Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
Hiburan dan Budaya

Andrew Darwis Awali Bisnis Startup dengan Serius

Kamis, 12 May 2016 13:23

Andrew Darwis Awali Bisnis Startup dengan Serius

PEBISNIS MUDA: Andrew Darwis (kanan) saat menceritakan kisahnya di Auditorium Fisipol UPN Veteran Jogjakarta. (DWI AGUS/Radar Jogja?JawaPos.com)

Siapa yang tak tahu Kaskus? Situs komunitas di dunia maya yang digandrungi anak muda Indonesia. Kaskus awalnya didirikan oleh Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata karena rasa rindu mereka terhadap Indonesia ketika keduanya merantau ke Amerika Serikat. Kini, kisahnya pun diangkat dalam layar lebar.

KASKUS sebagai bisnis digital yang diawali dari nol sendiri mengalami dinamika yang besar. Berawal dari penggunaan sebatas pertemanan hingga menjadi segmen yang sangat luas. Pendiri Kaskus Andrew Darwis menjelaskan, berdirinya Kaskus sendiri berawal dari kerinduan pada Indonesia.

Kala itu Kaskus didirikan untuk memantau keadaan di Indonesia. Maklum saja, karena Andrew dan Ken Dean Lawadinata sedang menimba ilmu di Seattle, Amerika Serikat. Tidak memiliki kemampuan sebagai jurnalis, Kaskus akhirnya mengandalkan user-nya sebagai penyampai berita di tanah air.

”Jadi memang memancing keaktifan dari user Kaskus itu sendiri. Kami hanya mewadahi mereka dengan Kaskus. User yang aktif mengunggah informasi, sementara kami menjaga agar server tetap standby selama 24 jam,” jelasnya.

Andrew menilai, bisnis startup di Indonesia merupakan potensi yang besar. Namun, perlu konsistensi dari pendiri untuk mempertahankan startup yang dibangunnya. Selain itu, dia juga berharap agar pemerintah ikut andil dalam bisnis rintisan digital.

Menurutnya, membangun startup tidaklah mudah. Terlebih saat ini pengguna internet sangatlah dinamis. Banyaknya aplikasi dan media sosial sangat memungkinkan untuk berpindah. Sehingga setiap pemilik startup harus kreatif dan aktif melihat dinamika ini.

”Kaskus bisa bertahan selama 17 tahun sejak 1999. Sudah banyak dinamika yang kami temui selama berdiri. Pasti ada pasang surut dalam sebuah bisnis. Jadi harus peka dan benar-benar mengetahui apa yang diinginkan pengguna internet,” kata Andrew saat promo film Sundul Gan: The Story of Kaskus di Auditorium Fisipol UPN Veteran Jogjakarta, Selasa (10/5) lalu.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah pemerintah dengan kebijakannya. Menurutnya, keinginan pemerintah untuk menerapkan pajak pada bisnis startup tidak tepat. Andrew menilai, kebijakan ini justru akan menghambat perkembangan bisnis startup ke depannya.

Pertimbangan yang perlu diperhitungkan adalah perlunya dorongan agar rintisan ini berkembang. Jika dari awal sudah ditekan dengan pajak maka startup sulit bernapas. Alhasil, umur dari bisnis digital ini bisa dipastikan tidak berumur lama.

”Idealnya untuk menggodok kebijakan ini menggandeng pelaku startup. Masalahnya, selama ini pembahasan yang melibatkan pelaku startup tidak intens. Sehingga masih ada hal yang kurang cocok jika peraturan disahkan,” katanya.

Sementara itu, kisah perjuangan pendiri Kaskus ini terangkum dalam film berjudul Sundul Gan: The Story of Kaskus. Film karya sutradara muda Naya Anindita ini resmi diputar 2 Juni mendatang. Makin mendekatkan diri dengan penggemar Kaskus yang kebanyakan anak muda, film ini pun ditampilkan dalam genre drama komedi.

Sang sutradara Naya mengaku tertantang untuk menghadirkan Kaskus ke dalam layar lebar. Menurutnya, Kaskus merupakan sebuah fenomena yang sangat identikal di Indonesia. Di tengah persaingan bisnis startup luar negeri, Kaskus dapat bertahan dengan ragam dinamika yang terjadi.

”Saya melihat perjuangan keduanya tidak mudah untuk sampai di titik ini. Sembilan belas tahun bertahan dan membangun Kaskus hingga dikenal di luar negeri. Bukti bahwa perjuangan untuk sukses tidak instan dan perlu diperjuangan,” jelas Naya. (ila)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia