Senin, 22 Jan 2018
radarjogja
Jogja Utama

Lima Tersangka Pencabulan Ditangkap

Salah Satu Pelaku Guru Olahraga

Rabu, 11 May 2016 12:10

Lima Tersangka Pencabulan Ditangkap

Grafis Gadis Diperkosa (Herpri/Radar Jogja/JawaPos.com)

SLEMAN - Kasus pencabulan dengan korban anak di bawah umur tampaknya menjadi fenomena yang harus disikapi dan ditindak dengan tegas. Di DIJ kasus pencabulan kembali terjadi. 

Kali ini menimpa dua bocah yakni Z, 14 dan L, 15. Pelakunya adalah Bambang Eko Yuli (BEY), 30; Bagus Suryo (BS), 20; S, 17; A, 16; dan W, 17. Yang memprihatinkan lagi, salah satu pelakunya adalah seorang guru olahraga di sebuah sekolah dasar di kawasan Jaten, Ngemplak, Sleman.

Kapolres Sleman AKBP Yuliyanto mengatakan, perbuatan pencabulan tersebut dilakukan lima orang beramai-ramai di kediaman kakek tersangka BS di Argomulyo, Cangkringan, Sleman pada 7 dan 11 April 2016 lalu. Sebelum dicabuli, korban lebih dulu dicekoki minuman keras. 

Setelah korban mabuk, mereka lalu bergantian mencabuli korbannya. ”Pelaku sudah ditangkap 27 April lalu,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (10/5). 

Yuliyanto menjelaskan, dari pengakuan tersangka sebelumnya mereka tidak saling kenal. Lalu bertemu di jalan, kemudian diajak ke rumah salah satu tersangka. 

”Menurut keterangan tersangka, mereka suka sama suka. Namun, saat pertama kali kejadian kedua korban dicekoki minuman keras,” katanya.

Di tempat terpisah, Kasatreskrim Polres Sleman AKP Sepuh Siregar menambahkan, kedua korban saat ini sehari-hari tinggal di Panti Sosial Bimomartani, Ngemplak. Keduanya dititipkan di tempat itu sesuai keputusan keluarga.

”Salah satunya pelajar SMP, sedangkan satunya sudah putus sekolah,” ujarnya.

Dia menambahkan, dua tersangka yakni BEY dan BS ditahan di Polres Sleman. Sementara tiga lainnya dibina di Panti Sosial Bina Remaja Sleman karena masih di bawah umur. 

Tersangka BEY saat diperiksa penyidik mengungkapkan, bahwa dua korban melepas pakaian mereka sendiri dengan sadar. Bahkan salah satu korban sempat meminta sejumlah uang pada tersangka setelah selesai melakukan hubungan. 

”Baru pertama kali bertemu karena diajak teman-teman. Sempat meminta uang, tapi belum saya kasih keburu dimarahi ibu teman saya, terus langsung pergi,” ungkap BEY di Unit PPA Polres Sleman, kemarin (10/5).

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 81 dan 82 Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Pencabulan. Ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. 

Terpisah, Psikolog Ega Asnatasia Maharani, MPsi, Psi menilai kasus kekerasan seksual pada anak perlu penanganan secara serius. Terutama peran orang tua maupun psikolog pendamping dalam menghadapi trauma yang dialami anak. 

Ega, sapaanya, berharap pendampingan terhadap korban dijalankan secara intesif. Namun untuk melakukan pendampingan tidak bisa dijalankan begitu saja. Sebab, pendampingan dan penanganan yang keliru justru dapat memperparah keadaan psikologi si anak.

”Perlu melihat juga dampak bagi si anak seperti apa. Jangan sampai justru orang tua atau pendamping berlebihan menghadapi anak. Sehingga malah memperbesar trauma anak kalau penanganan tidak tepat,” ungkapnya.

Untuk melakukan pendampingan perlu tenaga professional atau psikoterapi. Pendampingan ini bisa dilakukan oleh seorang psikolog maupun psikiater. Selanjutnya untuk trauma healing akan dilakukan secara bertahap. 

Diawali dengan menilai dan melihat sejauh mana trauma yang dihadapi anak. Dilanjutkan dengan intervensi agar anak bisa berdamai dengan peristiwa tidak menyenangkan yang pernah dialaminya. 

”Dalam tahapan ini peran orang tua harus pas, termasuk tidak bertindak over acting selama proses trauma healing,” ungkapnya.(riz/bhn/ila)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia