Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
kulonprogo

Astaga, Angka Kematian Ibu di Kulonprogo Naik Signifikan

Senin, 03 Apr 2017 14:46

Astaga, Angka Kematian Ibu di Kulonprogo Naik Signifikan

RADARJOGJA.CO.ID – Angka Kematian Ibu (AKI) di Kulonprogo naik pada 2016. Hal itu membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mengoptimalisasi berbagai program terkait layanan ibu hamil untuk menekan jumlah kasus kematian ibu hamil.

Data Dinkes Kulonprogo menyebutkan, pada 2016 AKI mencapai 136,98 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH), meningkat signifikan dibanding 2015 yang tercatat 38,22 per 100.000 KH.

”Jika dijabarkan dalam data absolut, jumlah kematian ibu sepanjang 2016 mencapai tujuh kasus, sedangkan tahun sebelumnya hanya dua kasus,” kata Kepala Dinkes Kulonprogo Bambang Haryatno, Jumat (31/3).

Jumlah kasus ibu hamil berisiko tinggi memang cukup tinggi di Kulonprogo. Kondisi itu yang kemudian berpengaruh terhadap AKI. Jika dilihat tren kematian, kasus kematian ibu sebelum 2010 cenderung lebih banyak dipicu pendarahan langsung. Namun penyebab kematian ibu semakin kompleks dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari adanya penyakit kronis hingga masalah sosial.

”Fluktuatif sebetulnya, datanya masih bisa naik-turun. Kecenderungan kasusnya juga bergeser, sehingga kita memang harus bekerja keras untuk memantau proses kelahiran dengan menemukan kasus risiko tinggi sedini mungkin,” ujar Bambang Haryatno.

Sebelumnya, program Menuju Persalinan Sehat (MPS) online dinilai efektif untuk menekan AKI. Koordinasi terpadu dilakukan secara cepat untuk menangani kejadian darurat. Kendati demikian, masih banyak ibu hamil berisiko tinggi yang belum terdeteksi sejak dini.

Kondisi itu lalu coba diatasi dengan menerapkan layanan SMS gateway dengan mengerahkan kader kesehatan di tingkat desa. Mereka diminta segera melapor apabila menemukan ibu hamil berisiko tinggi. Setiap informasi terbaru bakal langsung diterima berbagai pihak terkait sehingga mempercepat langkah tindak lanjut.

”Saya berharap masyarakat lebih proaktif. Setiap ibu hamil setidaknya harus memeriksakan diri ke dokter satu kali untuk mendapatkan Ante Natal Care (ANC) terpadu berkualitas,” kata Bambang Haryatno.

Layanan itu akan lebih maksimal jika dilakukan pada trimester pertama karena merupakan bagian dari upaya deteksi dini. Ada macam-macam penyakit dan bidan tidak bisa mendeteksinya karena keterbatasan alat lainnya.

”Jadi harus tetap diperiksa dokter minimal sekali,” kata Bambang Haryatno.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates Lies Indriyati menyatakan pihaknya siap berkontribusi dalam upaya menurunkan AKI di Kulonprogo. Pelayanan obstetric dan neonatal emergensi komperehensif (Ponek) selalu siaga 24 jam.

”Nanti di gedung baru juga ada ICU untuk bayi sebanyak 10 bed,” kata Lies Indriyati. (tom/iwa/mar)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia