Minggu, 25 Feb 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Harga Pangan Kian Melambung

Jumat, 19 Jan 2018 05:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Harga Beras, Disperindag Lumajang, Radar Semeru,

MAKIN MAHAL: Beras curah yang dijual pedagang di Pasar Baru Lumajang harganya terus naik. Kini harga per kilo sudah di atas Rp 9.700. (Qomaruddin Harahap / Rame)

Komoditas pangan holtikultura yang bergantung pada cuaca mulai membawa masalah. Hujan yang terus-menerus dalam tiga bulan terakhir menyebabkan kelangkaan. Akibatnya, harga mulai melonjak dalam sepekan terakhir.

Sebenarnya, alarm kenaikan harga ini sudah dirasakan sejak awal tahun. Namun, betul-betul terasa dalam sepekan ini. Sejumlah pangan yang tersedia di pasaran merangkak perlahan. Bahkan, kenaikan sudah bergerak di angka 3 persen.

Kabid perdagangan Dinas Perdagangan Lumajang Bambang Suryo menguraikan, banyak komoditas yang melonjak drastis. Sepekan lalu masih normal. Tapi pekan ini mulai melesat. 

Dia mencontohkan minyak goreng. Dua pekan lalu normal dengan harga rata-rata 11.400. Pekan ini sudah di atas Rp 11.800. 

Komoditas yang mengalami kenaikan fantastis adalah beras. Beras curah sebelumnya hanya di kisaran Rp 8.500. Sekarang sudah di atas Rp 9.700. Sementara beras mentik medium, dari harga Rp 10 ribuan kini sudah di atas Rp 11.00 per kilogram.

Cabai keriting juga demikian. Dari angka Rp 27 ribu sudah bergerak di atas angka 28.500. “Naik menjadi 3 persen,” ujarnya. Sementara bawang merah dan bawang putih yang sebelumnya pada kisaran harga Rp 15 ribu, kini melesat pada harga Rp 17 ribu untuk bawang merah dan Rp 16 ribu untuk bawang putih.

Bambang mengaku, memang ada banyak faktor kenaikan harga ini. Namun, dia menegaskan rata-rata pangan holtikultura ini mulai terasa kenaikannya karena suplai terganjal musim dan cuaca.

Dia mengakui, Lumajang memang lumbung pangan. Tapi, bulan ini tidak ada panen raya. Sementara engusaha luar daerah mulai mengurangi volume pengirimannya. “Dampaknya ketersediaan mulai berkurang,” ujarnya.

Faktor lain, lanjut dia, adalah cuaca. Sebab, semua jenis tanaman butuh waktu dan dukungan cuaca. Beras misalnya, butuh pengeringan. Tanaman butuh kesuburan. Jika hujan terus dampaknya tentu sangat besar. 

Cabai yang menjadi pasokan petani dari sentra di kawasan Pasirian, Kunir, dan Tekung juga berkurang. Padahal, Lumajang menjadi penyuplai dari kecamatan itu. “Ternyata juga terkendala cuaca,” ungkapnya.

Salah satu solusinya, pihaknya menggelar operasi pasar. “Selama ini memang pernah, tetapi bakal ditingkatkan lagi. sudah lebih dari 15 ton beras dijadikan operasi pasar. Akan kami upayakan operasi pasar terus,” pungkasnya. 

(jr/fid/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia