Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
Hiburan dan Budaya

Warna-warni Seni di DIJ

Rabu, 17 Aug 2016 11:29

Warna-warni Seni di DIJ

()

JOGJA - Jogjakarta sebagai kota pendidikan, selalu menjadi jujukan para pelajar daerah. Identitas kedaerahan yang melekat justu mampu menguatkan keistimewaan Jogjakarta. Julukan Jogjakarta Indonesia Mini berangkat dari peran pelajar daerah mengisi warna-warni seni di DIJ.

Salah satu kelompok seni yang cukup mencolok adalah Behind The Scene Theatre (Betha). Kelompok seni yang didirikan para pelajar daerah ini anggotanya multisuku. Dalam setiap penampilannya selalu menunjukkan kebhinekaan.

”Anggota berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Lombok, Kalimantan, Madura, Palu, Tulungagung, Sumatera hingga Jogjakarta sendiri,” kata salah seorang pendirinya Roci Marciano, kemarin.

Pria kelahiran Pasaman Timur, Sumatera Barat, 6 Maret 1986 ini mengungkapkan, Betha memiliki semangat tinggi dalam seni. Berdiri tahun 2007, Betha selalu mengemas pementasan teater dengan cara yang brilian. Termasuk memadukan beragam kebudayaan Indonesia.

Seperti belum lama ini mereka menggarap naskah Sri Murtono yang berjudul Genderang Barata Yudha. Kolaborasi multisuku tidak hanya dari pemain. Garapannya juga terjadi kolaborasi, baik dari sisi kostum, gending hingga aksen pelafalan naskah.

”Kami selalu menanamkan konsep bumi dipijak di situ langit dijunjung. Esensial Jogjakarta tetap ada, tapi kami kolaborasikan dengan kultur masing-masing pemain,” ujarnya.
Alumnus Jurusan Teater ISI Jogjakarta ini mengungkapkan, ada pegangan khusus dalam membawa kultur masing-masing. Para penggawanya tidak mengemas dalam kultur daerah murni. Namun dikemas sebagai sisipan yang kesannya lebih universal.

Roci menilai, cara ini lebih efektif untuk mengenalkan kultur nusantara. Alasannya tidak semua penikmat pertunjukan mengetahui secara detail identitas daerah. Dalam hal ini pengucapan bahasa daerah sebagai pengantar pertunjukan.

Pengenalan keindahan seni budaya nusantara dikemas melalui kostum dan logat bahasa. Seperti penggunaan baju adat Sumatera dalam pementasan, logat Kalimantan dalam naskah. Hingga mengusung gerak tari Jawa Barat dalam olah gerak tubuh.

”Sebagai contoh kita ambil logat-logat yang sering dipertontonkan di televisi. Jadi penonton masih bisa memahami apa yang kita ucapkan dan tampilkan,” ungkapnya.

Aksi para seniman lintas suku ini juga tercatat dalam lakon Karma di Ladang Kurusetra. Lakon yang disutradarai Rano Sumarno ini mengkombinasikan banyak kesenian daerah. Olah gerak tubuh mengadaptasi Ronggeng Gunung dari Jawa Barat dan kostum ketoprak gaya Jogjakarta.

Para penggawa Betha juga pernah menampilkan seni gaya Jogjakarta. Ini terangkum dalam lakon Pak Dalang yang dipentaskan medio 2011-2012. Naskah ini menceritakan sosok dalang dari Wonosari Gunungkidul.

”Tidak pernah ada kendala dalam setiap pementasannya. Justru kami bisa menikmati pola pementasan ini. Warga Jogjakarta juga terbuka dan hangat menyambut kesenian budaya daerah lainnya,” kata Roci.

Roci menilai Jogjakarta kota yang ideal untuk belajar seni. Dia sependapat dengan seniman lainnya, bahwa Jogjakarta merupakan kawah candradimuka. Memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya setiap seniman. (dwi/ila/ong)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia