Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
Hiburan dan Budaya

RUN: Embracing Diversity, Nasirun Berkarya di Bodi-Bodi Mobil

Tahun Depan, Khusus Mercedez Benz Diboyong ke Miami AS

Selasa, 31 May 2016 10:17

RUN: Embracing Diversity, Nasirun Berkarya di Bodi-Bodi Mobil

Sebagian mobil yang dijadikan media lukis oleh perupa Nasirun yang dipamerkan di halaman Sportorium UMY hingga 2 Juni mendatang (ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA/JPGM)

Perupa Nasirun kembali dengan karya fenomenalnya. Karyanya spesial bertajuk RUN: Embracing Diversity dipamerkan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Apa istimewanya?

DWI AGUS, Bantul

YA, puluhan mobil klasik hingga sport terbaru terparkir rapi di halaman Sportoirum UMY. Tak sekadar diparkir. Deretan mobil-mobil berkelas ini juga sebuah karya seni. Seluruh bodi mobil-mobil ini ditutup dengan lukisan berkualitas, eksklusif dengan ber-bagai motif.

Adalah Nasirun sosok di balik keindahan lukisan-lukisan ini. Dia menjadikan mobil yang awalnya hanya sebagai kendaraan be-rubah menjadi media untuk berkarya.  Mayoritas mobil-mobil ini tertutup goresan-goresan kuas. Kecuali di bagian kaca dan ban. ”Saya ingin memiliki media yang berbeda untuk berkarya sebagi wujud eksplorasi dan mengembangkan diri,’’ kata Nasirun dalam pembukaan pameran Minggu malam (30/5).

Baginya, tantangan mengerjakan karya fenomenal ini adalah proses penggarapan yang rumit dan butuh waktu lama.  Dan dia mengibaratkan pameran tunggalnya kali ini sebagai pameran kolosal. Terlebih inilah pameran pertama dengan konsep seperti ini.

Lewat karyanya ini, Nasirun mencerita-kan perjalanan berkaryanya Untuk karya ini pria kelahiran Cilacap 1 Oktober 1965 memang tidak setengah-setengah. Total ada 26 mobil yang dia lukis meng-gunakan cat minyak. Tidak ha-nya goresan khas Nasirun, dia juga bermain goresan abtsrak.

Selain itu, banyak cerita di ba-lik pengerjaan karya-karya ini. Suatu ketika dia ingin mengeks-plor seluruh bagian mobil.  Ternyata si pemilik mobil yang akan dia garap tidak menghenda-ki hal ini. Akhirnya kaca mobil masih dibiarkan bening tanpa goresan cat sedikitpun.

”Ada lagi saya disuruh merespons mobil Mercy. Padahal saya sen-diri belum pernah punya mobil kayak gini. Akhirnya untuk  mobil diawali dari mobil VW dulu baru yang lainnya,” kata Nasirun  lantas tertawa.

Penyelenggaraan pameran ini tak lepas dari sosok bernama Agung Tobing. Dia adalah kolektor karya seni yang sangat mengaggumi Nasirun. Sejak 1996 hingga saat ini tak terhitung karya Nasirun yang menjadi koleksinya.

Nah, dalam sebuah perbin-cangan santai Nasirun mengaku ide ini karya ini berawal dari gerobak sapi. Kala itu dia pernah merespon sebuah gerobak sapi pada 2014. Aksi ini lantas dilirik Agung Tobing kemudian dibeli.

”Setelah itu dia meminta saya merespons mobil-mobil koleksi-nya,” ungkap Nasirun.

Ya, dalam pameran ini seluruh karya yang dipamerkan meru-pakan koleksi Agung Tobing. Termasuk mobil-mobil yang dilukis dan direspons Nasirun.

Aksi ini ternyata tak hanya men-curi publik seni. Pabrikan mobil Jerman Mercedes Benz juga melirik pameran ini. Terlebih mayoritas mobil-mobil yang dipamerkan memang merk  Mercedes Benz.

Menurut Agung, sejumlah mo-bil akan diboyong ke Art Miami Amerika Serikat untuk dipamer-kan di sana tahun depan. Ke-sempatan itu bermula dari ke-hadiran tamu dari Jerman yang ternyata perwakilan dari  Mercedes Benz. Lalu diajak un-tuk ikut memamerkan karya ini di Art Miami.

”Ini sebuah  kebanggan bagi saya dan  Nasirun. Sebab, itu adalah even seni  dunia,” jelasnya.

”Melihat tajuk pameran RUN: Embracing Diversity memiliki dua makna. Pertama sebagai panggilan karib sang seniman Run, Nasirun. Atau juga bisa dibaca dalam konteks Bahasa Inggris run atau berlari,” kata kurator Suwarno Wisetrotomo.

Pameran ini memang layak disebut kolosal. Karya- karya yang dipamerkan memang ter-golong besar. Untuk lukisan kanvas, Nasirun menghadirkan 10 lukisan dengan ukuran raksa-sa. Mulai dari ukuran 3 x 24 meter, 3 x 20 meter, 3 x 16 meter, dan terkecil 3 x 12 meter.

Ma-terial lain yang menjadi artifak karya seni adalah duplikat se-peda motor Harley Davidson yang terbuat dari kayu.Dia juga memanfaatkan bekas perahu kayu kano. Sebanyak 13 perahu dilukis dengan artistic. Adapula 43 karya patung kuda kayu hingga 110 helm tentara yang digunakan pada perang dunia I dan II. (din/ong)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia