Senin, 21 May 2018
radarjember
icon featured
Features

Bambang Margono, Pelari Spesialis Tanjakan

Senin, 12 Feb 2018 06:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Runner Jember, Radar Jember,

JELAJAH ALAM: Bambang Margono yang juga inisiator trail running di Jember ini sering memilih jalur ekstrim menuju lokasi wisata untuk berlatih berlari. (Bambang Margono for Radar Jember)

Berlari di track datar tidak menantang bagi Bambang Margono. Dirinya pun beralih menjadi pelari untuk track pegunungan (trail runner). Di sini ternyata dirinya menemukan diri makna hidup sebenarnya. Meskipun usia berkepala empat, membuatnya semakin sering mengikuti berbagai lomba kejurnas lari gunung.

Siang itu, Bambang Margono terlihat sedang bersantai di kantornya yang ada di Jalan PB. Sudirman Jember. Namun, siapa sangka sosoknya yang sama sekali tidak memperlihatkan sebagai seorang pelari. Padahal dia adalah langganan peserta di berbagai kejuaraan nasional trail runner yakni pelari gunung atau alam bebas.

Bahkan tidak jarang dirinya yang bersaing dengan sejumlah pelari alam bebas tingkat nasional dan internasional. Yang paling berkesan yakni dua kejuaraan yakni kejurnas di Surabaya. 

“Sekitar tahun 2015 saya berada di peringkat sembilan,” jelasnya. Yang menarik, saat itu lawannya yang juara satu adalah atlet pelatnas dan juara Sea Games, Agus Prayogo. 

Dia juga sempat tampil di Banyuwangi International Run pada 2017, yang menempatkannya di peringkat lima besar. “Saat itu lawannya ada nama Osias Kamlase,” jelasnya. 

Di sejumlah kejuaraan seperti Ijen Trail Running, Ijen Green Running, May Trail dan sejumlah kejuaraan lain pernah diikutinya. Yang menarik, dirinya selalu mandiri dalam mengikuti kejuaraan ini.

Jadi atlet bukan kebetulan. Pria kelahiran Jember 16 Oktober 1973 ini sejak masih muda menggeluti olahraga voli. “Lari hanya pendukung menjadi pemain voli sekolah,” ucap alumnus SMAN 2 Jember, suami dari Anis Mulyasari ini.

Namun baru intens lari lagi sekitar enam tahun lalu. Saat itu dirinya banyak membaca literasi tentang olahraga yang sehat dan murah, sehingga dirinya memilih lari. Saat pertama lari lagi, dirinya masih jarak-jarak pendek yakni sekitar 3 kilometer. Lambat laun, porsi latihan berlari setiap harinya terus meningkat. Sekarang dirinya harus berlari sekitar 10 kilometer setiap harinya.

Tetapi, berlari di dataran dianggapnya sudah biasa, sehingga dirinya pun mulai mengubah porsi latihannya. “Dari dataran menjadi pelari gunung alam bebas,” jelasnya. Sehingga dirinya pun mencoba track gunung dengan berlari jika memang cuaca mendukung. Yang paling sering, setiap hari berlari pulang pergi dari rumahnya ke wisata Rembangan dan pulangnya lewat Kali Jompo. Dan itu dilakukan dengan berlari.

Dirinya bukan hanya sekadar pelari tanjakan, namun benar-benar alam bebas. Dia sudah biasa menjelajah berbagai lokasi terpencil di Lereng Argopuro. Termasuk lewat Jelbuk, Sukmo Ilang dan juga jalur Kamal Arjasa. Yang terakhir dirinya menemukan air terjun di Batu Ampar yang ada di Rayap dan dinamakannya air terjun Kelok Batu Ampar. 

“Hampir semua air terjun, termasuk air terjun ketujuh di Sumberjambe sudah pernah kami jelajahi,” jelasnya. Selain itu, dirinya juga biasa berlari menjelajah ke sejumlah wisata di Jember dengan berlari. Seperti di Teluk Love Pantai Payangan, Puger, hingga Bandealit.

Untuk menjadi pelari alam bebas bukanlah hal yang mudah karena banyak sekali tantangannya. “Paling sulit mencari rute. Sering kesasar,” ucapnya. Karena memang awalnya dia bukan orang dengan dasar menjelajah layaknya pencinta alam. Bahkan, tidak jarang kehabisan bekal dan air. Mau tidak mau dirinya sering harus mencari sumber air yang ada.

Namun, dirinya sudah mulai paham dengan menandai sekeliling jika bertemu persimpangan atau titik yang perlu diingat. “Kalau nyasar akan berusaha balik ke lokasi semula,” jelasnya. Karena dirinya belum memiliki alat canggih seperti pecinta alam, maka dirinya menggunakan GPS yakni Gunakan Penduduk Setempat. 

Dirinya mengaku sangat ketagihan berlari di alam bebas karena menemukan sesuatu yang bisa membuat hatinya sangat tenteram. “Akan sangat mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan. Kita akan merasa kecil sekali melihat keindahannya,” jelas ayah Inge dan Kethy ini. Sehingga ini akan membuat sifat sombong kita luntur. Selain itu mengenalkan wisata ke masyarakat nasional dan internasional

Yang menarik, karena hobinya yang menjelajah wisata termasuk yang terpencil dan menggugahnya di dunia sosial, dirinya kini mulai dilirik perusahaan. Dirinya mendapatkan endorse merek minuman multinasional. “Jadi harus foto dengan produk itu di lokasi wisata yang dikunjungi, utamanya yang terpencil. Lumayan untuk pengganti minum,” ucapnya tersenyum malu. 

Kini pria yang juga menjadi Ketua Komunitas Jember Trail Running ini juga terus menggalakkan berlari di alam bebas. “Sering mendekati anak-anak yang sedang berlari di alun-alun untuk diajak berlari di alam bebas,” tuturnya. Karena memang manfaatnya cukup bagus. Dirinya mengatakan untuk saat ini sudah ada 10 anak muda yang bergabung dan sering mengeksplore tempat wisata di Jember saat liburan. Sehingga dirinya tidak sendiri lagi jika sedang latihan. 

(jr/ram/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia