Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
Jogja Utama

Anak di Bawah Umur Jadi Pemandu Karaoke

Selasa, 06 Sep 2016 13:24

Anak di Bawah Umur Jadi Pemandu Karaoke

()

BANTUL – Dugaan praktik prostitusi di pesisir Pantai Selatan yang melibatkan anak di bawah umur bukan isapan jempol belaka. Dalam penggerebekan yang dilakukan jajaran Polres  Bantul di tempat hiburan karaoke di kawasan Pantai Parangkusumo Jumat (2/9) lalu, diamankan dua pemandu karaoke. Mirisnya, keduanya masih di bawah umur

Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo mengungkapkan, penggerebekan dilakukan di tempat karaoke milik Em. Dari lokasi itu, ter dapat dua pemandu karaoke, We dan Eh. Keduanya berusia 17 tahun berasal dari Magelang dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Anggaito menuturkan, penggerebekan itu tak lepas dari informasi yang berkembang di tengah masyarakat. Ada kabar tersiar bahwa salah satu tempat karaoke di Pantai Parangkusumo mempekerjakan anak di bawah umur.

”Setelah kami lakukan penyelidikan, ternyata tempat Nyonya Em memang benar ada (mempekerjakan anak di bawah umur),” ungkapnya, kemarin (4/9).

Anggaito memastikan kedua anak yang masih di bawah umur ini bekerja sebagai pemandu karaoke. Bahkan, keduanya telah bekerja sejak setahun lalu. Mirisnya lagi, keduanya juga bersedia diajak kencan oleh pria hidung belang.

”Informasinya begitu. Tapi, kami belum menemukan bukti,” ucapnya.

Hingga kemarin petang, kepo-lisian belum menetapkan tersangka dalam perkara ini. Em selaku pemilik tempat hiburan baru akan dipanggil untuk menjalani pemeriksaan hari ini.

”Masih kami kembangkan terus,” tandasnya.

Dari catatan Radar Jogja, kejadian serupa juga pernah terjadi. Polres Bantul juga pernah mengamankan anak di bawah umur dari lokasi hiburan karaoke pada Juni lalu. Anak perempuan yang diperkirakan usianya sekitar 16 tahun itu terjaring razia tim gabungan.

Diduga bocah perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah ini juga bekerja sebagai pemandu karaoke di Kawasan Pantai Parang kusumo. Anak di bawah umur ini lantas diserahkan ke Dinas Sosial DIJ.

Terpisah, Direktur Rifka  Annisa Suharti mengapresiasi kinerja kepolisian. Sebab, membongkar praktik eksploitasi anak bukan perkara gampang. Apalagi, membongkar praktik mempekerjakan anak di bawah umur dalam dunia esek-esek.

”Karena sangat rapat, sehingga jika berhasil membongkar praktik itu patut diapresiasi,” tuturnya.

Harti, sapaannya, mengatakan, praktik prostitusi belakangan ini sangat terselubung. Tidak seperti satu dekade lalu. Tertutupnya praktik ini lantaran para pelakunya memanfaatkan kecanggihan gadget untuk berkomunikasi dengan kliennya. Karena itu, dia mengingatkan masyarakat turut ambil bagian dalam melakukan pengawasan.

”Bila mendapati informasi,  masyarakat harus segera melapor,” pintanya.

Harti menambahkan, lemba-ganya pernah menangani per kara eksploitasi anak. Parahnya, be-berapa anak yang ditangani ini juga bekerja di tempat hiburan di kawasan Pantai Parang kusumo.

”Penanganannya masih berjalan,” ungkapnya tanpa menyebut be-rapa anak yang menjadi korban eksploitasi ini. (zam/ila/ong)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia