa Tanjungharjo, Nanggulan, Kulonprogo. Meski usianya lebih seabad tetap mandiri memenuhi kehidupan sehari-hari (Hendri Utomo)

Memiliki usia di atas 100 tahun tentu tergolong manusia langka. Apalagi jika di usia senjanya tampak sehat seperti Mbah Suparti. Warga Padukuhan Sandang, Tanjungharjo, Nanggulan, Kulonprogo itu tetap beraktivitas di usianya yang mencapai 117 tahun.

Hendri Utomo, KULONPROGO

Hidup sehat itu pilihan. Namun, umur panjang di tangan Tuhan. Mbah Suparni sadar jika setiap agama menganjurkan umat selalu berdoa supaya diberi umur panjang. Itu tentu saja harus diimbangi dengan pola hidup sehat. Kisah Mbah Suparni cukup menarik untuk disimak. Bahkan menjadi teladan generasi muda sekarang.

Mbah Suparni tidak pernah mengeluh dan tak mau mengeluh dengan keadaannya. meski telah renta, daya tahan tubuh Mbah Suparni bisa dibilang luar biasa untuk orang seumurannya. Penglihatan dan pendengarannya tak banyak gangguan. Diajak ngobrol pun tetap “nyambung”. Tubuhnya juga masih mumpuni untuk mengerjakan semua hal dan kebutuhan sehari-hari. Termasuk dalam urusan mencukupi nafkah hidup.

Tangan Mbah Suparni seolah tidak pernah berhenti, cekatan mengerjakan apa saja. Seperti kemarin (5/7), dia tampak sibuk membuat tali tambang dari daun pandan (tampar). Saat tak membuat tampar, Mbah Suparni jualan jamu tradisional dan kain selendang keliling desa.

“Damel tampar ngeten niki namung kangge samben, awan kula ider sandangan kalian jamu (membuat tali hanya kerja sambilan, siang saya jualan keliling, Red),” ucapnya.

Seolah tidak ada sedikit pun waktu untuk bermalas-malasan. Selesai jualan jamu Mbah Suparni kembali sibuk memilin tali tampar, yang dalam istilah warga Kulonprogo disebut ngleles. Malam harinya masih memilin tali untuk ngecrek (memilin tali menjadi bentuk yang lebih besar, Red).

Tali tampar siap pakai kemudian disetorkan kepada pengepul untuk bahan baku kerajinan tas dan sejenisnya. Dia mendapat upah Rp 7 ribu per kilogramnya. Setiap hari, Mbah Suparni mampu membuat tali tampar sepanjang 20 meter. Atau setara dengan satu kilogram bahan. Suparni memang tak ingat pasti kapan tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya.

Tapi, dia meyakini saat ini berumur 117 tahun. Menurutnya, itu berdasarkan dokumen kependudukan miliknya, seperti kartu tanda penduduk (KTP) maupun kartu keluarga. Meski dokumen tersebut tak dipegangnya sendiri.

“Adik kulo sing ngopeni surat-surat (identitas kependudukan/kelahiran). Dulu sewaktu pindah dari Purworejo ke Kulonprogo, surat-surat itu tidak saya bawa ke sini,” jelasnya.

Suparni mengaku lahir di daerah Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dia adalah anak sulung dari 9 bersaudara di era penjajahan Belanda dan Jepang. Pindah ke Kulonprogo sekitar 1945 setelah menikah dengan Karto Pawiro. Dari pernikahannya, Mbah Suparni dikaruniai dua anak, Tukiyem dan Bambung alias Tukino.

Sayangnya, sang suami kemudian pergi meninggalkan Suparni beserta dua anaknya pada 1965 untuk merantau ke Metro (Lampung). Di tanah rantau, lanjut Suparni, suaminya menikah lagi dengan perempuan setempat. Namun Suparni tak mau dicerai.

Baginya, perceraian itu hanya disebabkan oleh kematian. “Pernah ada orang Wates mau meminang saya. Tapi saya tolak karena tak mau berumah tangga lagi. Saya hanya ingin mengurus anak,” ucapnya bijak.
Tak mendapat nafkah dari suami tam lantas membuatnya putus asa. Dia terus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Mbah Suparni sebetulnya tidak hidup sendiri. Kedua anak, keempat cucu, serta enam buyutnya tinggal tidak jauh dari kediamannya. Namun hal itu tidak membuat Mbah Suparni manja di hari tua. Setidaknya, dia memilih tinggal sendiri di samping rumah anak tertua. Menempati gubuk kayu berukuran 2 x 3 meter persegi. Di tempat itulah dia tidur dan beraktivitas setiap hari.

Mbah Suparni sengaja memilih tinggal di gubuk tanpa pintu itu sendirian karena ingin mandiri dan tak mau merepotkan orang lain. Termasuk anak maupun cucunya. Di dalam gubuk hanya ada meja dan dipan (tempat tidur) kayu usang. Hanya sebuah radio yang menyiarkan tembang-tembang Jawa menjadi hiburan Suparni.

“Saya lebih senang tinggal di gubuk karena hawanya lebih sejuk. Saya tidak pernah sakit meski tidur di tempat begini,” tuturnya.

Bagi Mbah Suparni, bekerja adalah hal utama. Namun sebaiknya tidak terlalu dipaksakan. Demi menjaga tubuh tetap sehat.
“Sing baku kui pikiran kudu tetep waras. Dedonga marang Gusti lan ojo dadi wong sing pekok. (Yang penting pikiran harus tetap sehat. Selalu ingat Tuhan dan jangan jadi orang yang keras kepala dan menyimpang dari aturan,red),” ujarnya.

“Urip kudu semeleh. Nek pikiran enak lan anteng, golek pangan ya gampang (hidup haru apa adanya. Pikiran enak dan enteng, cari makan gampang, Red). Jangan keras kepala karena itu yang mengurangi kecerdasan,” lanjut Mbah Suparni.

Prinsip hidup Mbah Suparni ini ternyata juga tidak hanya mengisnpirasi dan diikuti anak cucunya saja. Tetangga sekitar yang dekat dengan Suparni pun banyak yang salut dengan semangat dan gaya hidupnya yang sederhana.

Satu kunci yang sempat tersimak meluas yakni hidup Mbah Suparni yang selalu menerima segala atau apa saja pemberian Tuhan (Narimo ing Pandum dalam istilah Jawa).

Apa yang membuat Mbah Suparni bisa tetap sehat dan panjang umur? Menjawab pertanyaan itu dia mengaku tidak memiliki resep khusus. Kecuali rutin mengonsumsi jamu tradisional racikan sendiri.

Soal makanan, Mbah Suparni pun tak pilih-pilih. Hanya, dia lebih suka sayur mayur. Menurutnya, apa yang dikonsumsinya bukan resep dari dokter. Tapi karena lebih mudah dicerna orang tua.

Buyut Suparni, Firdana Dandy, 19,  mengungkapkan, neneknya memang tidak pernah merepotkan anak dan cucunya. Bagi keluarga, Mbah Suparni adalah bara semangat bagi anak dan cucu dalam menjalani hidup wajar dan apa adanya.

“Simbah memang begitu, tidak pernah membuat anak cucunya kerepotan. Dulu sempat dibuatkan kamar tapi beliau memilih berkativitas di luar, beliau juga tidak pernah sakit parah sampai sekarang usianya sudah satu abad lebih,” ungkapnya.

Melihat angka umur Mbah Suparni, layak kiranya dia disandingkan dengan deretan manusia-manusia tertua di dunia. Puan Ahmad asal Malaysia (121 tahun). Ada pula Emma Morano dari Italia (117) dan Sakari Momoi asal Jepang (112 ).

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia