Sabtu, 24 Feb 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Destinasi Wisata Bertambah Menjadi 83 Lokasi

Selasa, 13 Feb 2018 04:45 | editor : Dzikri Abdi Setia

geliat wisata daerah, radar jember,

SWADAYA: Sejumlah wisata di Jember yang banyak bermunculan saat ini merupakan hasil dari gotong royong masyarakat. (Jumai/Radar Jember)

Potensi wisata kini menjadi geliat baru yang dikembangkan oleh berbagai kalangan. Tak hanya para pemodal, masyarakat desa juga melihat potensi tersebut. Warga desa mulai berbondong-bondong membuat destinasi wisata. 

Tahun 2012 lalu, jumlah destinasi wisata hanya sekitar 30 lokasi. Namun, pada 2018 ini, jumlahnya bertambah hampir tiga kali lipat. “Sekarang Jember sudah punya 83 destinasi wisata yang aktif,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember Arief Tyahyono.

Menurut dia, jumlah tersebut belum termasuk wisata yang masih pasif. Sebab, masih ada beberapa wisata yang perlu terus dikembangkan menjadi lebih baik. “Meningkatnya jumlah tempat wisata ini  berimbas pada tingkat kunjungan,” jelasnya.

Tahun 2012, lanjut pria yang akrab disapa Arief tersebut,  jumlah kunjungan wisatawan sekitar  700 ribu dalam setahun. Namun, pada 2016 meningkat drastis mencapai 1,4 juta kunjungan wisatawan. “Tahun 2017 sudah mencapai 2,3 juta kunjungan. Kenaikannya hampir 30 persen,” ungkapnya. 

Pada 2018 ini, Disparbud Jember menargetkan jumlah kunjungan wisata mencapai 2,5 juta.  Pihaknya juga mendorong semua elemen agar bersatu dalam memajukan pariwisata Jember. “Ini juga berimbas pada pendapatan asli daerah,” terangnya. 

Tahun  2012, tambah dia, PAD Jember dari sektor pariwisata baru mencapai Rp 8 miliar. Kemudian, nilai PAD tahun 2016 bertambah menjadi  Rp 16 miliar. Tahun 2017 itu sudah sekitar Rp 20 miliar. “Ini hanya dari sektor paraiwisata,” tegasnya.  

Padahal, imbuh Arief, sektor wisata hanya dari  pajak hotel, restoran, retribusi. Selain itu, nilai pemasukan yang dihitung hanyalah dari sektor formal, belum pemasukan dari sektor informal yang bisa mencapai empat kali lipat dari sektor formal. “Ini yang dihitung hanya fenomena gunung es, sektor informal tidak kita hitung,” terangnya.

Untuk itu, Disparbud gencar mempromosikan wisata dengan melakukan pembinaan pada kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Bahkan, dari jumlah 40 Pokdarwis yang ada, pihak Disparbud kewalahan untuk melakukan pembinaan karena keterbatasan SDM. “Fungsi pemerintah hanya tiga, pembinaan, fasilitasi, dan promosi,” terangnya. 

Tempat wisata yang dikelola oleh pemerintah hanya ada empat, yakni hotel dan kolam renang  kebonagung, wisata rembangan,  pemandian patemon, dan watu ulo. Wisata lain dikelola oleh masyarakat. “Kami membantu  mempromosikan mereka,” tambahnya.

(jr/gus/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia