Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
Jogja Utama

Memberantas Korupsi dengan Jihad

Kamis, 23 Mar 2017 10:51

Memberantas Korupsi dengan Jihad

Abdullah Hehamuha (tengah) saat seminar bedah bukunya (Pasca Sarjana UMM for Jawa Pos Radar Jogja)

JOGJA – Korupsi seolah-olah sudah menjadi budaya bagi bangsa Indonesia. Mulai dari pejabat negara sampai pada pegawai tingkat rendah, sudah menjadi actor korupsi.

Dalam bukunya ‘Jihad Memberantas Korupsi’, karya mantan penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamuha mengatakan, korupsi sudah memasuki semua lini kehidupan masyarakat di Indonesia. ‘’Kalangan intelektual merupakan penyumbang kasus korupsi terbesar di tanah air,’’ katanya pada bedah buku bertajuk ‘Jihad Dalam Memberantas Korupsi’, di ruang siding lantai 4, Gedung Pasca Sarjana Universtas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (21/3).

Menurut Hehamuha, mereka yang ketika menjadi akademisi berjuang melawan korupsi, namun ketika menjadi pejabat justru melakukan korupsi. ‘’Karena itu, bila selama menjadi mahasiswa menyerukan berantas korupsi, maka sikap itu harus tetap dijaga secara konsisten ketika menjadi pejabat ataupun setelah lepas dari kampus,’’ katanya.

Seminar dan bedah buku ini memberikan kesempatan partisipasi aktif kepada seluruh Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk  turut memberikan kontribusi dalam pemberantasan korupsi.

Kegiatan bedah buku yang berkaitan dengan pemberantasan korupsi di Indonesia diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai positif yang terdapat dalam buku tersebut. Dari segi akademisi, semoga bisa menambah kualitas lulusan Magister Hubungan Internasional yang tidak hanya kompeten dalam segi akademisi namun juga praktek,” ungkap Ahmad Sahide selaku ketua penanggung jawab acara Bedah Buku.

Lebih jauh, Hehamuha mengatakan, pemberantasan korupsi melalui jihad merupakan salah ssatu solusi, “Karena hanya dengan sikap konsisten dan terus menerus, praktek rasuah ini bisa diberantas”.

Pria kelahiran Saparua ini juga memberikan nasehatnya,  agar memberikan hukuman secara moril kepada mereka yang terkait dengan kasus korupsi. “tinggalkan dan jauhi teman kalian yang teriindikasi korupsi, begitupun juga dengan acara – acara yang didalamnya terdapat indikasi korupsi,” tegasnya.

Sikap itu perlu diambil, mengingat banyaknya pelaku korupsi dan keluarga yang masih bisa bergerak bebas, meski  status tahanan melekat. Pencegahan dan pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan secara sepihak. ‘’Kerjasama seluruh penegak hukum dan pengendalian diri atas setiap tindakan korupsi cara yang terbaik menghadapi kejahatan rasuah,’’ katanya. (*/mik)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia